-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Dawai Pemberontakan Luna Guitarworks

Tatag Bintara Yudha, Luna Guitarworks

Sejak 4.000 tahun silam di tanah Babilonia, leluhur gitar telah menjadi alat pemberontakan. Ia adalah suara kaum pinggiran, senjata para penyair jalanan, dan medium protes melawan ketidakadilan. Tradisi itu hidup terus hingga kini.

Dan hari ini, di Indonesia, seorang pemuda melakukan bentuk pemberontakan yang berbeda. Tatag Bintara Yudha, melalui Luna Guitarworks, melawan dominasi gitar impor dengan cara yang elegan: menciptakan gitar berkualitas internasional buatan sendiri.

Selama bertahun-tahun, pasar gitar Indonesia dikuasai merek-merek asing. Fender, Gibson, Yamaha, Ibanez adalah deretan standar yang tak tergoyahkan. Para musisi tanah air berbondong-bondong membeli gitar impor, seringkali dengan harga selangit, sementara potensi gitar lokal terabaikan.

Tatag melihat ironi ini. Ia sadar bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah, pengrajin handal, dan kekayaan budaya yang bisa dituangkan dalam desain gitar. Tapi semua itu belum dimaksimalkan. Maka ia memutuskan untuk memulainya sendiri. Bisnis skala "UMKM" dengan spesifik arena "ekonomi kreatif". 

Luna Guitarworks lahir sebagai bentuk perlawanan. Bukan perlawanan dengan kekerasan atau retorika, tapi dengan karya nyata. Setiap gitar yang diproduksi secara handmade, dengan waktu pengerjaan hingga satu tahun, adalah pernyataan bahwa Indonesia bisa menghasilkan produk setara, bahkan lebih baik, dari gitar impor.

Inilah bentuk pemberontakan modern: melawan ketergantungan pada produk asing dengan menciptakan alternatif lokal yang tak kalah kualitas. Tatag membuktikan bahwa "buatan Indonesia" bukan lagi identik dengan murahan atau second grade. Gitarnya menembus pasar internasional, dimainkan musisi dunia, dan diakui kualitasnya.

Sebagai networker yang dikenal luas di kalangang elit politik Indonesia, Tatag juga menunjukkan bahwa politik bisa menjadi kendaraan untuk perubahan nyata di kalangan pelaku UMKM dan industri kreatif. Ia "bermimpi" menjadi networker yang beralih ke kursi Menteri untuk mencipta nada-kebijakan UMKM dan industri kreatif. Seandainya pergerakan nasib membawanya ke gedung parelemen, maka ia tak cukup sekadar berpidato "omon-omon" di atas panggung. Ia bersumpah (dalam batin) turun ke bengkel, berkeringat, menciptakan sesuatu yang membanggakan bangsa.

Tradisi dawai pemberontak yang dimulai ribuan tahun lalu menemukan bentuk barunya di Luna Guitarworks. Jika dulu pemberontak menggunakan gitar untuk menyanyikan protes, kini pemberontakan dilakukan dengan menciptakan gitarnya sendiri. Jika dulu perlawanan dilakukan lewat lirik, kini perlawanan dilakukan lewat kualitas produk.

Yang lebih membanggakan, Luna Guitarworks meneruskan jejak The Tielman Brothers, grup musik asal Nusa Tenggara Timur yang pada 1950-an mengguncang Eropa dengan Indorock. Mereka adalah bukti pertama bahwa anak bangsa bisa mendunia lewat musik. Kini Tatag melanjutkannya dengan cara berbeda: bukan lewat permainan gitar, tapi lewat pembuatan gitar.

Dawai pemberontakan terus bergetar. Dari Babilonia ke NTT, dari NTT ke Luna Guitarworks. Ia mengajarkan bahwa kemerdekaan sejati adalah ketika kita tak lagi tergantung pada produk bangsa lain. Kebanggaan nasional bukan sekadar slogan, tapi diwujudkan dalam karya nyata.

Maka, ketika musisi dunia memetik gitar buatan Luna Guitarworks, mereka tak hanya memainkan alat musik. Mereka ikut membunyikan pesan diplomatis bahwa Indonesia bangkit, kreatif, dan siap bersaing di panggung global.

Teruslah memberontak, Luna Guitarworks. Dunia mendengarkan.*

Ditulis oleh Anom Surya Putra



Post a Comment

Post a Comment