-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Menjaga Jarak, Menulis Secara Dekat: Etika Naratif pada Masa Krisis

ARKANA~  Pandemi bukan hanya krisis medis dan sosial, tetapi juga krisis naratif. Di tengah situasi yang serba genting dan penuh ketidakpastian, pertanyaan tentang apa yang boleh dan tidak boleh ditulis menjadi semakin relevan. Dalam proses kreatif menulis Kerumunan adalah Neraka, tantangan terbesar bukan hanya menciptakan cerita yang kuat, melainkan juga menjaga jarak etis dari penderitaan yang nyata dan hidup di luar halaman-halaman fiksi.

Di masa krisis, setiap narasi berpotensi menjadi bumerang. Apakah narasi ini menenangkan atau menyesatkan? Apakah ia memperkuat solidaritas atau memperdalam luka sosial? Menulis di masa pandemi mengharuskan saya untuk lebih waspada terhadap dampak sosial dan psikologis dari tulisan. Maka, lahirlah pendekatan yang bisa disebut etika naratif jarak dekat: bersuara dari dalam krisis, namun tetap cukup jauh untuk menjaga empati dan integritas.

Antara Dokumentasi dan Imajinasi

Novel ini tidak diniatkan sebagai laporan jurnalistik tentang pandemi. Apalagi laporan ilmiah tentang kondisi Desa dan kota pada masa pandemi. Namun, sebagian besar inspirasinya lahir dari kenyataan konkret yang terjadi di masyarakat: isolasi total berbasis wilayah, ketakutan terhadap virus, naiknya harga kebutuhan pokok, matinya interaksi sosial di warung-warung, kerugian atas jenis usaha wisata di Desa, dan hancurnya kepercayaan antarwarga. Elemen-elemen ini kemudian diolah menjadi fiksi yang menyerap realitas tetapi tidak menggunakannya secara vulgar. Tokoh-tokoh seperti Bu Minah, Mudra, dan Vanua tidak direduksi sebagai representasi penderitaan, tetapi dibentuk sebagai subjek dengan otonomi naratifnya masing-masing.

Ini adalah bentuk penghormatan: agar korban tidak menjadi objek pasif dalam fiksi. Narasi harus menjadi ruang sublimasi, bukan eksploitasi.

Fiksi sebagai Sarana Pemulihan

Dengan menampilkan gotong royong yang memudar dan keheningan yang menyelimuti warung-warung desa, novel ini menyoroti hilangnya relasi sosial sebagai tragedi utama dalam pandemi. Namun, ia juga menawarkan kemungkinan pemulihan. Sari, misalnya, tidak hanya memelihara harapan melalui kisah dongeng, tetapi juga menghidupkan kembali narasi sebagai alat etis yang mengubah ketakutan menjadi pemahaman.

Dengan cara ini, Kerumunan adalah Neraka tidak menjadikan pandemi sebagai panggung sensasional, melainkan sebagai ruang refleksi. Menulis secara dekat dengan krisis bukan berarti menyalin peristiwa apa adanya, melainkan menerjemahkan suasana batin kolektif menjadi struktur naratif yang bisa memulihkan martabat manusia.

Jarak yang Diperlukan

Dalam menulis, ada godaan untuk menjadi “terlalu dekat” dengan penderitaan: menuliskan cerita yang terlalu personal, rinci, atau terlalu emosional. Jujur, saya sering marah melihat kerumunan dibubarkan atau dilarang melalui corong suara. Di sisi lain, menjaga jarak terlalu jauh akan membuat tulisan menjadi dingin dan tidak menyentuh. Maka, dibutuhkan keseimbangan: mendekati tanpa menyentuh luka dengan tangan kotor, dan menjaga jarak tanpa kehilangan kepekaan.

Tokoh Vanua yang datang dari kota dengan trauma dan skeptisisme, berdampingan dengan Mudra yang menjaga tradisi lokal dengan empati, menjadi alegori dari ketegangan antara jarak emosional dan kedekatan sosial. Mereka berdua mewakili dua kutub yang perlu hadir dalam penulisan etis: kedalaman refleksi dan kepekaan terhadap batas.

Menulis Sebagai Tanggung Jawab

Novel ini sadar akan dirinya sendiri sebagai karya yang lahir dari krisis. Ia tidak mengklaim kebenaran tunggal, melainkan mengajak pembaca untuk menyusuri kepingan realitas dari berbagai sisi: sains, mitos, rasa takut, dan solidaritas. Etika naratif bukan hanya soal apa yang ditulis, tetapi mengapa dan untuk siapa tulisan itu hadir.

Penulis bukan hanya pengarang cerita, tetapi juga saksi yang bertanggung jawab. Fiksi bisa melukai, tetapi ia juga bisa menyembuhkan—dan tugas penulis adalah memilih yang kedua.*


Post a Comment

Post a Comment