ARKANA~ Kerumunan adalah Neraka bukan sekadar novel bertema pandemi, tetapi juga sebuah arsitektur naratif yang dibangun dengan pola spiral. Cerita ini tidak bergerak lurus dari awal ke akhir, tetapi berputar, berulang, dan membentuk pusaran emosional serta spasial yang menggiring pembaca dari sebuah desa damai menuju dunia yang semakin tak bernama, semakin tidak pasti.
Spiral Sebagai Bentuk Cerita
Dari Bab 1 hingga Bab 54, novel ini menggali ke kedalaman jiwa desa. Awalnya, Desa Gayam digambarkan sebagai ruang yang utuh, harmonis, dan penuh keteraturan ekologis-kultural. Namun perlahan, melalui desas-desus, ketakutan, dan pertemuan antara dunia nyata dan tak kasat mata, narasi meliuk ke dalam keretakan—bukan hanya pada desa, tetapi juga pada jiwa para tokohnya.
Dalam pola spiral ini, kejadian tidak terjadi hanya sekali. Tema dan simbol berulang dengan variasi: pohon beringin, mata air, keris, genderuwo, dan suara-suara gaib. Setiap kemunculan kembali bukanlah repetisi kosong, tetapi transformasi makna yang semakin dalam. Spiralnya bukan melingkar di tempat, tapi menyelam ke inti.
Desa sebagai Titik Awal dan Titik Balik
Narasi dibuka dengan gambaran pagi yang damai di kaki Merapi—embun, ayam jantan, dan tanah basah. Namun semakin jauh kita membaca, semakin pudar ilusi kedamaian itu. Desa bukan lagi hanya tempat, tetapi menjadi medan konflik spiritual, sosial, ekologis, dan epistemologis.
Namun menariknya, ketika para tokoh sudah menjelajahi dunia luar—Depok, Surabaya, forum bisnis, bahkan kerumunan urban—mereka akhirnya kembali. Desa bukan hanya titik mula, tetapi titik balik. Spiral itu membawa mereka kembali, bukan dalam bentuk yang sama, melainkan dalam pemahaman baru. Desa tak lagi "damai" dalam makna konservatif, melainkan desa yang telah melalui purifikasi sosial dan spiritual.
Keretakan sebagai Estetika
Narasi spiral ini juga diwujudkan dalam teknik penceritaan yang penuh keretakan: perpindahan perspektif antar tokoh, selipan mimpi dan visi, serta dialog-dialog yang penuh simbolisme. Bahkan struktur bab pun kerap menyelipkan jeda, loncatan waktu, dan ruang ambigu. Pembaca tidak dibimbing dengan tangan, melainkan dilempar ke tengah pusaran, dipaksa berenang melalui kabut cerita yang terus mengembang.
Ini adalah pilihan bentuk estetika yang mencerminkan isi: dunia yang terfragmentasi. Di sinilah realisme magis memainkan perannya—bukan sekadar bumbu, tapi perangkat estetika untuk menjembatani dunia rasional dan mistis yang tak bisa dijelaskan secara linear.
Spiral dan Eksistensi
Dengan memilih struktur spiral, novel ini tidak hanya menggambarkan ketakutan sosial, tetapi juga menyentuh ranah eksistensial. Setiap putaran spiral adalah bentuk pencarian: siapa aku, siapa kita, di tengah dunia yang retak. Dari perspektif Vanua yang Sartrean, dari Mudra yang mistikal, hingga Sari yang sinkretik, spiral ini menjadi ruang kontemplasi sekaligus transgresi.
Dalam narasi spiral, waktu bukan hanya maju, tapi juga mengendap. Setiap peristiwa bukan hanya titik di garis waktu, tetapi lapisan dalam sedimen memori kolektif.
Dunia Tak Bernama
Akhir cerita tidak menyuguhkan penutupan yang definitif. Dunia tak bernama adalah dunia pasca-krisis. Warga tidak lagi sama, tetapi mungkin lebih jujur pada luka dan harapan mereka. Spiral tidak berhenti. Ia terus berputar, mungkin menuju pembaca itu sendiri.
Kerumunan adalah Neraka bukan hanya bercerita, tetapi menciptakan bentuk cerita itu sendiri sebagai medium reflektif. Ia menyampaikan, dalam zaman yang retak, narasi linier tidak lagi cukup. Kita butuh spiral—yang tidak memaksa makna, tetapi mengundang untuk menyelam. *



Post a Comment