ARKANA~ Novel Kerumunan adalah Neraka membuka jalan bagi pembacaan yang eksistensial, terlebih jika kita menempatkan pemikiran Jean-Paul Sartre di tengah suasana mistis Desa Gayam yang penuh dedemit dan bisik-bisik mitos. Dalam dunia Sartre, eksistensi mendahului esensi: manusia lahir tanpa makna bawaan dan harus menciptakan dirinya sendiri melalui pilihan-pilihan yang bebas, tetapi juga menegangkan. Lalu bagaimana jika kebebasan itu dihadapkan pada dunia yang dipenuhi hantu, makhluk halus, dan ketakutan yang diwariskan turun-temurun?
Vanua, tokoh skeptis dan rasional dalam novel, tampaknya mewakili figur Sartrean: manusia yang menolak menerima dunia begitu saja, dan terus-menerus mempertanyakan realitas di sekitarnya. Ketika warga desa menyerah pada ketakutan, Vanua memilih untuk menantangnya. Tapi pilihan ini bukan tanpa harga. Ia terasing, dianggap melawan konsensus, bahkan dicurigai. Dalam dunia yang telah mapan dengan mitosnya, menjadi individu yang berpikir bebas adalah bentuk keberanian eksistensial.
Sartre berbicara tentang “mauvaise foi”—kemunafikan terhadap diri sendiri, ketika seseorang menolak kebebasan dan memilih hidup dalam ilusi. Banyak warga Desa Gayam dan Desa Kampung Tujuh, dalam kacamata ini, memilih untuk hidup dalam bad faith dengan menerima mitos dedemit sebagai satu-satunya kenyataan. Mereka tidak ingin mengakui bahwa makna bisa dinegosiasikan dan ketakutan bisa dibongkar.
Dedemit dalam novel ini bukan hanya entitas gaib, melainkan proyek-proyek kebudayaan yang dibiarkan hidup dan berkembang tanpa perlawanan rasional. Mungkin, Sartre akan melihat ini sebagai bentuk pelarian: ketimbang menghadapi absurditas hidup dan kebebasan yang menakutkan, manusia lebih memilih dunia yang sudah ditentukan oleh takhayul. Tapi novel ini tidak menyalahkan secara frontal. Saya berimajinasi bahwa dalam dunia pasca-trauma, pilihan untuk percaya pada hantu bisa jadi satu-satunya cara bertahan.
Tokoh bernama Sari atau Ki Rajendra, yang mencoba memahami dan merangkul cerita-cerita mistis dengan pendekatan kartu tarot, menjadi figur alternatif dari pendekatan Sartre. Keduanya tidak mereduksi dedemit sebagai ilusi belaka, tapi mengolahnya sebagai warisan simbolik yang butuh ditafsir ulang. Dalam proses ini, mereka menjalankan engagement Sartrean: keterlibatan aktif dalam dunia, bukan sebagai objek pasif dari dunia mistis-neraka.
Novel ini menjadi arena pertarungan antara angst dan engagement. Ketika tokoh-tokohnya dihadapkan pada absurditas hidup—kematian, penyakit, kehilangan, ketiadaan keadilan—mereka bisa memilih untuk melarikan diri atau terlibat. Dan dalam dinamika ini, kita melihat bagaimana filsafat eksistensial tidak hanya hidup di perpustakaan, tapi juga di jalan-jalan desa, di antara lampu desa dan bayangan gelap malam.
Saya menghindar untuk menjadikan filsafat sebagai kutipan elit. Saya berupaya merendamnya dalam lumpur kehidupan sehari-hari, cangkir teh hangat dan obrolan di titik kerumunan warga Desa. Filsafat eksistensialisme bukan sekadar milik Sartre di Paris, tapi juga milik warga Desa (sekalipun fiksi) yang sedang mencari makna dalam dunia yang tak kunjung memberi kepastian.
Sartre menulis L’enfer, c’est les autres—neraka adalah orang lain. Tapi dalam novel ini, neraka dimaknai ulang sebagai bentuk kesepian, ketakutan yang tak dibicarakan, dan trauma yang diwariskan. Dedemit menjadi wajah dari kecemasan yang tak bisa dimaknai secara rasional. Mereka adalah pertanyaan yang belum dijawab.
Dan seperti Sartre yang menulis drama tentang orang-orang yang terkurung dalam ruang tanpa jendela, tokoh-tokoh Kerumunan adalah Neraka juga terkurung—dalam sejarah, mitos, rumah, dan bahkan dalam kebekuan komunikasi. Tapi justru dari keterkungkungan itulah muncul kemungkinan untuk memilih: tetap tinggal dalam gelap, atau menyalakan lentera.
Novel ini mengajak pembaca untuk menafsir ulang keberanian. Bukan sekadar berani menghadapi hantu, tetapi berani menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak punya makna tetap. Kita sendirilah yang mesti menciptakannya, bahkan di tengah dedemit.*



Post a Comment