-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Mengapa Mereka Percaya? Psikologi Ketakutan dalam Komunitas

ARKANA~  Desa Gayam dalam Kerumunan adalah Neraka menjadi cermin dari bagaimana komunitas merespons situasi krisis, bukan dengan logika dan data, melainkan dengan desas-desus, mitos, dan kepercayaan lama. Ketika pandemi datang membawa bayang-bayang kematian, bukan hanya virus yang menyebar, tetapi juga rasa takut yang membuncah dan tak terkendali.

Ketakutan Kolektif dan Imajinasi Gaib

Vanua, dengan latar belakang medis dan rasionalitas modern, menyaksikan dengan getir bagaimana warga desa cepat mempercayai penampakan makhluk gaib daripada laporan ilmiah-medis. “Ketakutan mereka bukan datang dari luar, melainkan dari bayang-bayang di dalam diri sendiri,” catatnya dalam benaknya.

Makhluk-makhluk seperti kuntilanak, genderuwo, dan wewe gombel menjadi simbol dari rasa bersalah, kehilangan, dan trauma masa lalu. Sebuah bentuk kolektif dari ketakutan yang tak diberi nama dan tak tersalurkan. Maka tak heran jika kepercayaan terhadap dedemit justru menguat saat krisis, karena manusia membutuhkan bentuk konkret untuk menyematkan kecemasan yang abstrak.

Psikologi Kerumunan dan Emosi yang Menular

Fenomena ini tak lepas dari psikologi kerumunan yang telah lama dijelaskan oleh Gustave Le Bon. Ketika individu berada dalam tekanan sosial dan emosional yang tinggi, mereka cenderung melepaskan akal sehat dan larut dalam emosi kolektif. Desa Gayam, meski kecil dan terpencil, tidak kebal terhadap gejala ini. Ketakutan berkembang dari bisikan menjadi teriakan, dari keraguan menjadi kepanikan massal.

Warga percaya bukan karena mereka bodoh, tapi karena dalam keterisolasian dan kekurangan akses terhadap informasi sahih, kepercayaan menjadi satu-satunya alat bertahan. Dalam situasi seperti ini, suara Bu Minah atau Pak Karto lebih dipercaya daripada sains atau protokol kesehatan.

Penyangkalan Rasional dan Ketegangan Sosial

Vanua berulang kali mencoba menenangkan warga dengan pendekatan logis: “Apa Bapak melihatnya sendiri?”, tanyanya pada Pak Karto yang bersikukuh telah melihat kuntilanak. Tapi logika kalah oleh pengalaman afektif. Ketika seorang anak pingsan karena ketakutan, itu cukup menjadi bukti bagi komunitas bahwa makhluk halus memang ada. Rasionalitas menjadi tak berguna jika tidak mampu menyentuh akar emosional yang sedang bergejolak.

Sementara itu, Mudra mengambil pendekatan yang lebih empatik. Ia tidak menolak keberadaan dedemit secara terang-terangan, tetapi mencoba meredam kepanikan dengan tindakan kolektif seperti ronda malam dan diskusi terbuka. Baginya, ketakutan bukan untuk dibantah, tapi untuk dikelola bersama.

Ketakutan sebagai Energi Sosial

Di satu sisi, ketakutan bisa memecah belah. Tapi di sisi lain, ia juga bisa menjadi sumber energi sosial—jika diarahkan. Inilah yang berusaha dilakukan Mudra. Ia melihat bahwa dedemit, meski dalam bingkai mitos, bisa menjadi alat pedagogi komunitas: untuk kembali ke gotong royong, untuk menata ulang hubungan antarwarga, dan untuk meneguhkan nilai-nilai lama yang terabaikan.

Dalam konteks ini, kepercayaan pada makhluk halus tidak sepenuhnya harus disingkirkan. Ia bisa ditafsir ulang sebagai bagian dari mekanisme sosial dalam mengelola trauma, membangun narasi kolektif, dan memperkuat identitas komunitas.

Kepercayaan sebagai Refleksi dari Kekosongan Modern

Mengapa mereka percaya? Karena mereka tidak punya pilihan lain. Di tengah krisis, ketika ilmu dan kebijakan negara terasa jauh, yang tersisa hanyalah cerita lama dan solidaritas lokal. Maka kepercayaan terhadap dedemit bukanlah bentuk irasionalitas, tetapi ekspresi terdalam dari kebutuhan akan makna dan rasa aman.

Novel ini mengajukan pertanyaan: apakah kita sungguh lebih rasional daripada mereka? Ataukah kita hanya mengganti kuntilanak dengan algoritma, dan genderuwo dengan statistik? Di tengah dunia yang semakin rumit, mungkin kita semua tetap mencari sesuatu untuk dipercayai—apa pun bentuknya. *


Post a Comment

Post a Comment