![]() |
| Tatag Bintara Yudha, Luna Guitarworks |
Tahun 1950-an. Di panggung-panggung Eropa, empat pemuda Indonesia tampil dengan energi luar biasa. Mereka memainkan rock and roll dengan gaya liar. Hauh sebelum The Beatles dan The Rolling Stones lahir. Penonton Eropa terpukau.
Mereka adalah The Tielman Brothers, grup musik asal Nusa Tenggara Timur. Di Belanda, musik mereka disebut Indorock, perpaduan unik antara irama Indonesia dan rock barat. Mereka adalah bukti pertama bahwa anak bangsa bisa mengguncang dunia lewat gitar.
Enam puluh tahun kemudian, seorang pemuda lain melanjutkan jejak itu. Tatag Bintara Yudha, seorang networker yang sedang memilih karir politis di PKB, mendirikan Luna Guitarworks. Bengkel gitar custom yang memproduksi instrumen berkualitas tinggi secara handmade. Jika The Tielman Brothers mendunia lewat permainan gitar, Tatag mendunia lewat pembuatan gitar.
Keduanya adalah dua sisi mata uang yang sama: kebanggaan Indonesia di pentas global.
The Tielman Brothers membuka jalan. Mereka membuktikan, musisi Indonesia tak kalah dari musisi Eropa atau Amerika. Nama Indonesia tercatat dalam sejarah musik dunia sebagai salah satu perintis rock and roll di Belanda. Sayangnya, di negeri sendiri, kisah mereka nyaris terlupakan.
Luna Guitarworks datang untuk mengingatkan kita kembali. Tatag, dengan kesabarannya memproduksi gitar selama dua bulan hingga satu tahun, menunjukkan bahwa kualitas Indonesia bisa bersaing. Gitarnya tak hanya laku di dalam negeri, tapi juga menembus pasar internasional. Sama seperti The Tielman Brothers yang menaklukkan Eropa.
Ada benang merah yang menghubungkan keduanya: keyakinan bahwa Indonesia punya bakat dan kemampuan kelas dunia. The Tielman Brothers membuktikannya dengan musik. Tatag membuktikannya dengan karya tangan. Keduanya lahir dari tanah yang sama, dari bangsa yang sama, dari mimpi yang sama: bahwa Indonesia bisa.
Namun, ada satu perbedaan mencolok. Di era The Tielman Brothers, dukungan pemerintah untuk musisi Indonesia boleh dibilang minim. Mereka sukses lebih karena perjuangan sendiri. Enam puluh tahun kemudian, kita berharap situasinya berubah. Kehadiran Luna Guitarworks mestinya mendapat perhatian serius dari pemerintah.
Bayangkan potensi yang bisa digali. Indonesia punya sumber daya alam (kayu berkualitas), sumber daya manusia (pengrajin handal), warisan budaya (musik nusantara), dan punya bukti sejarah (The Tielman Brothers). Jika semua ini dipadukan dengan dukungan kebijakan yang tepat, bukan mustahil Indonesia menjadi pusat industri gitar dunia.
Tatag, melalui Luna Guitarworks, telah memulainya. Kini giliran pemerintah untuk hadir. Bukan sekadar memberi tepuk tangan, tapi memberi dukungan nyata: kemudahan akses bahan baku, promosi internasional, pendidikan dan pelatihan, serta riset dan pengembangan. Dan bila perlu, individu pejabat yang sudah berada jauh di atas desil 100 ala BPS itu membeli sepuluh gitar Luna.
The Tielman Brothers mengajarkan bahwa Indonesia mampu. Luna Guitarworks membuktikan bahwa kemampuan itu masih hidup. Kini tinggal apakah pemerintah, partai politik, dan masyarakat mau bersama-sama mewujudkannya.
Kita tak boleh terus-menerus hidup dari kejayaan masa lalu. Tapi kita juga tak boleh melupakan pelajaran berharga yang ditinggalkan para pendahulu. The Tielman Brothers adalah pengingat, cahaya Indonesia timur pun bisa membentuk bintang yang bersinar di barat. Luna Guitarworks adalah bukti bahwa api itu tak pernah padam.
Maka, Luna Guitarworks layak dilekati sebagai simbol kebangkitan industri kreatif Indonesia. Dukung produk lokal. Banggakan karya anak bangsa. Dan teruskan mimpi The Tielman Brothers bahwa Indonesia bisa mengguncang dunia, lewat dawai-dawai yang bergetar dengan bangga.
Dari Nusa Tenggara Timur ke panggung Eropa, dari bengkel kecil Tatag ke pasar global, dawai Indonesia terus bergetar, menunggu untuk didengar dunia.
Sudah saatnya kita semua, bersama-sama, memetiknya.*
Ditulis oleh Anom Surya Putra.



Post a Comment