-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Keberlimpahan adalah Keberanian untuk Hadir



ARKANA~ Keberlimpahan bukan angka. Ia bukan hasil panen, bukan daftar pencapaian, bukan sorotan pencapaian yang diam-diam kita bandingkan dalam hati. Ia adalah gerak batin yang pelan, sebuah keberanian untuk hadir di tengah ketidaksempurnaan. Ia bukan milik mereka yang selesai, tetapi milik mereka yang bersedia berjalan meski belum tahu arah.

Selama dua puluh satu hari, kita berjalan bersama Zahwa. Ia tidak datang sebagai tokoh yang sempurna. Ia hadir dengan gemetar, dengan air mata yang tak tahu harus ditaruh di mana, dan dengan tubuh yang berkali-kali merasa tidak pantas tinggal di dunia ini. Tapi justru karena itu, ia menjadi cermin dari sisi terdalam kita—sisi yang selama ini kita sembunyikan dari percakapan dan sorotan lampu.

Zahwa tidak berubah karena teknik hipnosis yang rumit. Ia berubah karena ia hadir. Ia duduk bersama dirinya, menulis satu kalimat baru, memeluk tubuhnya sendiri, dan berkata pelan: “Hari ini aku cukup.” Ia tidak menunggu sembuh untuk mencintai dirinya. Ia mencintai dirinya, lalu sembuh perlahan.

Hipnosis dalam novel ini bukan prosedur. Ia adalah puisi terapan—bukan untuk dinikmati, tetapi untuk dijalani. Ia bukan metode yang menjanjikan kesembuhan, tetapi pengalaman yang mengizinkan kita untuk hadir sepenuhnya dalam ketidaksempurnaan. Ia membuka ruang bagi kita untuk memperlambat, bernapas, dan membiarkan satu kalimat tinggal lebih lama dalam kesadaran.

Zahwa tidak memberi jalan keluar. Ia memberi jalan masuk—ke dalam diri yang selama ini kita tinggalkan. Ia tidak menawarkan solusi. Ia menawarkan ruang. Ia tidak mengajarkan bagaimana menjadi kuat, tetapi bagaimana menjadi utuh—dengan menerima bahwa kekuatan kadang lahir dari kelembutan yang tidak dipertahankan.

Jika pembaca membaca hingga titik ini, mungkin ada bagian dari Zahwa yang hidup dalam dirimu. Dan mungkin, seperti dirinya, pembaca tidak perlu menjadi “lebih baik” dahulu sebelum merasa layak. Mungkin pembaca hanya perlu menyentuh tanah, menulis satu kalimat baru, dan mengizinkan hari ini menjadi awal dari sesuatu yang belum diketatahui, tapi akan dihuni sepenuhnya.

Karena keberlimpahan tidak datang saat kita selesai. Ia datang saat kita cukup jujur untuk berkata: “Ini aku. Dan meski aku belum selesai, aku memilih untuk mencintai diriku hari ini.”

Dan dengan itu, kita pun pulang. Bukan ke tempat yang lama, tapi ke dalam diri yang mulai terasa seperti rumah.*


Post a Comment

Post a Comment