ARKANA~ Dunia sinema telah lama menjadi ruang pembentukan imaji kolektif tentang horor. Film seperti Pengabdi Setan dan Jelangkung, hingga serial seperti Ghoul, The Haunting of Hill House, dan Marianne bukan sekadar hiburan, melainkan juga mesin produksi ketakutan yang membentuk persepsi publik terhadap makhluk halus, suasana mencekam, dan dinamika spiritualitas gelap. Dalam konteks Kerumunan adalah Neraka, imaji kolektif ini bersenyawa dengan narasi lokal dan membentuk lanskap ketakutan yang dikenali dan diyakini oleh pembaca.
Saya menyadari bahwa para pembaca tidak berada dalam ruang hampa. Imajinasi pembaca telah lebih dulu dibentuk oleh visual-visual horor yang disuguhkan televisi dan internet. Maka ketika muncul deskripsi tentang pocong di pinggir kuburan atau suara tangis kuntilanak di atap rumah, pembaca tidak membaca dari nol—mereka mengingat adegan, musik latar, ekspresi ketakutan tokoh-tokoh fiksi visual yang pernah mereka tonton. Interteks ini memperkuat atmosfer novel dan mempercepat resonansi emosional.
Lebih jauh, film horor kerap menempatkan makhluk astral dalam posisi ambigu: antara korban dan pelaku, antara yang menakutkan dan yang patut dikasihani. Ini paralel dengan cara Kerumunan adalah Neraka menampilkan dedemit bukan semata entitas jahat, tetapi simbol dari luka dan ketimpangan. Bagi pembaca yang sudah akrab dengan narasi film horor akan lebih mudah menerima pendekatan simbolik dan sosiologis dalam novel ini.
Namun ada juga sisi kritisnya. Film horor populer sering kali menyeragamkan bentuk ketakutan dan mengabaikan nuansa kultural. Pocong, misalnya, lebih sering muncul sebagai sosok melompat-lompat absurd, bukan sebagai simbol kegagalan penguburan yang layak. Saya berupaya mengembalikan makna dan konteks pada figur-figur ini: bukan menyuguhkan ketakutan, tetapi memberi makna baru padanya.
Novel ini mungkin saja direspons sebagai salah satu bentuk tiruan atas gaya film horor. Sebenarnya novel ini ingin bermain di wilayah yang sama, tetapi menawarkan kedalaman reflektif yang jarang ditemui dalam sinema horor arus utama. Jika film membuat takut lalu lupa, Kerumunan adalah Neraka membuat takut untuk berpikir, dan berpikir untuk sembuh.
Bisa dikatakan bahwa novel ini menyerap estetika horor visual, tetapi membalik arah efeknya. Jika film menekankan lonjakan adrenalin dan kejutan, novel ini lebih menekankan desakan psikis yang kontemplatif. Ketakutan tidak datang dalam sekejap, tetapi merayap perlahan, menyusup ke dalam keseharian, hingga akhirnya pembaca menyadari bahwa horor terbesar bukan pada hantu, melainkan pada luka sosial yang diwariskan dan tak kunjung disembuhkan.
Melalui pertemuan antara narasi lokal dan imaji kolektif hasil sinema, saya berupaya menjalin dialog lintas medium yang produktif. Saya meminjam atmosfer sinema horor, lalu mengolahnya menjadi refleksi. Saya mengutip gaya, lalu menggesernya ke kritik sosial. Ini bukan adaptasi gaya horor populer, melainkan negosiasi ulang terhadap struktur emosi pembaca yang telah dibentuk industri hiburan.
Kerumunan adalah Neraka akhirnya menjadi teks yang menantang pembaca untuk tidak sekadar takut, tetapi bertanya: dari mana rasa takut ini datang? Apa yang membuat kita percaya pada hantu? Dan bagaimana ketakutan itu dikapitalisasi, dikomodifikasi, lalu disebarkan secara massal oleh budaya populer?
Dengan menyadari relasi ini, pembaca bisa menggali makna lebih dalam dan menjadikan novel ini bukan hanya sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai kritik budaya terhadap konsumsi horor massal.*



Post a Comment