-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Rasa Bersalah Kolektif dalam Wujud Genderuwo

ARKANA~  Dalam mitologi Jawa, genderuwo sering digambarkan sebagai makhluk raksasa berbulu hitam pekat, bermata merah menyala, dan mendiami tempat-tempat angker seperti hutan atau pohon besar. Namun dalam Kerumunan adalah Neraka, genderuwo tidak hanya hadir sebagai entitas gaib—ia merupakan personifikasi dari rasa bersalah kolektif, dari kesadaran bawah sadar warga desa yang dihantui oleh ketakutan dan penyesalan atas tindakan atau pengabaian masa lalu.

Dedemit sebagai Bayangan Diri Sendiri

Genderuwo dalam novel ini muncul tak lama setelah warga mulai kehilangan kendali atas emosi mereka. Ketakutan menyebar, kecurigaan tumbuh, dan rasa saling percaya menghilang. Munculnya sosok berbulu besar di atas pohon beringin bukan hanya klimaks horor, tapi juga manifestasi dari tekanan psikis kolektif. “Genderuwo,” bisik Mudra, saat melihat sosok tersebut, mengaitkannya langsung dengan kegelisahan spiritual yang tengah melanda desa.

Dalam dunia psikologi Jungian, genderuwo bisa dibaca sebagai “bayangan” (shadow) kolektif: sisi gelap komunitas yang selama ini ditekan, tetapi tak pernah benar-benar hilang. Semakin ditolak, ia semakin kuat. Dan saat krisis datang, ia bangkit sebagai monster yang mengintimidasi bukan dari luar, melainkan dari dalam diri sendiri.

Ketakutan sebagai Energi Sosial

Di berbagai bagian novel tidak semua warga melihat langsung makhluk gaib. Ketakutan yang dialami beberapa warga bukanlah akibat dari pengalaman langsung dengan makhluk gaib, melainkan dari cerita-cerita, desas-desus, dan perasaan bersalah atas masa lalu. Genderuwo menjadi fokus dari ketakutan itu karena ia tidak punya wajah yang pasti—ia besar, liar, dan tak terkendali. Sama seperti rasa bersalah kolektif, yang sulit ditunjuk secara spesifik tetapi selalu terasa menekan dan mengancam.

Ketika warga mulai membicarakan bahwa mungkin mereka sedang dihukum karena telah melupakan adat, merusak hutan, atau mengabaikan leluhur, kita melihat bagaimana ketakutan terhadap genderuwo berubah menjadi ritual pengakuan dosa yang samar. Mitos dan psikologi bertemu dalam satu tubuh.

Vanua dan Mudra: Dua Cara Menghadapi Bayangan

Vanua, dengan logika rasionalnya, melihat genderuwo sebagai ilusi massal, efek dari kecemasan kolektif yang membesar dalam isolasi pandemi. “Ini bukan makhluk halus,” katanya. “Ini ketakutan yang kalian ciptakan sendiri.” Tapi dalam logika desa, penyangkalan justru memperbesar horor.

Sementara Mudra memahami bahwa ketakutan tidak bisa dihadapi dengan argumen semata. Ia memilih jalan aksi sosial: membersihkan jalanan desa, penguatan solidaritas, dan mewakili warga desa untuk menembus hutan keramat. Ia tidak mengusir genderuwo dengan mantera, tetapi dengan tindakan yang menyatukan kembali warga. Genderuwo, bagi Mudra, hanyalah perwujudan dari komunitas yang tercerai-berai dan kehilangan arah.

Genderuwo Sebagai Simbol Penebusan

Puncaknya adalah ketika Vanua, Mudra, dan warga menyadari bahwa genderuwo tak akan hilang sampai mereka berdamai dengan masa lalu. “Mungkin ini bukan tentang melawan,” kata Mudra, “tapi tentang menerima bahwa kita pernah salah dan berani memperbaikinya.” Dengan perspektif ini, genderuwo tidak lagi monster yang harus ditaklukkan, tapi bagian dari proses purifikasi kolektif.

Esai ini menunjukkan bahwa dalam Kerumunan adalah Neraka, horor bukan hanya tentang makhluk menakutkan, tetapi tentang manusia yang tidak sanggup memaafkan dirinya sendiri. Genderuwo adalah cermin dari trauma sosial, dari luka kolektif yang menuntut disembuhkan, bukan disangkal. *


Post a Comment

Post a Comment