-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Romantisme Baru dan Restorasi Katedral Köln


ARKANA~  Setelah menelusuri ke dalam jurang krisis makna yang dirasakan Adhigama, kisah dalam “Universitas Pasca-Metafisika” mengalihkan fokusnya pada upaya mencari jalan keluar yang penuh harapan, sebuah romantisme baru. Kisah ini sebagai respons terhadap erosi sakralitas dan komodifikasi tradisi yang dibahas sebelumnya. Jika sekularisasi dan modernitas membuat kita tercerabut dari akar, maka romantisme baru ini adalah proyek pemulihan yang tidak menolak modernitas, melainkan berusaha menemukan kembali roh tradisi dalam bahasa yang dapat dipahami oleh generasi sekarang. Penulis menemukan kerangka pemikiran untuk ide ini dalam dokumen Habermas, khususnya saat ia menyinggung romantisme Eropa dan restorasi Katedral Köln.

Dalam teks Habermas, dijelaskan bahwa romantisme Eropa adalah sebuah gerakan yang muncul sebagai reaksi terhadap Rasinalisme Pencerahan. Gerakan ini mencoba untuk menyatukan kembali apa yang telah dipisahkan oleh Pencerahan, yaitu rasio dan iman, pengetahuan dan perasaan. Simbol dari proyek ini adalah upaya restorasi Katedral Köln, sebuah mahakarya arsitektur Gotik yang pembangunannya terhenti. Upaya untuk menyelesaikan pembangunan katedral tersebut di era modern adalah sebuah metafora yang kuat: ia adalah simbol dari keinginan untuk membangun kembali kesatuan spiritual dan budaya yang hilang. Penulis berargumen bahwa Adhigama, dalam perjalanannya, sedang melakukan proyek yang mirip dengan romantisme ini, tetapi dalam konteks yang sama sekali berbeda.

Di dalam “Universitas Pasca-Metafisika”, romantisme baru Adhigama bukanlah sebuah nostalgia buta terhadap masa lalu. Ia menyadari bahwa kembali ke masa lalu secara buta adalah hal yang naif dan mustahil. Adhigama adalah mahasiswa filsafat modern yang akrab dengan rasionalitas dan ilmu pengetahuan. Romantisme yang ia usung adalah sebuah strategi untuk berhadapan dengan sekularisasi yang membatasi diri. Alih-alih menerima tradisi sebagai relik yang diromantisasi (seperti yang dikritik oleh Sari) atau sebagai objek pasif untuk penelitian, romantisme baru ini mencoba untuk menghidupkan kembali tradisi agar ia dapat berbicara kembali kepada kita di masa kini.

Penulis menggunakan seni sebagai bahasa dari romantisme baru ini. Jika katedral adalah bahasa arsitektur, maka wayang, gamelan, dan keris adalah bahasa Adhigama. Seni memiliki kemampuan unik untuk mentranslasikan Yang Tak Terucapkan, yang tidak bisa dijelaskan oleh filsafat atau ilmu pengetahuan. Seni mampu menjembatani jurang antara Yang Sakral dan Yang Rasional dengan cara yang intim dan personal. Ketika Adhigama mendengarkan gamelan kontemporer, ia tidak hanya mendengar musik, tetapi juga mendengar gema masa lalu yang berdialog dengan masa kini. Ini adalah sebuah praksis filosofis yang melengkapi teori Habermas.

Namun, romantisme baru ini juga menghadapi ancaman yang serius, yaitu komodifikasi. Karakter kolektor seni asing merupakan perwujudan dari ancaman ini. Para kolektor ini mengagumi seni tradisional Indonesia, tetapi mereka tidak peduli dengan sakralitas atau narasi di baliknya. Bagi mereka, seni adalah komoditas yang memiliki nilai tukar di pasar global. Pertemuan Adhigama dengan kolektor ini adalah sebuah konfrontasi antara romantisme yang otentik dan kapitalisme yang dingin. Ia adalah sebuah momen yang menguji seberapa kuat romantisme baru ini dapat bertahan.

“Universitas Pasca-Metafisika” menyajikan romantisme sebagai strategi yang diperlukan untuk peneguhan diri modern Indonesia. Penulis menyadari, identitas sebuah bangsa tidak bisa dibangun hanya di atas rasionalitas dan teori. Identitas juga membutuhkan narasi, simbol, dan pengalaman kolektif yang emosional. Romantisme baru ini adalah sebuah jalan untuk menyatukan kembali kepala dan hati sebuah bangsa. Ia adalah cara untuk mengatakan, kita bisa menjadi modern, tetapi kita tidak harus melupakan siapa kita.

Romantisme baru Adhigama bukanlah akhir dari cerita, melainkan sebuah langkah awal. Ia adalah upaya untuk membangun kembali yang retak, bukan dengan memaksanya kembali menjadi utuh, tetapi dengan mengakui keretakannya dan menemukan keindahan baru di dalam pecahannya. Proyek ini adalah perwujudan dari pemikiran yang tak lagi berangkat dari doktrin, melainkan dari luka dan harapan yang dirasakan oleh sebuah generasi.

Serasa seperti berada di titik balik, “Universitas Pasca-Metafisika” tidak hanya menyajikan krisis, tetapi juga solusi. Solusi ini tidak datang dari buku-buku teks, melainkan dari seni, dari budaya, dan upaya kreatif yang berani. Ia adalah sebuah jawaban yang otentik terhadap kegelisahan pasca-metafisika yang dirasakan oleh seluruh tokoh dalam “Universitas Pasca-Metafisika”.

Melalui narasi Adhigama dan inspirasi dari Katedral Köln, penulis mengajak pembaca untuk merenungkan makna dari membangun kembali. Ia adalah sebuah tugas yang tidak pernah selesai, dialog yang tidak pernah berakhir, dan perjalanan yang terus-menerus mencari makna di tengah keruntuhan.


Post a Comment

Post a Comment