-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Penggunaan Realisme Magis sebagai Kritik atas Rasionalitas

ARKANA~  Dalam Kerumunan adalah Neraka, realisme magis bukan sekadar gaya atau selera estetik—ia menjelma menjadi alat kritik terhadap klaim totalitas rasionalitas modern. Novel ini mempertemukan dua dunia yang tampak bertolak belakang: dunia Vanua yang rasional, dan dunia Mudra serta masyarakat Desa Gayam yang penuh kepercayaan, mitos, dan dunia tak kasatmata. Dalam ketegangan ini, realisme magis menjadi ruang negosiasi, bahkan perlawanan, terhadap dominasi nalar instrumental.

Rasionalitas yang Kering dan Dunia yang Berdenyut

Tokoh Vanua dengan tegas mengatakan, "Saya percaya pada rasionalitas. Saya percaya bahwa setiap kejadian pasti memiliki penjelasan logis". Namun narasi tidak membiarkannya menang. Di desa ini, segala sesuatu menolak dibekukan dalam logika biner benar–salah. Ketika kuntilanak, genderuwo, dan dedemit lainnya muncul dalam cerita, mereka bukan sekadar horor, tetapi penanda dari luka kolektif dan trauma sejarah yang sulit dibahasakan oleh ilmu pengetahuan.

Di tengah pandemi, warga tidak lagi percaya sepenuhnya pada ilmu kedokteran atau protokol kesehatan. Mereka lebih percaya pada kisah Bu Minah, suara-suara dari pohon beringin, atau mimpi-mimpi yang dianggap sebagai peringatan. Di sinilah realisme magis mengambil peran: memperlihatkan bahwa realitas sosial tidak selalu bekerja dalam hukum kausalitas, tetapi juga dalam logika afektif dan simbolik.

Magis yang Tidak Perlu Dibuktikan

Novel ini memperlakukan yang magis bukan sebagai gangguan terhadap yang realistis, tetapi sebagai elemen sejajar yang sah. Tidak ada upaya untuk "menjelaskan" kemunculan Kuntilanak, misalnya, melalui teori halusinasi atau gangguan psikologis. Yang ada adalah penerimaan bahwa dalam dunia yang hancur oleh pandemi, hal yang tak masuk akal justru menjadi tempat berpijak.

Pendekatan ini menantang sains modern yang kadang lupa pada batas-batasnya. Rasionalitas tidak bisa menjawab rasa kehilangan, ketakutan kolektif, atau kemarahan alam. Dalam novel ini, dedemit dan kutukan tidak datang untuk dipecahkan secara ilmiah, tetapi untuk dimaknai secara eksistensial.

Kritik terhadap Rasionalitas sebagai Kekuasaan

Realisme magis juga berfungsi sebagai kritik terhadap struktur kekuasaan yang menyandarkan legitimasi pada rasionalitas. Vanua datang ke desa bukan hanya sebagai tenaga medis, tetapi sebagai representasi dari sistem—sistem yang telah gagal melindungi, gagal meyakinkan, dan gagal memahami. Ketika warga desa menolak narasi medis, mereka bukan dungu, tetapi sedang menolak bahasa kekuasaan yang tidak komunikatif.

Melalui realisme magis, novel ini menunjukkan bahwa yang tidak masuk akal seringkali lebih jujur daripada penjelasan ilmiah yang tidak menyentuh batin masyarakat. Logika yang dingin tidak bisa bersaing dengan kehangatan cerita rakyat, dan itulah kekuatan realisme magis—ia menyentuh ranah emosi, tradisi, dan rasa percaya.

Estetika Magis sebagai Penyelamat Imajinasi

Novel ini menyelamatkan imajinasi dari pembekuan. Dengan menyisipkan simbol tarot seperti The High Priestess, The Magician, atau The Fool, cerita ini memperluas realitas menjadi multidimensional: antara sadar dan bawah sadar, antara dunia nyata dan dunia gaib, antara individu dan kolektif.

Tarot bukan alat ramalan, tapi menjadi medium naratif untuk mengungkap relasi tersembunyi antara manusia dan alam, antara sejarah dan harapan. Semua ini memperkuat posisi realisme magis sebagai estetika yang memungkinkan kita memahami kenyataan yang tidak bisa direduksi menjadi data.

Magis sebagai Bahasa Luka

Realisme magis dalam Kerumunan adalah Neraka adalah bentuk kesaksian bahwa luka sosial, trauma kolektif, dan kekacauan hidup tidak selalu bisa dijelaskan. Tapi ia bisa diceritakan. Dan ketika cerita itu menyentuh, ia menyembuhkan lebih dalam dari sekadar obat atau kebijakan.

Dalam dunia yang dipenuhi kepanikan dan kehilangan makna, mungkin kita memang tidak butuh kebenaran yang logis, tetapi cerita yang bisa memberi tempat bagi ketidakwajaran kita.*


Post a Comment

Post a Comment