ARKANA~ Pandemi dalam Kerumunan adalah Neraka bukan sekadar latar belakang narasi, tetapi menjadi medan ujian antara keimanan dan rasionalitas, antara takdir dan tindakan. Desa Gayam berubah dari ruang yang penuh gotong royong menjadi arena perpecahan, ketakutan, dan tafsir spiritual yang beragam. Dalam kisah ini, pandemi hadir sebagai bencana biologis sekaligus simbol kekacauan spiritual dan sosial.
Pandemi sebagai Ujian Kolektif
Banyak warga desa menafsirkan pandemi sebagai hukuman ilahi. Kutipan seperti “Ini pasti hukuman karena kita sudah melupakan gotong royong” menunjukkan respons teologis yang tidak hanya bersifat moral, tetapi juga eksistensial. Desas-desus dan kepercayaan terhadap kekuatan supranatural seperti kuntilanak atau genderuwo berkembang, mengisi kekosongan informasi ilmiah dengan makna metafisik yang lebih dapat dicerna oleh masyarakat pedesaan.
Pandemi ditafsirkan sebagai bentuk ujian iman: apakah mereka tetap bersatu dalam kepercayaan, atau tercerai berai dalam ketakutan? Di sinilah muncul benturan antara dua tokoh utama—Mudra dan Vanua. Mudra mencoba menanamkan harapan dan kebersamaan sebagai bentuk iman kolektif, sedangkan Vanua membawa logika, data, dan pengalaman medis dari kota besar.
Pandemi sebagai Reaksi Historis
Jika kita melepaskan kacamata mistik maka pandemi juga bisa dibaca sebagai reaksi historis dari masyarakat terhadap ketidaksiapan sistem sosial dan kesehatan. Warga desa mengalami keterputusan informasi, kelangkaan logistik, dan isolasi sosial yang ekstrem. Dalam konteks ini, respons masyarakat bukan semata-mata ekspresi iman, tetapi manifestasi dari kerapuhan struktur sosial ketika dihadapkan pada krisis besar.
Ketika Bu Minah mengeluh tentang harga cabai yang naik dua kali lipat, dan warung-warung sepi pembeli, itu adalah narasi keseharian yang menunjukkan dampak nyata dari pandemi terhadap ekonomi rakyat kecil. Ketika lapangan desa kosong dan anak-anak berhenti bermain, kita menyaksikan memudarnya semangat kolektif dan euforia komunal yang menjadi napas desa.
Ketegangan antara Iman dan Sains
Esai ini juga menyoroti ketegangan antara pandangan religius dan pendekatan rasional. Vanua, dengan latar belakang medis, menolak mentah-mentah segala bentuk takhayul. Baginya, wabah ini harus dihadapi dengan protokol kesehatan dan sains. Namun, di hadapan warga yang lebih mempercayai cerita dedemit dan tafsir klenik, pendekatan Vanua menjadi asing bahkan mencurigakan.
Sebaliknya, Mudra memahami bahwa dalam masyarakat seperti Desa Gayam, iman tidak bisa diabaikan begitu saja. Iman bukan hanya tentang Tuhan, tetapi juga tentang harapan, rasa aman, dan struktur makna dalam hidup. Di sinilah muncul pendekatan hibrida: sains dan keimanan harus saling melengkapi untuk menciptakan respons yang utuh terhadap krisis.
Tafsir Teodise: Mengapa Derita Terjadi?
Novel ini juga menyiratkan teodise, suatu diskursus teologi dan filsafat yang berupaya untuk membenarkan keberadaan Tuhan yang mahabaik, di tengah kenyataan penderitaan pandemi di dunia. Pertanyaan klasik teologis tersirat diajukan dalam novel: Jika Tuhan Mahabaik, mengapa pandemi terjadi? Meskipun tidak terjawab secara eksplisit, novel ini memberikan beberapa kemungkinan. Salah satunya adalah bahwa pandemi bukan hukuman, tetapi cermin. Ia memperlihatkan siapa kita sebenarnya ketika struktur eksternal runtuh. Pandemi menunjukkan bahwa yang hilang bukan hanya imun tubuh, tapi juga kepercayaan sosial.
Dalam akhir bab-bab awal, kita menyaksikan warga Desa Gayam terbelah antara yang percaya pada Tuhan, pada dedemit, atau pada Protokol Kesehatan. Tapi mungkin, seperti dalam banyak kisah manusia lainnya, semua itu hanyalah cara berbeda untuk menghadapi rasa takut yang sama. Dalam ketakutan, mereka mencoba menemukan makna—dan dalam makna itulah, iman dan sejarah saling berkelindan.*



Post a Comment