ARKANA~ Pagi itu Zahwa duduk di ruang tengah Arkana tanpa alat bantu, tanpa buku tebal—hanya selembar kertas kosong dan segelas air putih. Maya membuka sesi dengan satu kalimat yang sederhana namun dalam: “Hari ini kita memberi.” Tapi bukan kepada dunia luar, melainkan kepada satu titik sunyi yang mungkin tak pernah disentuh. Talia menambahkan bahwa keberlimpahan sering kali tidak ditahan oleh dunia, tetapi oleh hati yang enggan membagi sesuatu yang kecil.
Zahwa terdiam. Ia menyadari bahwa selama ini ia lebih sering membagi keluh dan permintaan daripada harapan dan doa. Tapi pagi itu, ia ingin mencoba. Ia memilih dua sosok dalam hidupnya: Pak Rahman, pemilik kos yang tetap ramah meski ia telat bayar, dan Mbak Nuri, petugas kebersihan kantor lama yang selalu menyapa meski tak selalu dibalas. Maya menekankan: “Pilih karena hatimu ingin mengalir, bukan karena mereka memerlukan.”
Zahwa memejamkan mata. Ia membayangkan Pak Rahman menyapu halaman, lalu mengirimkan doa: “Semoga hari ini kau diberi ketenangan.” Ia melihat Mbak Nuri menggosok kaca jendela, dan membisikkan harapan: “Semoga kau dicintai diam-diam oleh semesta.” Ia menulis tindakan itu di kertas: doa dalam diam, harapan yang tidak diucapkan, bisikan energi yang semoga menjangkau. Perasaan setelahnya: tenang. Seperti pohon yang memberi bayangan kepada pejalan, tanpa tahu siapa yang lewat.
Dalam pandangan Freud, tindakan memberi tanpa nama ini bisa dibaca sebagai bentuk sublimasi: transformasi dorongan emosional menjadi tindakan sosial yang tidak bersifat kompensatoris. Zahwa tidak memberi karena ingin diterima, tetapi karena dorongan batin untuk mengalirkan. Ini adalah bentuk kematangan psikis, yang mana ego tidak lagi terikat pada imbalan, tetapi pada kepuasan internal yang muncul dari keterhubungan. Freud juga akan melihat bahwa tindakan ini mengandung elemen pemulihan dari narsisme terluka. Dengan memberi secara anonim, Zahwa melepaskan kebutuhan untuk diakui, dan justru menemukan kekuatan dalam ketidaktahuan orang lain terhadap niatnya.
Namun dalam kerangka Jungian, pengalaman Zahwa menyentuh lapisan yang lebih dalam: aktivasi anima sebagai prinsip batin yang mengalirkan kasih tanpa syarat. Anima bukan sekadar aspek feminin dalam laki-laki, tetapi kekuatan psikis universal yang memungkinkan seseorang untuk memberi, merawat, dan beresonansi dengan kehidupan. Ketika Zahwa memberi tanpa nama, ia sedang mengakses anima sebagai sumber keberlimpahan yang tidak bergantung pada pengakuan eksternal. Anima hadir dalam bentuk intuisi, kelembutan, dan kemampuan untuk melihat makna di balik tindakan kecil. Ia adalah jembatan antara dunia sadar dan tak sadar, antara kehendak dan kebijaksanaan.
Ketika Zahwa membayangkan Mbak Nuri dan berkata, “Semoga kau dicintai diam-diam oleh semesta,” ia tidak sedang berfantasi. Ia sedang menyentuh lapisan batin yang mengenali nilai kehidupan orang lain tanpa perlu validasi. Ini adalah gerakan psikis yang menyembuhkan—karena ia mengalir dari kedalaman, bukan dari tuntutan. Dalam konteks ini, anima bukan hanya bagian dari struktur jiwa, tetapi juga sumber etika batin: memberi bukan karena harus, tetapi karena bisa.
Kisah dalam Bab 5 novel menghadirkan narasi yang halus namun kuat. Gaya puitis tetap terjaga, namun diarahkan pada tindakan konkret yang tidak spektakuler, tetapi bermakna. Kalimat seperti “Aku sedang menjadi sirkuit—mengalirkan tanpa berharap kembali” bukan hanya indah, tetapi juga mengandung kedalaman eksistensial. Zahwa tidak sedang menjadi tokoh utama, tetapi menjadi ruang bagi kehidupan orang lain untuk disentuh.
Dalam tradisi sastra spiritual, tindakan memberi sering kali digambarkan sebagai gerakan sunyi yang mengubah dunia tanpa suara. Zahwa tidak menunggu balasan, tidak menuntut pengakuan. Ia hanya memberi. Dan dalam memberi itu, ia menemukan bahwa keberlimpahan bukan tentang apa yang kita punya, tetapi tentang keberanian untuk memberi sebelum dihitung.
Hari kelima ini bukan tentang teknik atau afirmasi baru. Ia tentang keberanian untuk menyentuh titik sunyi dalam diri, dan membiarkan aliran itu bergerak ke luar. Zahwa tidak sedang mengubah dunia. Ia sedang mengubah cara ia hadir di dunia. Dan dalam perubahan itu, ia menemukan bahwa menjadi cukup bukan soal isi dompet kulit dan e-wallet, tetapi soal isi hati yang tidak takut kehilangan.
Ketika ia menutup hari dengan afirmasi: “Hari ini, Aku merangkul potensiku untuk menjadi, melakukan, dan memiliki apapun yang bisa Aku impikan,” Zahwa tidak sedang bermimpi. Ia sedang menyatakan bahwa dirinya adalah bagian dari aliran yang tidak perlu nama, tidak perlu panggung, tapi selalu cukup untuk menghidupi harapan orang lain. Dan dalam aliran itu, anima berdiam—sebagai cahaya batin yang memberi tanpa syarat, dan mencintai tanpa suara.*



Post a Comment