ARKANA~ Di dalam sebuah karya sastra, latar (setting) seringkali lebih dari sekadar deskripsi tempat dan waktu; ia dapat berfungsi sebagai karakter yang aktif, komentar sosial yang mendalam, atau bahkan manifestasi fisik dari konflik ideologis. Dalam "Universitas Pasca-Metafisika," penulis menggunakan arsitektur kampus, lanskap perkotaan Jakarta, dan ruang digital sebagai cerminan dari pergulatan filosofis yang melatarinya. Latar-latar ini tidak pasif, melainkan secara aktif menguji dan membentuk ide-ide yang diusung oleh para tokoh.
Kampus Universitas Metafisika adalah mikrokosmos pertama yang paling jelas. Arsitekturnya yang modern, dikelilingi oleh gedung-gedung tinggi kawasan SCBD, melambangkan sebuah institusi yang telah sepenuhnya merangkul modernitas dan rasionalitas global. Ini adalah manifestasi fisik dari Sistem (System) dalam terminologi Habermas: sebuah ruang yang didominasi oleh logika instrumental, efisiensi, dan tuntutan-tuntutan pasar global. Universitas ini berada di jantung kapitalisme Indonesia, sebuah lokasi yang tidak disengaja, melainkan sebuah pernyataan bahwa filsafat di sini harus berhadapan langsung dengan realitas ekonomi yang dominan.
Namun, di tengah modernitas itu, terdapat elemen-elemen tradisional seperti ornamen batik digital dan patung wayang Semar di taman. Elemen-elemen ini bukan hanya hiasan. Mereka adalah representasi dari dunia kehidupan (Lebenswelt) yang mencoba bertahan dan menegaskan eksistensinya di tengah hegemoni sistem. Kontras arsitektur ini adalah visualisasi dari konflik internal Indonesia modern: perjuangan untuk menyeimbangkan antara identitas tradisional yang kaya dengan tuntutan modernisasi global.
Lanskap Jakarta, khususnya kawasan Sudirman, berfungsi sebagai latar yang memperkuat komentar sosial ini. Gedung-gedung pencakar langit yang menjulang di luar jendela ruang rapat adalah bayangan raksasa dari Sistem yang terus mengkolonisasi. Bayangan ini secara metaforis melambangkan kekuasaan yang tak terlihat dari kapitalisme, birokrasi, dan media massa yang secara perlahan mereduksi dunia kehidupan—makna, spiritualitas, dan tradisi—menjadi sekadar instrumen atau komoditas.
Latar ketiga, dan mungkin yang paling krusial, adalah dunia digital. “Universitas Pasca-Metafisika” menempatkan platform seperti X, Threads, TikTok, Instagram dan YouTube sebagai sebuah ruang publik baru. Namun, ini adalah ruang publik yang jauh dari ideal Habermas. Di sini, tindakan komunikatif yang otentik berhadapan dengan logika algoritma. Ide-ide filosofis direduksi menjadi konten yang dapat diviralkan, yang diukur bukan dari kualitas argumennya, melainkan dari jumlah like dan views.
Dunia digital ini adalah contoh sempurna dari kolonisasi sistem terhadap dunia kehidupan. Di satu sisi, ia adalah dermaga wacana yang memungkinkan para mahasiswa menyebarkan ide-ide filsafat dengan cara yang baru. Di sisi lain, ia adalah pasar yang mengubah makna menjadi komoditas, spiritualitas menjadi hashtag, dan tradisi menjadi tren digital. Latar ini menunjukkan ambiguitas teknologi dan tantangan terbesar bagi filsafat di abad ke-21.
Transformasi arsitektur juga terlihat jelas pada akhir cerita “Universitas Pasca-Metafisika”. Pergantian nama universitas menjadi "Universitas Pasca-Metafisika" adalah sebuah perubahan yang melampaui identitas institusional. Ini adalah sebuah proyek rekonstruktif yang mengubah makna dari latar itu sendiri. Universitas tidak lagi ingin menjadi kuil pengetahuan yang statis, melainkan dermaga wacana yang dinamis, tempat ide-ide berlayar, berdialog, dan berkembang.
Mural Semar dan Habermas adalah klimaks dari penggunaan latar sebagai komentar. Mural ini adalah sebuah artefak fisik yang berada di ruang fisik (tembok kampus), tetapi ia berfungsi untuk mendamaikan ide-ide yang ada di ruang digital dan ruang metafisika. Mural ini secara visual mengikat semua latar dan konflik menjadi satu.
Melalui penggunaan berbagai latar ini, pembaca diajak untuk melihat lingkungan mereka sendiri—kampus, kota, kampung, dunia digital—sebagai sebuah arena pertarungan dan dialog yang serupa dengan yang ada di “Universitas Pasca-Metafisika”. Latar bukanlah sekadar panggung; ia adalah sebuah cermin yang memantulkan ketegangan antara tradisi dan modernitas, antara akal dan rasa, dan antara Sistem dan Dunia Kehidupan yang dihadapi pembaca setiap hari.
Pada akhirnya, “Universitas Pasca-Metafisika” mengajarkan bahwa filsafat tidak hanya ada di dalam buku atau diskusi, tetapi juga termanifestasi dalam arsitektur, lanskap kota, dan struktur dunia digital yang kita tempati. Dengan memahami bagaimana latar “Universitas Pasca-Metafisika” berfungsi, pembaca akan memiliki alat yang lebih baik untuk menganalisis dunia nyatanya sendiri.



Post a Comment