-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Dermaga Wacana dan Pelita Tafsir


ARKANA~  Setelah perjalanan panjang menelusuri krisis makna dan upaya mencari solusi, “Universitas Pasca-Metafisika” mencapai puncaknya dengan sebuah adegan transformatif yang monumental. Universitas Metafisika Jakarta secara resmi berganti nama menjadi Universitas Pasca-Metafisika Jakarta. Perubahan nama ini bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah pernyataan filosofis yang sangat dalam. Penulis mengakhiri “Universitas Pasca-Metafisika” dengan kisah pergantian nama itu untuk menyajikan sebuah manifesto yang merangkum seluruh pergulatan ide yang telah terjadi. Di sinilah, konsep pemikiran pasca-metafisika Habermas tidak lagi hanya menjadi subjek analisis, tetapi menjadi fondasi dari sebuah institusi baru, yang tidak lagi mencari kebenaran mutlak, melainkan menjadi tempat bagi pertanyaan.

Dermaga wacana dan pelita tafsir adalah dua metafora kunci yang digunakan penulis untuk menjelaskan visi dari universitas yang baru ini. Dermaga adalah tempat bagi kapal berlabuh dan berlayar. Ia adalah tempat yang terbuka, yang memungkinkan pertukaran ide, barang, dan orang. Dengan menjadikan universitas sebagai dermaga wacana, institusi ini tidak lagi menjadi kuil pengetahuan yang statis, melainkan menjadi titik pertemuan yang dinamis. Ini adalah sebuah ruang publik yang ideal, yang mana berbagai wacana, baik dari filsafat maupun agama, sains maupun seni, dapat berdialog secara bebas tanpa hegemoni dari satu pihak.

Pelita tafsir, yang terukir di paruh garuda mural, melambangkan tujuan dari universitas ini. Pelita adalah sumber cahaya di tengah kegelapan, sebuah penuntun di tengah ketidakjelasan. Di sini, kegelapan adalah keruntuhan makna yang dialami oleh masyarakat. Namun, cahaya yang ditawarkan bukanlah kebenaran mutlak yang dogmatis, melainkan tafsir. Tafsir adalah sebuah proses yang aktif, yang melibatkan dialog, hermeneutika, dan kreasi. Dengan menjadikan tafsir sebagai api yang menyala, penulis menekankan bahwa universitas yang baru ini tidak akan lagi mencari fondasi yang final, melainkan akan terus-menerus membangun batu pijakan untuk bertanya lebih jauh.

Pergantian nama universitas ini juga merupakan resolusi dari konflik antara Rajendra dan Adhigama. Universitas Pasca-Metafisika adalah sebuah institusi yang mampu menampung keduanya. Ia adalah tempat bagi teori sosial Habermas dapat berdialog dengan seni tradisional, yang mana sekularisasi yang membatasi diri dapat dipraktikkan dengan menghargai romantisme baru. Ia adalah sebuah ruang yang mengakui, pemikiran tidak bisa terlepas dari luka dan harapan yang dialami oleh manusia. Ijazah yang mencantumkan kalimat 'Tempat untuk pemikiran yang tak lagi berangkat dari doktrin, tapi dari luka dan harapan,' adalah bukti dari komitmen ini.

Penulis menggunakan adegan ini untuk memberikan pembacaan ulang yang radikal terhadap institusi pendidikan. Universitas tidak hanya harus menjadi tempat transmisi pengetahuan, tetapi juga harus menjadi inkubator bagi pemikiran kritis dan kreasi. Ia harus menjadi refleksi dari masyarakatnya, bukan menara gading yang terisolasi. Mural garuda transparan di atas lautan aksara adalah sebuah metafora yang luar biasa. Garuda melambangkan identitas nasional, tetapi ia transparan, yang menunjukkan bahwa identitas itu tidaklah kaku, melainkan terbuka terhadap berbagai pengaruh. Lautan aksara dari berbagai bahasa melambangkan dialog global yang tak terbatas.

Melalui transformasi universitas, “Universitas Pasca-Metafisika” menyajikan utopia yang realistis. Ia bukanlah utopia yang sempurna, karena ia mengakui bahwa pertanyaan akan terus ada dan jawaban hanya akan menjadi batu pijakan. Ia adalah utopia yang mengakui keretakan dan ketidakpastian sebagai bagian dari kondisi manusia. Di sinilah letak relevansi “Universitas Pasca-Metafisika” dengan pemikiran pasca-metafisika Habermas. Sebuah narasi yang berani mengambil teori yang kompleks dan mengubahnya menjadi sebuah cerita yang penuh harapan.

Dermaga Wacana dan Pelita Tafsir adalah jawaban sementara dari penulis terhadap krisis makna yang digambarkan pada bab-bab awal “Universitas Pasca-Metafisika”. Ini adalah sebuah jalan yang ditawarkan kepada pembaca, model untuk berpikir dan bertindak di tengah dunia yang retak. “Universitas Pasca-Metafisika” tidak berakhir dengan jawaban yang final, melainkan dengan sebuah ajakan untuk terus-menerus bertanya, berdialog, dan menafsirkan. Proyek yang tidak pernah selesai. Dermaga yang selalu ramai dengan kapal yang datang dan pergi.

“Universitas Pasca-Metafisika” setidaknya mengikat semua benang merah yang telah ditarik, mulai dari sekularisasi digital hingga romantisme baru, dan menyajikannya dalam sebuah visi yang koheren. Ini adalah sebuah akhir yang sebenarnya adalah sebuah awal, titik balik yang mengundang pembaca untuk melanjutkan perjalanan tafsir mereka sendiri.



Post a Comment

Post a Comment