-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Neraka sebagai Konstruksi Sosial: Tafsir Foucaultian

ARKANA~  Dalam Kerumunan adalah Neraka, narasi tentang dedemit, ketakutan, dan kehilangan kendali tidak hanya dimaknai sebagai elemen horor atau fantasi. Sebaliknya, novel ini membentuk sebuah medan diskursif yang mana “neraka” hadir bukan sebagai dimensi metafisik, melainkan sebagai konstruksi sosial—dibentuk oleh relasi kuasa, kontrol wacana, dan distribusi ketakutan.

Kuasa, Tatapan, dan Disiplin Sosial

Ketakutan dalam novel bekerja sebagaimana mekanisme panoptikon dalam pemikiran Michel Foucault. Warga desa saling menatap, saling mengawasi, bahkan saling membatasi satu sama lain. Vanua menggambarkan pengalamannya sebagai rasa terperangkap dalam “tatapan orang lain” yang seolah mengikat kebebasannya.

Dalam salah satu momen paling intens, ia menyamakan desanya dengan panggung eksistensial Sartrean: setiap individu adalah subjek yang dijadikan objek oleh orang lain. Namun, pendekatan Foucault membawa kita lebih jauh: bukan hanya individu yang menderita karena tatapan, tetapi masyarakat secara keseluruhan dibentuk oleh logika pengawasan dan normalisasi.

Tradisi dan kepercayaan menjadi mekanisme kontrol. Dedemit, ritual, dan hukum adat bukan hanya narasi, tetapi struktur disipliner yang menjaga “ketertiban sosial” meski di bawah ancaman pandemi dan kematian misterius.

Wacana Dedemit dan Produksi Ketakutan

Novel ini menampilkan makhluk-makhluk seperti kuntilanak, genderuwo, dan dedemit Nyi Lorong menjadi artikulasi dari ketakutan kolektif, tetapi lebih dari itu: mereka juga berfungsi sebagai pengetahuan yang memproduksi realitas. Dalam kerangka Foucault, pengetahuan tidak netral—ia adalah bentuk kuasa. Siapa yang menguasai narasi tentang dedemit, menguasai ketertiban desa.

Misalnya, ketika Nyi Lorong menyampaikan pesan gaib melalui Kepala Desa, yang diresapi dengan simbolisme Tarot dan ketertiban kosmik, ia tidak sedang bicara sebagai sosok mistis belaka. Ia menjadi aktor dalam pengaturan ulang relasi kuasa di desa—menggeser dominasi pemerintah desa konvensional menjadi kekuasaan simbolik yang justru lebih efektif dalam mengontrol warga.

Neraka: Dari Alam Gaib ke Alam Sosial

Pergeseran konsep neraka dalam novel ini sangat signifikan. Alih-alih membayangkannya sebagai tempat siksaan setelah mati, “neraka” dimaknai sebagai situasi sosial yang penuh tekanan, ketakutan, dan pengawasan berlebih. Dalam terminologi Foucault, ini adalah masyarakat yang terus-menerus berada dalam keadaan siaga, yang mana kebenaran diproduksi oleh ketakutan dan keteraturan dibangun melalui ancaman—baik nyata maupun imajiner.

Ketika Vanua berkata, “kerumunan bisa menjadi monster kolektif yang kehilangan akal,” ia sedang menyuarakan bukan hanya ketakutan personal, tapi struktur sosial yang melahirkan histeria kolektif. Neraka, dengan demikian, bukan tempat, melainkan kondisi: sebuah ekosistem sosial yang membatasi agensi individu melalui repetisi trauma dan ketundukan kolektif.

Menuju Tafsir Emansipatif

Novel ini tidak berhenti pada diagnosis sosial. Ia mengisyaratkan kemungkinan emansipasi. Melalui figur seperti Ki Rajendra dan simbol The Empress, novel ini membuka ruang untuk berpikir ulang soal otoritas, kepemimpinan, dan peran komunitas. The Empress bukan tiran tapi penjaga keseimbangan. Neraka bisa dibalik menjadi “rumah” bilamana komunitas mampu mengolah ketakutan menjadi solidaritas, dan kuasa menjadi perawatan.

Dengan membacanya dari sudut Foucaultian, Kerumunan adalah Neraka menjadi lebih dari sekadar novel horor. Ia adalah refleksi tentang bagaimana masyarakat—terutama dalam krisis—membentuk kebenaran, menetapkan normalitas, dan memproduksi “neraka” melalui mekanisme sosial yang terlihat sepele namun sangat kuat.*


Post a Comment

Post a Comment