-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Kuntilanak sebagai Bayang-bayang Femininitas yang Ditinggalkan

ARKANA~  Dalam novel Kerumunan adalah Neraka, figur kuntilanak tidak sekadar muncul sebagai elemen horor. Ia adalah perwujudan dari rasa sakit, dendam, dan luka kolektif perempuan yang diabaikan oleh masyarakat. Lebih jauh, kuntilanak merepresentasikan femininitas yang tidak diberi ruang, suara, dan keutuhan dalam struktur sosial yang patriarkal dan birokratis.

Bu Lastri: Tubuh yang Diubah Menjadi Mitos

Kisah Bu Lastri adalah narasi tentang pengabaian. Ia merasa dilupakan oleh komunitasnya, tersingkir dari jaringan sosial, dan akhirnya bersekutu dengan kekuatan mistis untuk membalas luka batinnya. Dalam lembar-lembar buku hariannya, ia mengungkapkan kekecewaan terhadap warga desa yang dianggapnya telah mencuri kebahagiaan dan martabatnya. Proses transisinya menjadi kuntilanak adalah transformasi simbolik: dari subjek yang tak terdengar menjadi bayangan yang menghantui ruang sosial.

Ketika ia muncul dengan mata merah menyala dan tawa melengking, itu bukan sekadar efek atmosferik. Itu adalah jeritan femininitas yang tertahan, trauma yang tak tertampung dalam bahasa sehari-hari.

Feminitas yang Terbuang dan Tubuh yang Tidak Diakui

Kuntilanak adalah tubuh perempuan yang tertolak. Ia menjadi lambang dari hasrat dan luka yang tidak menemukan artikulasi dalam norma-norma sosial. Dalam konteks desa yang cenderung menutup diri terhadap narasi pribadi yang menyimpang dari “kesalehan komunal,” kemarahan Bu Lastri justru dibaca sebagai keanehan, sebagai gangguan, dan akhirnya sebagai horor.

Padahal, sebagaimana ditafsirkan oleh tokoh Sari dalam pendekatan literasinya, dedemit seperti kuntilanak justru bisa dibaca sebagai cermin, bukan monster. Sari menyusun narasi tandingan—bahwa kuntilanak bisa jadi bukan roh jahat, tapi roh perempuan yang rindu untuk didengar, dimengerti, dan dipulangkan ke dalam komunitas.

Antara Dendam dan Pembebasan

Ketika Vanua dan Mudra akhirnya menghadapi kuntilanak yang ternyata adalah arwah Bu Lastri, konflik utamanya bukan lagi sekadar mengusir hantu, melainkan mengatasi luka sejarah. Proses dialog antara manusia dan roh menjadi semacam ritual pembebasan. Kuntilanak, dalam adegan klimaks itu, menangis bukan karena marah, tapi karena rindu—rindu untuk pulang, untuk diterima kembali.

Akhirnya, melalui kata-kata yang jujur dan penuh empati dari Mudra dan Vanua, sosok itu memudar, kembali ke cahaya. Namun, pesan yang tertinggal tetap kuat: masyarakat yang tidak memberi tempat bagi ekspresi femininitas, akan terus dihantui oleh bayangannya.

Kuntilanak sebagai Simbol Reflektif

Dalam novel ini, kuntilanak adalah semacam phantom femininity—sisi lembut dan sekaligus marah dari manusia yang tidak diakui eksistensinya. Ia tidak datang dari luar, melainkan dari dalam, dari relung sosial yang gelap dan diabaikan. Sosoknya tidak perlu ditakuti, tetapi dipahami.

Kerumunan adalah Neraka menantang kita untuk membaca ulang mitos-mitos horor dalam konteks sosial dan gender. Kuntilanak bukan hanya legenda. Ia adalah suara femininitas yang ditinggalkan, namun tak pernah benar-benar mati. Ia hidup dalam bayang-bayang, menunggu saat yang tepat untuk bersuara, agar dunia tak hanya dihuni oleh logika kekuasaan, tetapi juga oleh suara air mata.*


Post a Comment

Post a Comment