ARKANA~ Langit Bogor pagi itu seperti halaman kosong, menunggu cerita dituliskan. Zahwa melangkah menuju Arkana dengan tubuh yang mulai terbiasa disentuh oleh latihan-latihan sunyi. Di ruang praktik yang sederhana, Maya dan Talia menyambutnya bukan sebagai tamu, tapi sebagai pencipta. Di hadapannya, sebuah buku catatan baru dan pulpen emas kecil memantul cahaya pagi. Ia bukan sekadar alat tulis, melainkan simbol: tongkat sihir batin yang mengundang kenyataan baru.
“Sudah saatnya kamu menggambar kenyataanmu sendiri,” kata Maya. Talia menjelaskan bahwa hari ini mereka akan menyusun ulang relasi kognitif Zahwa terhadap uang dan tanggung jawab, bukan dengan angka, tetapi dengan simbol dan bahasa bawah sadar.
Zahwa memejamkan mata. Ia membayangkan tangannya memegang pulpen emas. Warnanya bukan tinta biasa, melainkan sinar matahari yang menyentuh daun rambutan di halaman rumah masa kecilnya. Ia membuka kembali halaman sebelumnya: daftar kewajiban yang dulu terasa berat, kini menjadi bahan baku penciptaan. Ia menggambar lingkaran untuk koin, kotak untuk nota, dan daun untuk harapan. Di samping tulisan “Kartu Kredit”, ia menambahkan matahari kecil bertuliskan “LUNAS”. Untuk “Tagihan Listrik”, ia menggambar arus cahaya dan bintang-bintang kecil. Motor digambarnya sebagai dua roda dilingkari emas. Ia bukan seniman, tapi ia merasa sedang menanam benih melalui garis-garis yang ditarik.
Tangannya hangat. Dadanya lega. Ia membisikkan pelan ke dalam tubuhnya: “Semesta merespons gambarku.” Ketika Maya menyuruhnya menyentuh gambar favorit, Zahwa memilih tas sekolah yang bersinar. Simbol itu terasa akrab—seperti harapan yang ingin ia berikan pada anak yang belum lahir, pada dirinya di masa kecil, atau pada siapa pun yang pernah merasa tidak didukung oleh semesta.
“Setiap kali melihatnya, aku ingat kekuatan penciptaanku,” ucap Zahwa, mengulang sugesti batin. Tangannya gemetar pelan. Tidak karena takut, tetapi karena ruang baru sedang terbuka. Ia tidak pernah tahu bahwa imajinasi bisa menjadi pintu ke kenyataan.
Di akhir sesi hipnosis, Zahwa menatap seluruh simbol yang ia tarik dan digambar ulang. Tidak indah, tidak presisi, tapi penuh: koin, cahaya, gerakan, harapan. Ia berkata dalam hati: “Gambar-gambar ini adalah benih kenyataan baruku.”
Malam harinya, di kos yang berantakan, ia membuka buku bergambar itu kembali. Ia memandang satu per satu simbol, lalu mengucapkan pelan: “Hari ini aku fokus pada apa yang ingin aku tarik ke dalam kehidupanku.” Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sedang meminta. Ia merasa sedang menanam.
Dalam pandangan Freud, sesi hipnosis ini adalah bentuk sublimasi: transformasi dorongan bawah sadar menjadi ekspresi kreatif yang konstruktif. Imajinasi Zahwa bukan pelarian, melainkan cara tubuh dan jiwa mengolah ketegangan menjadi simbol. Pulpen emas menjadi alat untuk menyalurkan dorongan batin yang sebelumnya tertekan oleh rasa takut dan rasa bersalah. Dengan menggambar pada waktu dihipnosis dan keadaan sadar pasca-dihipnosis, Zahwa tidak hanya menciptakan bentuk, tetapi juga melepaskan afek yang selama ini tertahan. Ia tidak sedang menghindari kenyataan, tetapi sedang membentuk ulang kenyataan dari dalam.
Jung akan melihat proses ini sebagai manifestasi aktif dari imajinasi sebagai fungsi transenden. Pulpen emas adalah simbol dari kekuatan arketipal: alat pencipta yang menghubungkan dunia sadar dan tak sadar. Zahwa tidak hanya menggambar, ia sedang menjalani proses individuasi—mengintegrasikan bayangan, harapan, dan kekuatan batin menjadi satu kesatuan. Simbol-simbol yang ia tarik bukan sekadar gambar, tetapi lambang dari transformasi psikologis yang sedang berlangsung. Ketika ia menyentuh gambar tas sekolah, ia menyentuh arketipe ibu, anak, dan masa depan sekaligus.
Dalam perspektif sastra, Bab 3 novel menghadirkan metafora pulpen emas, halaman kosong, tas sekolah bersinar, dan daun rambutan yang terkena cahaya. Semua ini membentuk lanskap batin yang tidak hanya indah, tetapi juga fungsional. Imajinasi dalam novel ini bukan dekorasi, tetapi alat transformatif. Zahwa digambarkan bukan sebagai tokoh pasif, tetapi sebagai pencipta realitas. Gaya naratif yang lembut dan kontemplatif memungkinkan pembaca ikut mengalami proses penciptaan itu—bukan sebagai penonton, tetapi sebagai peserta batin.
Kalimat seperti “Semesta merespons gambarku” dan “Gambar-gambar ini adalah benih kenyataan baruku” berfungsi sebagai mantra sastra. Ia menggabungkan fungsi estetika, spiritual, dan psikologis dalam satu tarikan napas. Imajinasi bukan pelarian dari kenyataan, tetapi jalan masuk ke kenyataan yang lebih dalam.
Hari ketiga ini sebenarnya bukan tentang menggambar. Ia tentang mengingat bahwa kita punya kuasa untuk mencipta. Zahwa tidak lagi menunggu dunia berubah. Ia mulai menggambar dunia yang ia pilih untuk huni. Dan dalam proses itu, ia tidak hanya menemukan harapan, tetapi juga menemukan dirinya sebagai sumber harapan itu sendiri.*



Post a Comment