-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Narasi sebagai Laboratorium Filsafat


ARKANA~  Setelah kita menyelami esensi filosofis dari "Universitas Pasca-Metafisika" melalui perspektif Jürgen Habermas, kini saatnya kita beralih ke dimensi yang tak kalah penting: cerita fiksi sebagai salah satu karya sastra. Cerita fiksi tidak hanya menyajikan ide-ide, tetapi juga sebuah dunia naratif dengan tokoh, alur, dan latar yang secara sengaja dirancang untuk menjadi laboratorium tempat ide-ide tersebut diuji. Elemen-elemen sastra ini bekerja secara sinergis untuk tidak hanya menghidupkan argumen filosofis, tetapi juga menjadikannya relevan dan mudah diakses bagi pembaca yang lebih luas.

Penulis merancang tokoh-tokoh dalam “Universitas Pasca-Metafisika” bukan sebagai individu yang terisolasi, melainkan sebagai sebuah segitiga dialektis yang merepresentasikan tiga respons utama terhadap kondisi pasca-metafisika. Ketiga tokoh utama—Rajendra, Adhigama, dan Sari—adalah perwujudan dari tiga cara fundamental manusia modern dalam berhadapan dengan keruntuhan makna. Struktur naratif ini adalah sebuah pilihan yang disengaja untuk menunjukkan bahwa tidak ada satu pun pendekatan tunggal yang cukup untuk menavigasi kompleksitas dunia kontemporer.

Rajendra, mahasiswa filsafat interkultural, adalah perwujudan dari akal atau rasionalitas. Dalam kerangka Habermas, ia mewakili tindakan komunikatif (kommunikatives Handeln). Obsesinya pada diskusi, konsensus, dan argumentasi rasional mencerminkan keyakinan Habermas bahwa solusi dapat dicapai melalui dialog yang bebas dari paksaan. Namun, melalui karakter ini, “Universitas Pasca-Metafisika” menunjukkan batas-batas dari idealisme tersebut di tengah ruang publik digital yang terfragmentasi oleh algoritma dan echo chamber. Rajendra adalah karakter yang mencoba memahami keretakan makna dari sisi logis dan teoretis.

Di sisi lain, Adhigama, mahasiswa filsafat sejarah seni, adalah representasi dari rasa, estetika, dan Dunia Kehidupan (Lebenswelt). Krisisnya bersifat eksistensial, yaitu bagaimana mempertahankan roh dan sakralitas tradisi di tengah arus komodifikasi digital. Ia berhadapan dengan kolonisasi sistem terhadap dunia kehidupannya, yang mana seni dan budaya direduksi menjadi komoditas. Perjalanan Adhigama adalah sebuah proyek hermeneutis yang penuh perasaan, sebuah upaya untuk menafsirkan kembali tradisi dari sisi emosional dan pengalaman.

Sari, sebagai aktivis kampus, adalah suara kritis materialistis yang berhadapan dengan sistem (System) dan struktur kekuasaan. Kehadirannya sangat penting karena ia mencegah “Universitas Pasca-Metafisika” jatuh ke dalam abstraksi semata. Ia mengingatkan para pembaca dan tokoh lainnya bahwa perdebatan filsafat bukanlah sebuah permainan akademis yang steril, tetapi sebuah arena pertarungan untuk keadilan sosial dan ekonomi. Sari mengikat ide-ide besar dengan realitas yang ada di jalanan, menunjukkan bahwa makna tidak hanya tentang komunikasi atau pengalaman, tetapi juga tentang dinamika kekuasaan.

Interaksi ketiga tokoh ini menunjukkan sebuah sintesis yang diperlukan. Keterangan Rajendra tentang teori Habermas menjadi kering tanpa emosi Adhigama, dan keduanya menjadi naif tanpa realitas politis yang disuarakan oleh Sari. “Universitas Pasca-Metafisika” menunjukkan, manusia pasca-metafisika bukanlah sosok yang tunggal, melainkan sosok yang harus menyatukan ketiga dimensi ini—rasionalitas, estetika, dan kesadaran politik—di dalam dirinya. Ini adalah sebuah proyek pribadi yang menjadi cerminan dari proyek sosial yang lebih besar.

Alur “Universitas Pasca-Metafisika” juga tidak bergerak secara konvensional, melainkan sebagai sebuah perjalanan ide yang terstruktur, yang mencerminkan proyek rekonstruktif Habermas. Alur “Universitas Pasca-Metafisika” dimulai dari gambaran dunia kehidupan yang retak di dalam simposium, yang mana makna-makna lama sudah tidak lagi valid. Tahap ini adalah krisis. Kemudian, alur bergeser ke praksis, yang mana Adhigama mencari wayang underground, sebuah langkah krusial untuk menemukan kembali ruang publik alternatif yang otentik, di luar institusi formal.

Puncak alur “Universitas Pasca-Metafisika” adalah transformasi universitas itu sendiri. Ini bukanlah akhir dari sebuah cerita, melainkan sebuah tindakan rekonstruksi monumental. Transformasi ini adalah perwujudan institusional dari sebuah visi yang mana dunia kehidupan (tradisi, luka, dan harapan) dapat berdialog secara terbuka dengan tindakan komunikatif (rasionalitas Habermas). Alur “Universitas Pasca-Metafisika”, dengan demikian, merupakan peta jalan naratif untuk membangun kembali sebuah masyarakat yang telah kehilangan fondasi metafisiknya.

Latar “Universitas Pasca-Metafisika” juga berfungsi sebagai komentar sosial yang aktif. Kampus Universitas Metafisika Jakarta, dengan perpaduan ornamen batik digital dan gedung-gedung modern, adalah sebuah mikrokosmos dari Indonesia modern yang mencerminkan ketegangan antara masa lalu dan masa kini. Sementara itu, latar digital seperti platform X, TikTok dan YouTube berfungsi sebagai sistem yang mengancam dunia kehidupan, tetapi juga menjadi ruang publik alternatif yang baru. Dengan menjadikan latar sebagai karakter, “Universitas Pasca-Metafisika” membuat ide-ide filosofis menjadi lebih hidup dan relevan.

Semua elemen sastra tersebut bekerja sama untuk mengubah “Universitas Pasca-Metafisika” menjadi sebuah laboratorium yang sangat efektif bagi filsafat. “Universitas Pasca-Metafisika” membuat ide-ide Habermas yang kompleks dan abstrak menjadi sesuatu yang terasa dan dialami oleh pembaca. Ia mendemokratisasi filsafat, menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari, dan mengundang pembaca untuk melihat dunia mereka sendiri melalui lensa kritis yang baru.


Post a Comment

Post a Comment