ARKANA~ Setelah kita menyelami dinamika tokoh, alur, dan peran pembaca, kini saatnya kita fokus pada salah satu elemen paling simbolis dalam “Universitas Pasca-Metafisika”: mural di tembok belakang fakultas yang menggambarkan Semar berdampingan dengan Habermas. Elemen ini bukan sekadar hiasan artistik; ia adalah tesis visual yang merangkum seluruh proyek filosofis “Universitas Pasca-Metafisika”. Mural ini secara berani mencoba mendamaikan dua tradisi pemikiran yang sekilas tampak bertentangan, yaitu kearifan lokal Indonesia dan rasionalitas universal Eropa.
Semar, sebagai tokoh punakawan dalam wayang, melambangkan kearifan lokal yang mendalam. Ia adalah simbol dari tradisi, spiritualitas, dan dunia kehidupan (Lebenswelt) yang berakar kuat dalam budaya Jawa. Kehadiran Semar dalam mural ini adalah penegasan, filsafat tidak bisa terlepas dari konteks partikular dan pengalaman hidup yang terwujud dalam mitologi dan tradisi. Semar adalah penjaga sakralitas, suara yang mengingatkan kita akan dimensi makna yang tidak bisa diukur oleh logika rasional semata.
Di sisi lain, Habermas melambangkan rasionalitas modern yang universal. Ia adalah representasi dari tindakan komunikatif dan pemikiran pasca-metafisika yang berakar pada Pencerahan Eropa. Habermas, dalam mural ini, adalah simbol dari rasio, dialog, dan prosedur yang ideal untuk mencapai konsensus. Kehadirannya menunjukkan bahwa “Universitas Pasca-Metafisika” tidak ingin kembali ke masa lalu yang dogmatis, melainkan ingin membawa kearifan lokal ke dalam dialog yang rasional dan terbuka dengan dunia modern.
Mural Semar berdampingan dengan Habermas adalah visualisasi dari dialog interkultural yang digagas oleh “Universitas Pasca-Metafisika”. Cerita fiksi ini menolak pandangan bahwa partikularisme (Semar) dan universalisme (Habermas) harus selalu bertentangan. Sebaliknya, ia menyajikan kemungkinan sintesis yang mana keduanya dapat saling memperkaya. Ini adalah sebuah pernyataan, identitas Indonesia modern dapat terbentuk dari dialog yang setara antara tradisi dan modernitas. Mural ini menjadi manifesto visual dari Universitas Pasca-Metafisika, sebuah tempat bagi jembatan antara dua dunia ini dibangun.
Lebih dari itu, simbolisme garuda transparan dan pelita tafsir memberikan lapisan makna yang lebih dalam. Garuda melambangkan identitas nasional, tetapi ia transparan, yang menunjukkan bahwa identitas itu tidaklah kaku, dogmatis, atau terisolasi. Garuda transparan adalah metafora untuk sebuah identitas nasional yang terbuka, inklusif, dan siap berdialog dengan berbagai tradisi. Di paruhnya, pelita tafsir menyala, melambangkan rasionalitas yang tidak mencari kebenaran mutlak, melainkan terus-menerus bertanya dan menafsirkan. Ini adalah api yang harus terus menyala di tengah keruntuhan makna, sebuah sumber cahaya yang tidak dogmatis.
Mural ini juga menjadi kritik terselubung terhadap monopoli makna. Dengan menempatkan Semar dan Habermas berdampingan, penulis menolak hegemoni dari satu pihak atas yang lain. Ini adalah sebuah deklarasi, tidak ada satu pun otoritas tunggal—baik dari tradisi maupun dari rasio—yang berhak mengklaim kebenaran mutlak. Kebenaran, dalam visi “Universitas Pasca-Metafisika” ini, adalah sebuah hasil dari dialog yang terus-menerus.
Mural ini juga memiliki relevansi edukasi yang sangat tinggi. Ia adalah ajakan visual bagi pembaca untuk melihat identitas mereka sendiri sebagai sesuatu yang dinamis dan terbuka, yang merangkul keragaman sebagai kekuatan. Ia mengajarkan bahwa kearifan tidak hanya ditemukan dalam buku-buku tebal, tetapi juga dalam seni tradisional. Dan bahwa rasionalitas tidak hanya tentang argumen, tetapi juga tentang dialog yang hormat dan terbuka. Dengan demikian, mural ini adalah jantung simbolis dari “Universitas Pasca-Metafisika”, sebuah peta jalan visual untuk menavigasi kompleksitas dunia pasca-metafisika.



Post a Comment