-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Antara Aku dan Kita: Kacau Balau Identitas Sosial

ARKANA~  Di jantung Kerumunan adalah Neraka, pertarungan paling getir tidak selalu berlangsung di antara manusia dan dedemit, melainkan dalam relasi antara "aku" dan "kita". Pertarungan batin Vanua menjadi titik tumpu dari konflik ini. Ia adalah individu yang cerdas, skeptis, dan idealis, namun kerap terjerat dalam paradoks keinginan akan kebebasan dan rasa rindu pada kebersamaan.

Identitas yang Retak dalam Kerumunan

Vanua pernah berkata dengan getir, "Aku membawa ketakutan, bukan harapan." Kalimat ini mencerminkan luka eksistensial yang dialaminya. Ia merasa dirinya asing di antara orang-orang yang justru pernah ia cintai. Ini adalah gejala dari apa yang disebut sebagai fragmentasi identitas sosial—ketika seseorang tidak lagi merasa menjadi bagian dari kelompoknya, bahkan merasa disalahpahami dan dimusuhi oleh komunitas itu sendiri.

Dalam banyak bagian novel, Vanua digambarkan terombang-ambing antara kerinduan pada kampung halaman dan kehendak untuk menghindarinya. Ia mengkritik masyarakatnya sebagai boneka tak berakal, lalu merasa bersalah atas ucapan itu. Ia pergi, tapi terus-menerus ditarik kembali oleh ingatan dan rasa tanggung jawab. Identitas sosialnya tidak stabil—ia bukan lagi "kami", tapi belum sepenuhnya "aku".

Diri Sebagai Cermin Komunitas

Ketika Bu Ros (Kepala Desa Kampung Tujuh) menyebut Vanua sebagai "cermin", makna itu melampaui kiasan. Dalam psikologi sosial, individu kerap merefleksikan kondisi kolektif di sekitarnya. Ketakutan Vanua adalah resonansi dari ketakutan warga. Ia tidak membawa ketakutan dari luar, melainkan memantulkan apa yang telah lama disembunyikan oleh masyarakat: trauma, rasa bersalah, dan ketidakberdayaan.

Hal ini sejalan dengan teori Jacques Lacan tentang "cermin" sebagai fase krusial dalam pembentukan identitas. Vanua tak sekadar mewakili kegelisahan individu, tetapi menjadi layar tempat masyarakat memproyeksikan konflik internal mereka. Pertarungan antara "aku" dan "kita" bukan semata soal keberpihakan, melainkan soal bagaimana sebuah komunitas mengelola ambiguitas internalnya.

Neraka Adalah Kita Sendiri

Salah satu pesan kuat dalam novel ini adalah menampilkan "neraka" bukan hanya sebagai struktur eksternal, tapi juga relasi yang gagal. Ketika Vanua merasa terisolasi, sesungguhnya ia tidak hanya dikucilkan, tetapi juga mengasingkan diri. Kerumunan menjadi neraka bukan karena jumlahnya, tetapi karena kegagalannya menghadirkan ruang untuk mendengar dan memahami perbedaan.

Situasi Vanua adalah cermin dari dilema banyak individu dalam masyarakat modern: merasa terhubung dan terasing pada saat yang sama. Inilah ironi kerumunan—di dalamnya kita merasa hilang sebagai individu, tapi di luar kerumunan, kita kehilangan makna sosial. Aku tak bisa menjadi aku tanpa kita, tetapi kita juga tak selalu memberi tempat bagi aku.

Rekonsiliasi Identitas Sosial

Akhirnya, Vanua memilih untuk kembali ke Desa Gayam, setelah mengunjungi Desa Kampung Tujuh. Tapi ini bukan sekadar kembalinya tubuh ke tanah asal, melainkan kembalinya identitas kepada komunitas yang bersedia merangkul ambiguitas. Ia tidak lagi datang sebagai orang asing yang marah, tapi sebagai individu yang telah belajar bahwa menjadi bagian dari “kita” tidak harus berarti kehilangan “aku”.

Novel ini mengajak pembaca merefleksikan: bagaimana kita membangun ruang sosial yang memungkinkan perbedaan tanpa pengasingan? Bagaimana kerumunan bisa menjadi surga, bukan neraka, bagi identitas yang ingin tumbuh bersama? Jawabannya ada dalam proses panjang rekonsiliasi antara keberanian individu dan kebijaksanaan kolektif—yang mungkin hanya bisa dimulai dari keberanian untuk mengakui, bahwa kita tak selalu benar tentang orang lain… atau tentang diri sendiri. *


Post a Comment

Post a Comment