ARKANA~ Sebagai pembuka cerita fiksi “Universitas Pasca-Metafisika,” simposium "Filsafat di Era Digital" di kampus Universitas Metafisika Jakarta bukanlah sekadar latar yang pasif. Ia adalah sebuah panggung, sebuah laboratorium yang sengaja dirancang untuk menempatkan ide-ide besar dalam sebuah uji coba yang ekstrem.
Cerita fiksi ini merupakan respons terhadap pemikiran sejarah filsafat yang ditulis oleh Jürgen Habermas. Buku Habermas itu berjudul "Auch eine Geschichte der Philosophie" (Sejarah Filsafat Juga) yang diterbitkan pada 2019. Buku filsafat Habermas ini terdiri dari dua jilid yaitu "Die okzidentale Konstellation von Glauben und Wissen" (Konstelasi Barat antara Keyakinan dan Pengetahuan) dan "Vernünftige Freiheit. Spuren des Diskurses über Glauben und Wissen" (Kebebasan Rasional. Jejak Diskursus tentang Keyakinan dan Pengetahuan). Bagian yang menginspirasi kisah itu adalah jilid pertama dari buku Habermas, khususnya bagian “Zur Frage einer Genealogie nachmetaphysischen Denkens” (pertanyaan tentang Genealogi pemikiran pasca-metafisika).
Di tengah imajinasi suasana intelektual yang formal, di dalam sebuah aula yang megah, penulis menempatkan dua karakter utama, mahasiswa filsafat Universitas Metafisika Jakarta bernama Rajendra dan Adhigama, dengan pikiran yang justru berkelana jauh. Kehadiran mereka di simposium, sambil jari-jari mereka sibuk menelusuri kabar di platform digital, merupakan sebuah pernyataan filosofis sejak awal: ada keretakan fundamental antara ruang publik yang dibayangkan oleh para filsuf dan realitas ruang publik yang terfragmentasi oleh teknologi. Ini adalah keretakan yang menjadi jantung dari “Universitas Pasca-Metafisika”, yang mana pemikiran Jürgen Habermas berhadapan dengan kekuatan non-rasional yang baru.
Inti bab awal dalam “Universitas Pasca-Metafisika” terletak pada konsep Habermas tentang sekularisasi yang membatasi diri (self-limiting secularization). Konsep ini, yang menjadi bahan skripsi Rajendra, mengemukakan bahwa modernitas tidak boleh menyingkirkan agama secara total, melainkan harus membuka diri untuk berdialog dengannya. Sekularisasi, dalam pandangan ini, adalah proses yang mana agama dan pengetahuan saling berhadapan dalam posisi yang setara, untuk saling menguji dan saling memperkaya dalam sebuah ruang publik yang rasional. Penulis merasa, ide ini menawarkan janji akan dialog yang harmonis di tengah pluralisme, tetapi juga menyadari bahwa janji itu terasa jauh dari kenyataan yang dialami di Indonesia modern.
“Universitas Pasca-Metafisika” memperkenalkan algoritma Artificial Intelligence (AI) sebagai entitas Yang Lain (das Andere) yang belum ada dalam perhitungan Habermas. Jika dalam kerangka Habermas bahwa Yang Lain adalah tradisi religius yang suaranya harus didengarkan, maka dalam “Universitas Pasca-Metafisika”, Yang Lain adalah kode-kode pemrograman yang secara non-rasional membentuk opini, memanipulasi emosi, dan menciptakan echo chamber yang kaku. Algoritma ini tidak berorientasi pada dialog atau konsensus. Ia hanya berorientasi pada engagement dan monetisasi (entah di YouTube melalui Google Adsense atau media sosial lainnya). “Universitas Pasca-Metafisika” secara implisit menyatakan, bagaimana bisa ada dialog rasional bilamana aktor terpenting dalam ruang publik adalah entitas non-rasional?
Karakter Rajendra adalah perwujudan dari dilema ini. Ia, yang tenggelam dalam teks-teks Habermas, menyaksikan klip-klip perang di Gaza mendominasi feed media sosialnya, bukan karena alasan rasionalitas, tetapi karena emosi dan algoritma yang mengarahkannya. Ini adalah ruang publik yang tidak lagi ideal, melainkan terfragmentasi dan terpolarisasi. Penulis menggunakan karakternya untuk mengajukan pertanyaan: bagaimana prinsip sekularisasi yang membatasi diri dapat bertahan di tengah arus informasi yang tidak lagi didasarkan pada fakta atau konsensus, tetapi pada kecenderungan individu yang dianalisis oleh machine learning?
Di sisi lain, karakter Adhigama, yang terhubung erat dengan seni tradisional, mewakili dimensi lain dari keretakan ini. Erosi makna tidak hanya terjadi pada ranah pemikiran, tetapi juga pada ranah estetika. Simbol-simbol tradisional seperti wayang, keris, dan topeng Cirebon, yang dulu sarat akan makna sakral, kini berisiko direduksi menjadi konten digital yang mudah dikonsumsi dan dilupakan. Ini adalah bentuk sekularisasi yang berbeda, Yang Sakral tidak diadu dengan Yang Rasional, melainkan dikomodifikasi dan kehilangan rohnya.
Keretakan yang terlihat di simposium “Filsafat di Era Digital” Universitas Metafisika Jakarta adalah metafora untuk ruang dialog yang sudah tidak lagi utuh. Untuk menjembatani jurang antara iman dan pengetahuan di tengah tsunami informasi, “Universitas Pasca-Metafisika” seolah-olah berargumen bahwa diperlukan pemikiran yang baru.
Pertanyaan esensial yang diajukan oleh “Universitas Pasca-Metafisika” adalah: apakah filsafat pasca-metafisika Habermas masih relevan ketika ruang publik telah diganti oleh algoritma? Mungkinkah ada jalan lain yang harus ditempuh, yang mana luka dan harapan, seperti yang terukir di ijazah universitas yang baru, menjadi fondasi baru bagi pemikiran? Pertanyaan ini akan menjadi benang merah yang akan penulis telusuri dalam pembahasan berikutnya, menjadikan “Universitas Pasca-Metafisika” sebagai sebuah meta-narasi yang kaya akan ide-ide.
Penulis sengaja menggunakan simbolisme dari simposium itu sendiri—sebuah pertemuan yang formal dan terstruktur, tetapi gagal menangkap gejolak yang terjadi di luar. Awan yang menaungi Jakarta seolah mencerminkan ketidakjelasan dan keraguan yang menyelimuti para intelektual di dalam gedung. Ini adalah sebuah tanda bahwa universitas, sebagai institusi pengetahuan, harus berubah. Itulah yang pada akhirnya membawa pada transformasi Universitas Metafisika menjadi Universitas Pasca-Metafisika.
Bab pembuka dalam “Universitas Pasca-Metafisika” bukan hanya permulaan sebuah cerita, melainkan awal perjalanan intelektual. Penulis mengajak pembaca untuk tidak hanya membaca narasi cerita, tetapi juga untuk merenungkan makna dari simposium yang retak. Ia adalah metafora untuk kondisi modernitas itu sendiri, yang mana kita berada di tengah-tengah keruntuhan makna, dan satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan menyalakan api tafsir, seperti yang tergambar di mural pada akhir cerita.



Post a Comment