-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Antara Lentera APP dan Karyakarsa

ARKANA~  Pada suatu titik dalam sejarah sastra Indonesia, para penulis berada di simpang jalan antara dunia cetak yang tetap bertahan dan ruang digital yang kian bising. Novel Kerumunan adalah Neraka hadir sebagai sebuah karya yang tidak hanya melintasi batas-batas konvensional penulisan, tetapi juga membuka kemungkinan baru dalam distribusi dan interaksi sastra di era digital. Dalam konteks ini, perhatian saya tertuju pada dua platform: KaryaKarsa dan Lentera APP. Keduanya menjadi ruang alternatif yang tak sekadar mempublikasikan, tetapi menciptakan ekosistem baru bagi karya sastra dan komunitas pembacanya.

KaryaKarsa hadir sebagai jawaban atas kebutuhan para pengarang untuk otonom berkarya dan mengatur keuntungan langsung dari karyanya. Ia membuka kemungkinan bagi pembaca untuk menjadi patron, mendukung karya bukan hanya dengan pujian, tetapi juga dengan dukungan nyata berupa donasi uang. Di sisi lain, Lentera APP sebagai kanal daring yang menyediakan ruang kurasi sastra dengan pendekatan artistik dan filosofis, memungkinkan pengarang dan penulis untuk menyisipkan narasi reflektif yang melampaui genre. Ketika saya beradaptasi dengan dua platform ini, saya merasakan tidak terperangkap dalam kejar tayang atau algoritma media sosial, melainkan berjalan pelan, memanggil pembaca yang bersedia meluangkan waktu, bukan sekadar meluangkan klik. 

Hubungan antara Kerumunan adalah Neraka dan dua platform ini bukan hanya strategis, tetapi filosofis. Sebab apa yang ditawarkan novel ini bukanlah konsumsi instan, melainkan ruang perenungan yang menuntut komitmen emosional dan intelektual. Dalam KaryaKarsa, pembaca dapat menjadi bagian dari proses kreatif itu, mendukung kelahiran bab demi bab seperti membangun rumah bersama. Sementara Lentera APP memberi ruang bagi refleksi mendalam, menjadikan novel sebagai asupan pustaka untuk kritik sastra, atau pembacaan intertekstual yang menjadikan karya ini tidak tenggelam dalam arus algoritma.

Era digital kerap dianggap sebagai era krisis perhatian. Namun terbitnya novel ini secara digital/daring membuktikan bahwa masih ada ruang untuk sastra yang pelan, lambat, dan menggali. Sekuat tenaga saya berupaya tidak menulis demi viralitas. Saya menulis untuk menyalakan lentera kecil di tengah gelapnya dunia digital yang serba cepat. Dan lentera itu, seperti yang kita tahu, tidak menyilaukan, tetapi cukup untuk menunjukkan jalan.

Ekosistem sastra digital bukan hanya soal platform, tapi juga soal relasi. Antara penulis dan pembaca, antara teks dan komunitas, antara estetika dan keberlanjutan. Kerumunan adalah Neraka menandai cara baru dalam penulisan novel: bahwa menjadi pengarang kini bukan hanya soal menciptakan karya, tetapi juga tentang merawat ekosistem yang membuat karya itu tumbuh. Dari patronase yang bermartabat hingga percakapan yang riuh, dari dukungan finansial hingga ulasan filosofis-dan-sastra, semuanya saling menopang.

Dalam ekosistem ini, pembaca tidak pasif. Mereka bukan sekadar penikmat, melainkan partisipan dalam proyek literer yang lebih luas. Mereka membentuk komunitas, berdiskusi, mengusulkan, bahkan mengoreksi. Pengarang tidak lagi menjadi menara gading, melainkan penjaga api kecil yang tetap menyala karena tiupan napas para pembacanya. Ini bukan hubungan sepihak tapi simbiosis yang indah.

Saya memahami ini bukan sebagai tren, tapi sebagai laku hidup. Tidak sekadar "mengikuti zaman", tapi mengolah zaman menjadi bahasa. Dan dari bahasa itulah lahir komunitas: bukan komunitas fanatik, tetapi komunitas reflektif yang tumbuh karena cinta pada kejujuran dan kedalaman.

Jika dulu sastra memerlukan penerbit, toko buku, dan distributor, kini ia cukup membutuhkan satu ruang aman—baik daring maupun batin—untuk menyampaikan yang tak terucapkan. Dan Lentera APP maupun KaryaKarsa, dalam dua wajahnya yang berbeda, menawarkan hal itu: ruang. Sementara dunia sibuk mempersempit waktu dan memadatkan makna, sastra—melalui kedua platform ini—berjuang membuka kembali ruang untuk bertanya, menangis sendiri, tertawa sendiri, tersenyum sendiri, dan merenung.

Akhir kata, Kerumunan adalah Neraka adalah manifesto diam tentang kemungkinan lain dunia sastra. Dalam dunia yang penuh kerumunan, masih mungkin menciptakan ruang hening untuk membaca dan menulis. Dan dalam ruang itulah, kita tak lagi sendirian seperti saya atau orang lain alami semasa pandemi Covid-19.*


0

Post a Comment