ARKANA~ Setelah perdebatan antara kaum kuno dan kaum modern menemukan gaungnya, penulis mengarahkan fokus ke dampak konkret dari perdebatan ini terhadap individu. Dalam “Universitas Pasca-Metafisika”, Adhigama adalah karakter yang secara paling intens merasakan krisis makna ini. Melalui perenungan Adhigama, penulis memperkenalkan konsep Habermas yang lebih teknis, yaitu Terminus ad Quem—sebuah titik akhir, sebuah batas yang memisahkan filsafat sekuler dari agama atau tradisi. Habermas menjelaskan, filsafat modern memandang agama bukan sebagai sumber kebenaran yang harus diyakini, melainkan sebagai objek penelitian yang harus dianalisis secara kritis dan rasional. Ini adalah sebuah jarak yang harus diambil, sebuah batas yang tidak boleh dilampaui.
Adhigama merasakan Terminus ad Quem ini secara personal. Ia merasakan bagaimana seni tradisional yang ia cintai, seperti wayang, keris, dan topeng, kini diperlakukan sebagai artefak historis yang harus dikaji dari kejauhan. Kehadiran hiasan batik digital di lobi kampus atau patung Semar di taman, meskipun bermaksud menghormati, justru dapat ditafsirkan sebagai bukti nyata bahwa tradisi telah dipindahkan ke dalam museum rasionalitas. Ia tidak lagi memiliki kekuatan untuk memengaruhi kehidupan sehari-hari, melainkan hanya menjadi objek yang pasif dan bisu.
Dunia digital yang terus berkembang justru mempercepat proses Terminus ad Quem ini. Layar ponsel dan komputer menjadi batas terakhir, terminus yang memisahkan antara penonton dan seni. Filter Instagram yang menggunakan motif batik, atau video wayang kulit yang dipotong-potong menjadi klip pendek di YouTube, mengubah wayang dari media sakral menjadi konten yang dikonsumsi. Fungsi wayang yang dulunya adalah ritual, edukasi, dan refleksi spiritual dalam durasi semalam suntuk, kini direduksi menjadi hiburan berdurasi 30 detik. Ini adalah bentuk sekularisasi yang paling berbahaya, yang mana Yang Sakral tidak hanya diasingkan, tetapi juga dikosongkan dari maknanya.
Krisis Adhigama adalah krisis atas hilangnya roh tradisi. Konsep roh dalam konteks ini jauh melampaui sekadar makna dalam pengertian linguistik. Roh merujuk pada daya magis, koneksi spiritual, dan kekuatan hidup yang dirasakan oleh Adhigama ketika ia berinteraksi dengan seni tradisional. Perasaan Adhigama ini menunjukkan sebuah celah dalam kerangka Habermas. Teori pasca-metafisika mungkin mampu menjelaskan mengapa kebenaran absolut tidak lagi valid, tetapi ia kesulitan menjelaskan kehilangan daya magis atau roh ini. “Universitas Pasca-Metafisika” seolah bertanya: apakah rasionalitas memiliki alat untuk mengukur dan memahami roh?
Melalui karakter Adhigama, penulis menyajikan dilema modernitas yang tidak terhindarkan. Adhigama tidak bisa menolak modernitas; ia adalah produk dari era digital. Namun, ia juga tidak bisa menerima begitu saja komodifikasi tradisi yang ia saksikan setiap hari. Ia terjebak di antara tarikan nostalgia ke masa lalu yang murni dan realitas yang merusak pada masa kini. Ia melihat bagaimana seni tradisional menjadi relik dalam pengertian yang berbeda: bukan hanya romantis, tetapi juga komersial. Wayang atau batik tidak lagi menjadi milik komunitas, melainkan menjadi milik pasar, yang menuntut mereka untuk terus-menerus menyesuaikan diri dengan tren demi kelangsungan hidup.
“Universitas Pasca-Metafisika” menggambarkan upaya Adhigama untuk mengambil kembali makna yang hilang. Perjalanan Adhigama bukanlah tentang kembali ke masa lalu, tetapi tentang mencari cara baru untuk membuat tradisi berbicara kembali. Ia tidak ingin seni menjadi objek yang mati di museum atau di layar, melainkan menjadi subjek yang hidup. Upayanya untuk menemukan wayang underground adalah perwujudan dari keinginan ini. Ia adalah upaya untuk melampaui terminus digital dan menemukan kembali ruang yang intim dan otentik untuk berinteraksi dengan tradisi.
Perjuangan Adhigama ini menjadi kritik halus terhadap universitas itu sendiri. Universitas Metafisika mungkin mengajarkan filsafat dan teori, tetapi ia gagal mengajarkan bagaimana cara mempertahankan roh tradisi di tengah tsunami digital. Institusi ini, dalam segala modernitasnya, juga menjadi bagian dari terminus yang menjauhkan mahasiswa dari pengalaman hidup yang otentik. Inilah yang menjadi pembenaran kuat bagi transformasi universitas. Ia harus menjadi Universitas Pasca-Metafisika, tempat yang tidak hanya mengakui keruntuhan makna, tetapi juga secara aktif mencari cara untuk menyalakan kembali api tafsir.
Krisis makna yang dialami Adhigama adalah sebuah cerminan dari krisis kolektif di Indonesia. Di tengah arus globalisasi, ada kegelisahan yang mendalam tentang hilangnya identitas dan roh di balik simbol-simbol budaya. Tulisan ini berfungsi sebagai sebuah jembatan yang menghubungkan teori Habermas dengan pengalaman Adhigama, menunjukkan bagaimana pemikiran filosofis dapat secara dramatis memengaruhi dan dijelaskan melalui kehidupan sehari-hari, bahkan di era digital.



Post a Comment