-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Rasionalitas dan Ritual: Benturan Epistemik Vanua–Mudra

ARKANA~  Dalam Kerumunan adalah Neraka, kita menyaksikan ketegangan epistemik yang tajam antara dua cara memahami kenyataan: rasionalitas ilmiah dan ritualitas tradisional. Perdebatan antara Vanua dan Mudra menjadi pusat dari ketegangan ini, memperlihatkan dua bentuk pengetahuan yang tidak hanya saling berseberangan, tetapi juga saling menantang, bahkan menyembuhkan.

Dua Dunia, Dua Bahasa Kebenaran

Vanua datang ke Desa Gayam dengan latar belakang sebagai tenaga medis yang terbiasa dengan data, logika, dan protokol. Ia skeptis terhadap segala bentuk supranatural. Baginya, ketakutan warga terhadap kuntilanak atau genderuwo hanyalah ekspresi dari trauma dan kepanikan. Rasionalitas adalah satu-satunya alat untuk membedakan realitas dan delusi.

Sebaliknya, Mudra percaya pada kekuatan komunitas dan makna simbolik dari ritual. Ia tidak secara naif menelan kepercayaan lama, tetapi mencoba membacanya sebagai ekspresi sosial dan psikologis warga. Ritual membersihkan desa, ronda malam, atau diskusi di balai desa dilihatnya sebagai cara untuk mengikat solidaritas kolektif, bukan sekadar upacara kosong.

Epistemologi Tubuh dan Pengalaman

Perbedaan antara Vanua dan Mudra bukan hanya pada isi pemikiran, tetapi juga pada jenis pengalaman yang membentuknya. Vanua adalah penyintas trauma kota besar, terbiasa dengan kematian massal dan disinformasi pandemi. Pengalamannya membentuk kepercayaan bahwa hanya data yang dapat menyelamatkan manusia dari kekacauan.

Sementara itu, Mudra adalah anak desa yang tumbuh dalam laku harian komunitas: kerja bakti alias gotong royong dalam artian sempit, mengurus BUM Desa, dan mitologi lokal. Ia tidak hanya meyakini ritual, tetapi merasakannya secara “embodied”—sebagai bagian dari jaringan relasi dan makna yang tidak bisa dipisahkan dari tanah tempat ia berpijak.

Konvergensi dalam Krisis

Ketika krisis semakin memuncak, dan teror supranatural tidak bisa lagi dibantah oleh sekadar logika, Vanua mulai goyah. Ia melihat bahwa pendekatan rasional belaka tidak cukup. Ia pun menyaksikan sendiri bagaimana dedemit, suara-suara, dan fenomena misterius membuat warga kehilangan akal sehat, bukan karena bodoh, tapi karena ketakutan tak lagi bisa dijelaskan dengan teori.

Di titik inilah keduanya mulai saling belajar. Vanua mulai memahami bahwa ritual bukan sekadar relik masa lalu, melainkan bahasa emosional kolektif. Sementara Mudra menerima bahwa rasionalitas penting untuk mencegah komunitas tenggelam dalam kepanikan tak berdasar. Mereka saling melengkapi.

Desa Sebagai Ruang Epistemik Hibrida

Desa Gayam lalu tampil bukan sebagai ruang yang purba dan tertinggal, tetapi sebagai laboratorium epistemik: tempat dua bentuk pengetahuan—sains dan spiritualitas—saling menguji, menyesuaikan, bahkan berdamai. Benturan antara ritual dan rasionalitas tidak menghasilkan pemenang, melainkan narasi baru yang lebih kaya: kebersamaan yang tidak buta pada mitos, tetapi juga tidak membabi buta menolak takhayul.

Dalam banyak momen, kita melihat bagaimana ritual dibutuhkan bukan karena benar secara ilmiah, tetapi karena menyatukan. Dan rasionalitas dibutuhkan bukan karena kering dari rasa, tapi karena menyaring yang berlebihan. Keduanya adalah alat untuk bertahan dalam realitas yang kompleks.

Perjumpaan epistemik antara Vanua dan Mudra bukan sekadar debat dua tokoh, tapi representasi dari pergulatan manusia modern dalam mencari makna di tengah dunia yang terus berubah: antara ritual lama yang mengandung kedekatan emosional, dan rasionalitas baru yang menjanjikan efisiensi namun dingin.*


Post a Comment

Post a Comment