-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Wayang Underground


ARKANA~  Setelah orasi politis Sari yang menohok, “Universitas Pasca-Metafisika” kembali ke ranah yang lebih personal dan simbolis melalui karakter Adhigama. Penulis dengan sengaja menciptakan sebuah plot twist kecil di sini: Adhigama menerima pesan misterius tentang sebuah pertunjukan wayang underground.

Peristiwa itu, yang mungkin terlihat sepele, sesungguhnya adalah inti dari proyek filosofis “Universitas Pasca-Metafisika”. Wayang underground bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan sebuah metafora yang kuat untuk upaya merebut kembali makna tradisi di luar institusi formal yang cenderung rasional dan terkadang steril. Penulis menggunakan momen ini untuk menyajikan solusi yang berbeda terhadap krisis makna, sebuah solusi yang mungkin tidak ditemukan dalam teks Habermas tentang sejarah filsafat, melainkan dalam praksis budaya yang hidup.

Dalam kerangka Habermas, pemikiran pasca-metafisika (post-metaphysical thinking) adalah upaya untuk membangun dialog di tengah keruntuhan makna. Ia adalah sebuah cara berpikir yang tidak lagi mencari fondasi mutlak (seperti Tuhan atau Rasionalitas murni), melainkan mencari kebenaran dalam proses konsensus rasional itu sendiri. Namun, dialog Habermas seringkali dianggap terlalu teoretis dan bergantung pada ruang publik yang ideal. Wayang underground yang digagas oleh penulis adalah sebuah bentuk dialog yang berbeda. Ia adalah dialog yang terjadi di ruang yang tidak ideal, di luar kontrol institusi, dan yang menggunakan bahasa simbol daripada bahasa argumentasi.

Pertunjukan wayang underground ini dapat ditafsirkan sebagai laboratorium bagi romantisme baru yang tidak mengorbankan rasionalitas. Romantisme yang dimaksud di sini bukanlah nostalgia buta terhadap masa lalu, melainkan sebuah upaya untuk menghidupkan kembali roh tradisi, untuk menemukan kembali daya magis dan sakralitas yang telah hilang akibat komodifikasi. Penulis menyajikan ide, romantisme ini adalah strategi perlawanan terhadap sekularisasi yang membatasi diri. Alih-alih menerima tradisi sebagai relik yang diromantisasi (seperti yang dikritik oleh Sari), romantisme baru ini mencoba menghidupkan kembali tradisi agar ia dapat berbicara kembali kepada kita di masa kini.

“Universitas Pasca-Metafisika” juga menyajikan wayang bukan sebagai objek pasif yang dikonsumsi, melainkan sebagai subjek aktif yang mampu berdialog. Melalui wayang underground, penulis mengembalikan kuasa tafsir kepada komunitas kecil yang intim, jauh dari hiruk-pikuk ruang publik digital yang penuh kebisingan. Di dalam pertunjukan ini, Yang Sakral dan Yang Rasional tidak lagi bertentangan, melainkan saling melengkapi. Wayang dengan narasi-narasi kunonya dapat menjadi medium yang membantu audiens merenungkan pertanyaan-pertanyaan filosofis tentang identitas, kebenaran, dan kehidupan dalam bahasa yang lebih intim dan simbolis.

Penulis menggunakan adegan ini untuk menunjukkan, solusi terhadap krisis makna tidak hanya bisa datang dari teori atau institusi. Solusi juga bisa datang dari seni, komunitas, dan upaya kreatif yang berani keluar dari kerangka berpikir yang sudah ada. Wayang underground adalah perwujudan dari pemikiran yang tak lagi berangkat dari doktrin, melainkan dari luka (kekhawatiran akan hilangnya makna) dan harapan (keyakinan bahwa makna dapat ditemukan kembali).

Wayang underground menawarkan jalan tengah antara rasionalitas Habermas dan relativisme budaya yang ekstrem. Wayang tidak dipuja sebagai kebenaran mutlak, tetapi sebagai batu pijakan untuk bertanya lebih jauh. Ia adalah sebuah teks yang harus ditafsirkan, simbol yang harus direnungkan, dan narasi yang terus-menerus diperbarui. Pertunjukan ini menjadi dermaga wacana yang sesungguhnya, tempat bagi dialog yang otentik dapat terjadi, jauh dari kebisingan media sosial.

Pada akhirnya, wayang underground adalah sebuah resolusi yang dinamis. Ia bukan akhir dari cerita, melainkan awal dari dialog yang baru. Melalui Adhigama, penulis menunjukkan bahwa seni adalah bahasa yang mampu mentranslasikan Yang Tak Terucapkan, yang mampu menjembatani Yang Tak Terjembatani. Ia adalah bahasa yang mampu mendamaikan Yang Sakral dengan Yang Rasional, yang mampu membawa kembali roh tradisi ke dalam jantung modernitas.

Penulis berupaya menyajikan sebuah model dialog yang baru, yang menggabungkan kedalaman pemikiran pasca-metafisika dengan kekuatan ekspresi artistik. Ini adalah sebuah langkah awal menuju Universitas Pasca-Metafisika yang sesungguhnya, sebuah institusi yang tidak hanya mengajarkan filsafat, tetapi juga seni, sebagai jalan untuk menemukan makna di tengah keruntuhan.


Post a Comment

Post a Comment