-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Dari Wayang hingga Topeng Cirebon


ARKANA~  Apabila Rajendra mahasiswa filsafat interkultural Universitas Metafisika Jakarta mewakili pergulatan intelektual terhadap prinsip sekularisasi di era digital, maka Adhigama mahasiswa filsafat sejarah seni di universitas yang sama adalah perwujudan dari krisis estetika dan spiritualitas yang menyertainya. 

Dalam “Universitas Pasca-Metafisika”, Adhigama digambarkan sebagai karakter yang memiliki hubungan emosional dan intelektual yang mendalam dengan warisan budaya Indonesia. Ia tidak hanya sekadar mengapresiasi, melainkan berusaha memahami seni tradisional—terlihat dari sketsa keris pusaka yang ia gambar dan kecintaannya pada gamelan kontemporer—sebagai sebuah cermin yang merefleksikan dialog antara Yang Sakral dan Yang Rasional. Sikap Adhigama ini secara tak langsung membuka pertanyaan fundamental yang relevan dengan pemikiran Habermas: bagaimana sebuah masyarakat modern dapat melakukan peneguhan diri (Selbstvergewisserung) di tengah dinamika sejarah dan globalisasi?

Dalam dokumen Habermas yang menjadi rujukan, genealogi pemikiran pasca-metafisika diuraikan sebagai sebuah proses yang mana Eropa berulang kali melakukan peneguhan diri dengan melihat kembali ke cermin masa lalu mereka, yaitu peradaban Yunani-Romawi. Kaum moderni (die moderni) secara terus-menerus mendefinisikan kembali identitas mereka dengan mengambil, menafsirkan ulang, dan bahkan menentang para pendahulu mereka, yaitu kaum kuno (die antiken). Ini adalah proses dialektis yang menjadikan sastra, seni, filsafat, dan ilmu pengetahuan Yunani dan Romawi sebagai titik acuan yang tidak pernah usang. Melalui karakter Adhigama, penulis mencoba menggagas sebuah proses serupa, tetapi dengan cermin yang berbeda.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah seni tradisional Indonesia—seperti wayang, keris, batik, dan topeng Cirebon—dapat berfungsi sebagai cermin yang setara dengan antiquitas Yunani-Romawi bagi peneguhan diri modern Indonesia? “Universitas Pasca-Metafisika” mengisyaratkan ya, tetapi cermin ini tidak lagi sepenuhnya bening. Maknanya telah terkikis oleh erosi waktu dan gelombang modernitas, tetapi ia masih memiliki daya refleksi yang kuat. Adhigama adalah karakter yang mencoba membersihkan cermin itu, bukan dengan kembali ke masa lalu secara buta, melainkan dengan menafsirkan kembali maknanya dalam konteks kontemporer, seperti yang ia lakukan dengan mendengarkan gamelan kontemporer melalui Spotify.

Namun, cermin yang digenggam Adhigama ini berhadapan dengan musuh yang tak terlihat, yaitu estetika digital. Filter Instagram, video viral di TikTok, dan algoritma YouTube menciptakan cermin yang sama sekali baru, yang tidak merefleksikan tradisi yang mendalam, tetapi hanya citra yang dangkal dan dapat dimanipulasi. Di era ini, wayang dapat diubah menjadi konten yang menghibur, batik menjadi motif yang trendi, dan topeng menjadi filter yang mengubah wajah. Transformasi ini bukan sekadar perubahan bentuk, melainkan pergeseran makna yang fundamental. Seni tradisional terancam kehilangan rohnya—yaitu daya sakralitas dan narasi historisnya—dan berubah menjadi komoditas yang mudah dibuang setelah dikonsumsi.

"Universitas Pasca-Metafisika" secara implisit menimbang pandangan Habermas tentang sekularisasi yang hanya melihat agama sebagai Yang Lain yang harus didialogkan. Melalui karakter Adhigama, cerita ini menyajikan seni tradisional sebagai sebuah bahasa atau medium yang juga harus diperhitungkan dalam diskusi. Seni ini bukan hanya sekadar objek budaya, tetapi subjek yang mampu berbicara dan berdialog dengan rasionalitas modern. Ia mampu mentranslasikan kepercayaan dan nilai-nilai kuno ke dalam idiom yang dapat dipahami oleh generasi digital, tanpa harus mengorbankan identitasnya.

Ketika Adhigama memegang sketsa keris, ia tidak hanya mengagumi keindahan fisiknya, tetapi juga merenungkan sakralitas yang melekat padanya. Ia melihat keris sebagai artefak yang mengandung narasi yang panjang, filosofi yang mendalam, dan koneksi dengan masa lalu. Ini adalah upaya hermeneutis yang mendalam, yang sejalan dengan semangat pemikiran pasca-metafisika Habermas yang mencoba menemukan makna di tengah keruntuhan fondasi mutlak. Seni menjadi sebuah jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, dan Yang Sakral dengan Yang Profan, tanpa meniadakan salah satunya.

“Universitas Pasca-Metafisika” menyajikan seni tradisional sebagai jalur alternatif untuk sekularisasi di Indonesia, yang berbeda dengan pengalaman Eropa. Jika di Eropa via moderna adalah jalur teologi dan filsafat, maka di Indonesia, jalan modern mungkin juga melibatkan estetika. Seni bisa menjadi bahasa universal yang mampu menampung keragaman dan kompleksitas identitas bangsa, sembari tetap terbuka pada rasionalitas dan ilmu pengetahuan.

Pernyataan bahwa seni adalah cermin yang masih bisa berbicara bukanlah metafora kosong, melainkan sebuah hipotesis yang diajukan oleh “Universitas Pasca-Metafisika”. Ia seolah bertanya: jika agama dan filsafat kesulitan berdialog dalam ruang publik digital yang terfragmentasi, mungkinkah seni menjadi bahasa pemersatu? Mungkinkah topeng Cirebon dan wayang memiliki kapasitas untuk berbicara tentang kebenaran dan nilai yang tidak mampu disampaikan oleh algoritma? Pertanyaan ini akan menjadi fokus perbincangan dalam bagian berikutnya.

Melalui karakter Adhigama, “Universitas Pasca-Metafisika” mengangkat proyek filosofis: menemukan cermin modern Indonesia untuk melakukan peneguhan diri di tengah dunia yang retak.


Post a Comment

Post a Comment