ARKANA~ Hari kedua puluh tiba dengan langit yang sedikit mendung. Suasana Arkana dipenuhi wangi bunga kenanga dan bunyi angin di sela-sela bambu. Maya berkata, “Hari ini kita tidak memulai sesuatu yang baru. Kita bersiap melepaskan.” Zahwa mengangguk pelan, dan menyadari bahwa perjalanannya hampir usai. Tapi anehnya, ia tak merasa ingin pulang. Atau lebih tepatnya—ia belum tahu ke mana pulang itu sebenarnya.
Ada pagi-pagi yang tidak datang untuk menyelesaikan sesuatu, melainkan untuk mengantar kita ke tahap berikutnya. Zahwa melangkah ke Arkana bukan untuk mencari, melainkan untuk menyampaikan. Jalan menuju ruang praktik bukan sekadar lorong fisik, melainkan jalur bunga yang mekar pelan di kepala—bukan karena musim, tapi karena kenangan yang mulai menemukan tempatnya. Ia tidak sedang menutup perjalanan harian hipnosis. Ia sedang membuka ruang baru: ruang memberi.
Dalam teori psikoanalisis Freud, cathexis adalah investasi energi emosional ke dalam objek, ide, atau orang. Namun, Freud juga menyebut bahwa pelepasan cathexis—melepaskan keterikatan emosional dengan kesadaran penuh—adalah bentuk kematangan psikis. Zahwa tidak sedang menahan cahaya. Ia sedang membiarkannya mengalir. Dan dalam aliran itu, tidak ada kehilangan. Hanya transformasi. Ia menarik napas dan berkata: “Aku menerima…” lalu menghembuskan: “…dan Aku memberi.” Di sana, energi tidak lagi tertahan. Ia menjadi gerak.
Jung akan menyebut ini sebagai fase lanjut dari individuasi—saat seseorang tidak hanya mengenali bayangannya, tetapi mulai memberi dirinya sebagai bagian dari dunia. Dalam visualisasi trance, Zahwa duduk di ruang emas yang hangat. Lembaran-lembaran tugas dari Hari ke-1 hingga Hari ke-19 beterbangan pelan, menyatu membentuk aura lembut. Ia tidak melihat pencapaian. Ia melihat pengakuan. Di kejauhan, seseorang yang kelelahan menunggu disentuh. Zahwa mendekat, menyentuhkan cahaya di dadanya ke dada orang itu. Wajahnya tersenyum. Dan Zahwa memahami: kemewahan, bukan memiliki sesuatu. Kemewahan adalah memberi tanpa takut kehilangan.
Hipnosis dalam sesi ini menggunakan frekuensi 963 Hz—frekuensi yang dalam tradisi spiritual disebut sebagai “frekuensi koneksi ilahi.” Dalam kondisi trance, individu dapat mengakses lapisan kesadaran yang tidak terikat pada ego. Zahwa tidak sedang mengakses masa lalu. Ia sedang menyatu dengan momen pemberian. Ia tidak sedang mengingat. Ia sedang mengalir.
Dalam sastra, narasi seperti ini disebut sebagai narasi kehadiran dan syukur. Teori “Find, Remind, and Bind” dari Sara Algoe menyebut bahwa syukur bukan hanya respons terhadap pemberian, tetapi juga mekanisme sosial yang mengikat individu dalam jaringan emosional yang sehat. Zahwa menulis di jurnal: “Semua Hal yang Telah Aku Alirkan… dan Akan Aku Teruskan.” Ia membuka ulang jurnal tentang Ibu, menambahkan catatan kecil: “Kini, aku bersedia memulai percakapan batin itu kembali.” Ia mengirim pesan kepada sahabat lama, dan menerima balasan yang sederhana tapi menyentuh: “Kamu tahu, aku butuh itu hari ini.” Tidak ada drama. Hanya gema.
Kemewahan, dalam bab ini, tidak hadir dalam bentuk benda. Ia hadir dalam teh hangat, dalam sinar matahari pagi, dalam waktu menulis tanpa gangguan. Zahwa tidak membeli apapun. Tapi ia mandi dengan tenang, meminum teh, dan memeluk bantal bukan karena ingin tidur, tetapi karena ingin berterima kasih. Ia berkata kepada diri di cermin: “Terima kasih telah hidup dengan penuh cinta.” Dan tubuhnya menjawab dengan keheningan yang hangat.
Pertanyaan dari Talia menjadi penanda bahwa proses belum selesai: – Bagaimana kemewahan terwujud hari ini? Dalam teh hangat. Dalam pesan dari sahabat lama. – Apa hadiah terbaik untuk diriku sendiri? Tiga napas panjang tanpa ponsel. – Bagaimana aku membawa kemewahan ini kepada orang lain? Dengan mendengarkan. Hadir.
Zahwa tidak sedang menutup perjalanan. Ia sedang mengubah cara berjalan. Dan dalam perubahan itu, ia menemukan bahwa cahaya tidak harus disimpan. Ia bisa dibagikan. Dan ketika dibagikan, ia tidak berkurang. Ia bertambah, menyebar, dan kembali ke dirinya dalam bentuk yang lebih hangat.
Zahwa belum selesai. Tapi ia sudah mulai mengalir.



Post a Comment