-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Ketakutan Kolektif Melahirkan Imajinasi Fiksi

ARKANA~  Novel Kerumunan adalah Neraka bukan sekadar hasil renungan intelektual, melainkan produk dari atmosfer kolektif yang diliputi rasa takut. Ketakutan dalam novel ini bukan hanya latar suasana, tetapi menjadi mekanisme kreatif yang menggerakkan alur, membentuk tokoh, dan menghidupkan simbol-simbol kultural yang mendiami Desa Gayam dan Desa Kampung Tujuh.

Dalam proses penulisan, ketakutan kolektif selama pandemi bukan sekadar kondisi eksternal, tapi menjadi bahan mentah imajinasi. Imaji tentang kuntilanak, dedemit, hingga simbol ratu/ibu bumi dalam kartu tarot The Empress, muncul sebagai bentuk-bentuk visual dan simbolik dari kecemasan yang tak bisa dijelaskan secara rasional. Ketakutan ini bukan ilusi, melainkan emosi kolektif yang menjelma menjadi cerita.

Fiksi: Ruang Etis bagi Ketakutan

Fiksi memberi ruang yang unik bagi ketakutan. Ia tidak hanya menampungnya, tetapi menatanya menjadi struktur yang bisa dibaca, dipahami, dan direnungkan. Dalam novel ini, dedemit Ni Grenjeng bukan semata entitas gaib, melainkan representasi dari trauma sosial, kehilangan rasa percaya, hingga kegagalan komunikasi antar manusia. Kuntilanak bukan sekadar hantu perempuan, tetapi refleksi dari femininitas yang ditindas dan luka historis yang tak pernah sembuh.

Dengan menjelmakan ketakutan sebagai entitas fiktif, saya merasa berhasil membicarakan sesuatu yang sangat nyata: ketidakberdayaan manusia menghadapi kekacauan. Ketika data tidak cukup menjelaskan penderitaan, fiksi mengambil alih, menawarkan penafsiran yang lebih personal dan emosional.

Imajinasi yang Terpacu oleh Rasa Takut

Yang menarik, ketakutan tidak mematikan kreativitas—ia justru menyulutnya. Novel ini penuh dengan gambaran-gambaran yang muncul dari ketidakpastian: suara tawa melengking di malam gelap, jejak kaki besar di sawah, hingga tawa warga yang berubah jadi bisik-bisik waspada.

Ketakutan kolektif mendorong munculnya narasi-narasi baru yang tidak bisa dijelaskan oleh logika tunggal. Inilah mengapa narasi dalam Kerumunan adalah Neraka cenderung polifonik: rasionalitas Vanua bersanding dengan kepercayaan Mudra, skeptisisme bertemu dengan spiritualitas. Imajinasi tidak lagi dikerangkai oleh batas realitas, tapi justru melebihi dan menembusnya.

Ketakutan sebagai Sumber Kolektif

Ketakutan bukan hanya milik individu, tetapi menyebar seperti virus ke seluruh komunitas. Dan ketika sebuah komunitas mulai berbagi ketakutan, maka muncul semacam “jiwa kolektif” yang sulit dibantah. Dalam novel ini, warga Desa Gayam dan Desa Kampung Tujuh tidak hanya takut pada makhluk halus, tetapi juga pada satu sama lain—mereka mulai saling mencurigai, menjauh, dan menghindari. Di sinilah ketakutan menjadi fenomena sosial, bukan lagi sekadar emosi personal.

Narasi sebagai Tindakan Sosial

Menulis fiksi dari ketakutan kolektif berarti juga menawarkan tafsir sosial dan historis atas ketakutan itu sendiri. Dalam novel ini, saya tidak hanya menampilkan penderitaan, tetapi juga mengusulkan kemungkinan pemulihan. Lewat tokoh-tokoh seperti Sari, Mudra, dan Ki Rajendra, pembaca diajak melihat bahwa ketakutan bisa dikelola, bahkan dijinakkan, dengan narasi, solidaritas, dan kebijaksanaan lokal.

Imajinasi sebagai Bentuk Perlawanan

Ketakutan kolektif bisa melumpuhkan, tetapi juga bisa melahirkan bentuk-bentuk baru dari keberanian dan kebijaksanaan. Novel ini adalah bukti bahwa fiksi mampu menampung yang tak tertampung, dan bahwa imajinasi bukan pelarian, melainkan bentuk perlawanan—bukan sekadar terhadap makhluk halus, tetapi terhadap hilangnya akal sehat dan empati dalam kerumunan yang panik.*



Post a Comment

Post a Comment