-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Apakah Tuhan Tinggal di Desa? Tafsir Mistis Pascapandemi

ARKANA~  Pandemi telah memporak-porandakan dunia, tetapi di Kerumunan adalah Neraka, dampaknya tak hanya fisik. Novel ini menampilkan Desa Gayam sebagai ruang spiritual yang diguncang secara kolektif—tidak hanya oleh virus, tetapi juga oleh pertanyaan yang lebih mendasar: apakah Tuhan masih hadir bersama mereka?

Di tengah ketakutan, desa yang dulu hangat dan religius perlahan menjadi sunyi. Balai desa kehilangan maknanya sebagai pusat dialog. Warung Bu Minah tak lagi menjadi ruang tawa. Dan suara gamelan yang dulunya menjadi persembahan bagi leluhur, kini berubah menjadi nada gugup yang merapal doa di tengah ancaman tak kasatmata.

Desa sebagai Tubuh Iman

Desa dalam novel ini digambarkan sebagai tubuh spiritual kolektif. Ketika ketakutan merajalela dan warga mulai kehilangan kepercayaan satu sama lain, tubuh itu pun sakit. Maka, pertanyaannya bergema: apakah Tuhan meninggalkan tubuh desa ini? Ataukah manusia sendiri yang menutup pintu kehadiran-Nya?

Ki Rajendra dan Mudra tidak memberikan jawaban dogmatis. Sebaliknya, mereka menuntun komunitas pada sebuah upaya bersama: menyapu desa, membersihkan selokan, menanam bunga. Tindakan-tindakan ini tampak biasa, tetapi menjadi bentuk liturgi baru—ritus keseharian yang memulihkan kepercayaan.

Tuhan dalam Gong dan Bayang-bayang

Dalam bab "Penjaga Harmoni", narasi mencapai puncak spiritualitas mistis. Saat gong gamelan ditabuh dan tembang kuno mengalun, seolah tirai antara dunia nyata dan dunia leluhur tersingkap. Para sesepuh berbisik: Para leluhur telah datang. Angin malam membawa bisikan dari dunia tak kasatmata. Dalam momen itu, Tuhan seakan hadir bukan sebagai figur abstrak, tetapi sebagai vibrasi kolektif, sebagai energi ilahi yang berdiam dalam harmoni desa.

Tuhan hadir bukan dalam bentuk kilat dari langit, tetapi dalam gong yang dipukul oleh “tangan lain”, dalam do’a Sari yang dilantunkan dalam bahasa Jawa kuno, dalam tanah yang bergetar seperti menghela napas panjang.

Pascapandemi: Tuhan dalam Keberanian Komunal

Mudra menolak narasi bahwa pandemi adalah azab. Ia mengajak warga berdiskusi, menjaga akal sehat tanpa menyingkirkan rasa spiritualitas. Ia menempatkan Tuhan bukan sebagai penghukum, tetapi sebagai kekuatan yang hadir dalam keberanian kolektif. Ketika warga bersatu kembali, ketika mereka berhenti menyalahkan dan mulai saling mendengar, maka Tuhan kembali “tinggal” di desa—bukan di langit, tapi di dalam relung gotong royong yang pulih.

Tafsir ini mengingatkan kita pada gagasan teologi partisipatoris: Tuhan hadir ketika manusia menghidupi cinta, empati, dan solidaritas. Novel ini tidak menawarkan jawaban eskatologis, tetapi jawaban etis—bahwa Tuhan bukan hanya sesuatu yang dipercayai, tetapi sesuatu yang dihidupi bersama.

Tuhan Tidak Pergi, Kita yang Menutup Pintu

Kerumunan adalah Neraka menunjukkan bahwa pertanyaan “Apakah Tuhan tinggal di desa?” bukan pertanyaan tentang lokasi, melainkan relasi. Selama warga masih menyalahkan, saling curiga, dan lupa merawat kebersamaan, Tuhan akan terasa jauh. Tapi ketika mereka berkumpul, membersihkan jalanan, menyalakan api unggun, dan menyanyikan tembang leluhur—maka Tuhan hadir. Ia tidak pernah benar-benar pergi. Yang hilang hanyalah kepekaan kita untuk menyambut-Nya.*



Post a Comment

Post a Comment