-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Kepala Desa: Kekuasaan Kosong dalam Situasi Krisis

ARKANA~  Dalam novel Kerumunan adalah Neraka, kepala desa digambarkan sebagai figur yang di satu sisi merepresentasikan otoritas formal, namun di sisi lain terjebak dalam kekosongan makna dan efektivitas. Ia ada, tetapi nyaris tak mampu mengatur. Ia bicara, tetapi suaranya lebih sering terdengar sebagai gema dari sistem yang lumpuh. Sosoknya menjadi potret tragis dari kekuasaan yang kehilangan daya kendali—terutama di tengah situasi krisis dan kerusuhan emosi kolektif.

Simbol Kekuasaan yang Mandek

Bu Ros, kepala desa, digambarkan sebagai tokoh yang mencoba menjalankan peran kepemimpinan administratif di tengah pandemi dan disrupsi sosial. Namun, responsnya lebih sering bersifat reaktif daripada proaktif. Ketika terjadi kelangkaan gas elpiji, protes massa, atau kebingungan akibat pagebluk, ia terkesan terperangkap dalam bingkai protokoler: “Kita harus mengikuti aturan dari pemerintah,” begitu katanya—sebuah kalimat yang, meski benar secara birokratis, gagal menjawab kegelisahan warganya.

Ia tampak hadir secara fisik, namun absen dalam kepemimpinan moral dan simbolik. Dalam struktur komunitas desa, ketidakhadirannya sebagai sumber pengayoman menciptakan ruang kosong yang segera diisi oleh tokoh-tokoh alternatif seperti Mudra, Ki Rajendra, bahkan Sari. Kekuasaan yang tak komunikatif ini akhirnya tak lebih dari gelar administratif—tanpa legitimitas emosional.

The Emperor: Tafsir Tarot atas Kekuasaan

Novel ini menggunakan metafora Tarot, termasuk kartu The Emperor, untuk membongkar relasi antara struktur dan kekacauan. Ki Rajendra menjelaskan bahwa pemimpin sejati bukan sekadar penguasa, melainkan penyeimbang antara kebebasan dan keteraturan. Dalam konteks ini, Kepala Desa Gayam atau Kepala Desa Kampung Tujuh seolah menjadi bayangan gelap dari The Emperor—ia memiliki jabatan, tetapi kehilangan wibawa dan arah moral.

Kekuasaan yang tak disertai kemampuan untuk mengatasi krisis berubah menjadi bumerang. Ia tidak lagi memberikan rasa aman, justru menciptakan kekecewaan kolektif. Di tengah kerumunan yang riuh dan frustrasi, kepala desa kehilangan pijakan untuk bertindak dengan tegas dan bijak.

Antara Otoritas dan Otonomi Komunitas

Saat kepala desa gagal membangun dialog dengan warganya, muncul kebutuhan mendesak akan struktur alternatif. Maka tokoh-tokoh seperti Mudra dan Sari melangkah ke depan. Mereka tidak memegang kekuasaan formal, tetapi mereka hadir—secara afektif, etis, dan visioner. Inilah transformasi penting dalam novel: dari kekuasaan vertikal menuju kepemimpinan horisontal yang bersumber dari empati dan aksi kolektif.

Situasi ini mencerminkan kritik atas birokrasi yang tidak responsif dan terlalu bergantung pada legitimasi struktural. Dalam konteks masyarakat desa yang menghadapi tekanan dari luar (pandemi, eksploitasi sumber daya, krisis pangan), otoritas semu justru mempercepat disintegrasi sosial.

Kekuasaan dan Bahaya Ketakutan

Yang paling berbahaya dari sosok kepala desa bukan ketegasannya, tetapi ketakutannya. Dalam adegan percakapan dengan warga desa, ia berkata dengan nada keras: “Kita harus lebih keras. Kita tidak bisa membiarkan ketakutan menguasai desa.” Tetapi yang sebenarnya terjadi adalah sebaliknya—ia dikuasai ketakutan dan menjawab ketakutan dengan kontrol, bukan pemahaman.

Ini adalah ilustrasi dari bagaimana kekuasaan berpotensi berubah menjadi tirani—bukan karena niat jahat, tetapi karena ketidakmampuan untuk membaca kondisi sosial secara mendalam. Ketika ketegasan kehilangan empati, yang lahir adalah kekuasaan yang dingin dan membekukan kehidupan komunitas.

Dari Kekuasaan Menuju Kepemimpinan

Esai ini tidak menuduh kepala desa sebagai antagonis. Sebaliknya, ia adalah simbol dari sistem yang lebih besar: sistem yang tidak cukup adaptif menghadapi kompleksitas zaman pandemi Covid-19. Ia adalah gambaran dari banyak pemimpin yang terjebak dalam retorika, tetapi tak mampu menjawab realitas yang menuntut keberanian dan kebijaksanaan baru.

Dalam Kerumunan adalah Neraka, kepala desa menjadi pelajaran penting: kekuasaan bukan hanya tentang jabatan, melainkan tentang kehadiran. Dan dalam krisis, yang dibutuhkan bukan hanya pemegang stempel resmi, melainkan pemimpin yang mampu mendengar, memahami, dan bertindak. Novel ini menjadi perenungan tajam tentang transisi dari struktur menuju substansi dalam politik lokal dan sosial kita hari ini. *


Post a Comment

Post a Comment