ARKANA~ Setelah kita menelusuri setiap lapisan “Universitas Pasca-Metafisika”—mulai dari dialektika antara Semar dan Habermas, dinamika tokoh sebagai cerminan tindakan komunikatif, hingga visi utopia rekonstruktif dari sebuah universitas baru (Universitas Pasca-Metafisika)—kita tiba pada babak penutup.
“Universitas Pasca-Metafisika” tidak berakhir pada resolusi definitif, melainkan pada sebuah undangan terbuka yang merangkum seluruh esensinya: "dari dermaga itulah, kisah ini akan berlayar menuju penghampiran tak terbatas." Kalimat penutup dalam “Universitas Pasca-Metafisika” bukanlah sekadar akhir cerita, ia adalah sebuah titik awal, sebuah prolog yang mewariskan misi tafsir kepada pembaca.
Warisan terbesar “Universitas Pasca-Metafisika” terletak pada upaya mendemokratisasi filsafat dan menjadikannya alat praktis untuk dunia kontemporer. Jika filsafat Habermas seringkali dianggap rumit dan terperangkap di dalam menara gading akademis, “Universitas Pasca-Metafisika” membawanya ke jalanan Jakarta, perdebatan media sosial, dan kegelisahan personal. Ia mengikat konsep-konsep abstrak dengan realitas yang bisa dirasakan, sehingga filsafat tidak lagi menjadi domain para ahli, tetapi menjadi bagian dari dunia kehidupan (Lebenswelt) setiap individu.
Secara spesifik, “Universitas Pasca-Metafisika” memiliki relevansi dengan dunia literasi digital. Dermaga wacana yang digambarkan “Universitas Pasca-Metafisika” dapat diinterpretasikan sebagai sebuah metafora untuk ruang publik digital yang kita tinggali. Kita semua adalah pelayar yang berinteraksi di dermaga ini, yang mana arus informasi, opini, dan narasi datang dan pergi tanpa henti. Namun, menjadi literat digital tidak hanya berarti mampu membaca dan menulis di platform-platform digital. Literasi digital sejati, dalam perspektif “Universitas Pasca-Metafisika”, adalah kemampuan filosofis.
“Universitas Pasca-Metafisika” melatih pembaca untuk menjadi konsumen digital yang kritis. Melalui pergulatan Rajendra yang mencoba memahami berita perang di Gaza melalui platform X, “Universitas Pasca-Metafisika” menunjukkan betapa pentingnya tindakan komunikatif yang kritis. Pembaca diajak untuk tidak secara pasif menerima informasi, tetapi untuk menganalisisnya, mencari sumber yang beragam, dan membedakan antara fakta dan propaganda. Ini adalah keterampilan paling mendasar yang diperlukan untuk menavigasi lautan informasi yang penuh misinformasi.
Lebih dari itu, “Universitas Pasca-Metafisika” mendorong pembaca untuk menjadi pencipta makna di dunia digital, bukan sekadar konsumen. Pencarian wayang underground oleh Adhigama adalah sebuah ajakan untuk menemukan dan memproduksi makna yang otentik di tengah kolonisasi sistem yang mengubah segalanya menjadi komoditas. Di era yang mana identitas seringkali direduksi menjadi konten atau branding, “Universitas Pasca-Metafisika” mengingatkan kita untuk mempertahankan roh dan kedalaman dari tradisi dan pengalaman. Literasi digital yang sejati, dengan demikian, adalah tentang memiliki keberanian untuk menjadi otentik.
Sensitivitas politis penting juga untuk dunia literasi digital. Melalui kritik tajam Sari, pembaca memahami dinamika kekuasaan yang tersembunyi di balik algoritma dan platform. Siapa yang mengendalikan narasi? Siapa yang diuntungkan? “Universitas Pasca-Metafisika” mengajarkan bahwa ruang publik digital bukanlah arena netral, tetapi sebuah medan kekuatan. Literasi digital yang kritis berarti mampu membaca kekuasaan di antara baris-baris kode dan postingan yang kita lihat setiap hari.
Ujung cerita, “Universitas Pasca-Metafisika” memberikan pelita tafsir sebagai bekal. Pelita ini adalah sebuah alat hermeneutik yang memungkinkan kita untuk mengurai kompleksitas dunia digital yang retak. Ia adalah perpaduan antara rasionalitas (Habermas) dan kearifan (Semar) yang dibutuhkan untuk menjadi manusia pasca-metafisika pada abad ke-21. “Universitas Pasca-Metafisika” adalah jembatan antara teori dan praksis, antara masa lalu dan masa depan.
Bagian akhir dari “Universitas Pasca-Metafisika” adalah sebuah prolog dari perjalanan yang lebih besar. “Universitas Pasca-Metafisika” tidak memberikan jawaban final, tetapi sebuah ajakan untuk terus berdialog, bertanya, dan menafsirkan. Dari dermaga wacana, setiap pembaca diundang untuk berlayar ke penghampiran tak terbatas, membawa pelita tafsir mereka sendiri, dan menjadi bagian dari proyek rekonstruktif yang tiada henti, di dunia nyata maupun di dunia digital.*



Post a Comment