-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Hari Ke-11: Di Antara Menginginkan dan Mengizinkan



ARKANA~  Zahwa datang ke Arkana dengan sisa-sisa ketegangan yang tak terucapkan. Tiga hari terakhir, ia terseret oleh harapan-harapan kecil: pekerjaan yang belum membaik, pesan yang tak dibalas, tubuh yang tak kunjung ringan. Semua tampak sepele, tapi menyimpan beban besar. Maya menyambutnya dengan kalimat yang menjadi inti bab 11 novel Hipnosis Arkana: “Hari ini bukan tentang menginginkan. Hari ini tentang membiarkan.”

Bab 11 adalah bab tentang transisi dari tekad (willpower) menuju rasa percaya (trust). Zahwa tidak sedang menyerah. Ia sedang mengizinkan. Dan dalam dunia psikologi, mengizinkan bukan kelemahan. Ia adalah bentuk tertinggi dari kepercayaan batin.

Dalam pandangan Freud, keinginan adalah dorongan dasar yang membentuk struktur psikis. Tapi ketika keinginan berubah menjadi obsesi untuk mengatur, ia menjadi beban. Freud menyebut bahwa ego release—melepaskan kontrol atas hasil—adalah langkah penting dalam proses penyembuhan. Ketika Zahwa membiarkan rencana minggu depan berubah menjadi debu dalam visualisasi, ia sedang melepaskan pemenuhan/pemuasan keingingan (wish fulfillment) yang tidak sehat. Ia tidak berhenti berharap. Ia berhenti memaksa.

Jung akan melihat bab ini sebagai bentuk surrender to Self—penyerahan dari ego kecil kepada pusat batin yang lebih luas. Sungai dalam visualisasi bukan hanya metafor. Ia adalah simbol dari flow consciousness—kesadaran yang tidak mengatur, tetapi mengalir. Sosok-sosok di tepi sungai (pekerjaan, hubungan, impian, harapan sosial) adalah bagian dari Zahwa yang selama ini ingin dikendalikan. Ketika mereka menyatu ke dalam arus, Zahwa tidak kehilangan mereka. Ia mengintegrasikan mereka ke dalam aliran hidup.

Hipnosis dalam sesi ini berfungsi sebagai teknik pelepasan kontrol. Kalimat seperti “Bayangkan saat udara keluar, tubuhmu melepaskan keinginan untuk mengatur” adalah somatic cue—penanda tubuh untuk melepaskan. Ketika Zahwa berkata, “Izinkan mereka pergi,” ia tidak sedang menghapus impian. Ia sedang mengizinkan impian untuk tumbuh tanpa paksaan.

Bab 11 menghadirkan simbol sungai sebagai metafor aliran hidup, bayangan sebagai representasi rencana yang tidak perlu dikendalikan, dan lilin sebagai penanda kepercayaan. Kutipan seperti “Seperti sungai yang tidak dikendalikan bendungan. Kadang pelan, kadang deras, kadang berubah arah. Tapi selalu menuju laut” adalah titik naratif yang mengubah cara pembaca memaknai kontrol. Kontrol bukan kekuatan. Ia bisa menjadi penghalang.

Struktur bab ini bergerak dari ketegangan menuju pelepasan. Dari rencana yang ingin diatur menuju afirmasi yang diucapkan dengan napas. Dari daftar impian menuju kepercayaan terhadap waktu semesta. Zahwa tidak sedang pasif. Ia sedang aktif dalam kepercayaan.

Tugas menulis lima hal yang ingin dikendalikan menjadi pintu masuk ke refleksi batin. Zahwa memilih dua: harapan agar pesan dibalas, dan keinginan agar impian datang tepat waktu. Ia tidak melawan keduanya. Ia mengizinkan keduanya untuk tidak terjadi. Dan dalam pengizinan itu, ia menemukan bahwa nilai diri tidak tergantung pada respon orang lain, dan bahwa impian tidak datang dari peta, tapi dari getaran.

Refleksi Zahwa menunjukkan bahwa pelepasan bukan penghapusan. Ia adalah transformasi. Ia menulis:

Respon bukan cermin nilai diri. Aku tetap cukup meski tidak dibalas.”

Aku izinkan waktu dari Semesta untuk menyusunnya. Tugasku hanya melangkah.”

Dalam tradisi sastra spiritual, tindakan melipat kertas afirmasi dan meletakkannya di bawah bantal adalah bentuk ritual kepercayaan. Ia tidak membutuhkan bukti. Ia hanya membutuhkan niat. Zahwa tidak sedang mengatur hidup. Ia sedang mempercayai hidup.

Kalimat penutup bab ini menjadi inti dari seluruh proses batin Zahwa: “Hari ini Aku melepaskan keinginan untuk mengontrol, dan mempercayai bahwa Semesta tahu jalan terbaik menuju impianku.”

Dalam kalimat itu, Zahwa tidak hanya melepaskan. Ia mulai mengizinkan. Dan dari pengizinan itulah, keberlimpahan mulai bisa bergerak.*


Post a Comment

Post a Comment