ARKANA~ Novel Kerumunan adalah Neraka menyelusup ke ranah pertanyaan metafisik paling klasik dalam sejarah manusia: Mengapa penderitaan terjadi? Apakah takdir yang menentukan semuanya, ataukah manusia yang gagal membaca tanda-tanda alam dan sejarah? Di sinilah kita menjumpai dimensi teodise atau diskursus teologi dan filsafat yang membenarkan keberadaan Tuhan yang mahabaik di tengah kenyataan penderitaan di dunia. Kisah yang tertulis dalam novel bukan hanya sebagai renungan keagamaan atas penderitaan dunia pada masa pandemi, tetapi juga sebagai kritik sosial yang halus dan refleksi psikologis mendalam.
Takdir sebagai Lanskap Kosmis
Ki Rajendra sering kali menjadi suara metafisik dalam novel. Ucapannya tentang pilihan yang tidak pernah bebas dari konsekuensi memperlihatkan bahwa takdir bukanlah garis lurus yang menunggu dijalani, melainkan lanskap penuh percabangan yang menuntut keberanian untuk melangkah. Dalam sebuah percakapan, ia menyatakan, “Tidak ada jalan yang sepenuhnya salah atau benar… pilihan kalian akan membawa dampak pada orang lain, pada kerumunan”.
Dengan kata lain, takdir bukan entitas eksternal, melainkan hasil akumulasi keputusan, tekanan sosial, dan kekuatan yang tak terlihat. Pilihan Mudra, misalnya—antara cinta, komunitas, dan tanggung jawab—memperlihatkan dilema eksistensial yang mencerminkan betapa kompleksnya “takdir” di tengah kerumunan yang rapuh.
Trauma sebagai Jejak Tubuh dan Ingatan
Di sisi lain, trauma hadir bukan sebagai akibat moral dari pelanggaran iman, tetapi sebagai jejak tubuh yang tak terbantahkan. Trauma Vanua sebagai tenaga medis yang mengalami pandemi dari garis depan menunjukkan sisi duniawi dari penderitaan. Dalam ingatannya yang penuh lorong rumah sakit, bunyi mesin ventilator, dan kematian yang sunyi, ia tidak bisa menerima bahwa semua itu adalah bagian dari “rencana Tuhan”.
Bagi Vanua, trauma adalah bukti bahwa dunia ini acak dan kadang-kadang kejam, bahwa tidak semua penderitaan bisa dijelaskan oleh ayat atau kitab. Ia mempertanyakan nilai dari penderitaan itu sendiri, dan justru dari pertanyaan itulah novel membangun wacana teodise yang tak berkhotbah—melainkan mempertanyakan.
Dari Konfrontasi ke Transendensi
Ketika Vanua, Sari, dan Mudra berjalan bersama menghadapi ketakutan, dedemit, dan kerusakan alam, mereka tidak sedang mencari jawaban mutlak, melainkan cara untuk berdamai dengan luka. Di sinilah pergeseran terjadi: dari takdir sebagai sesuatu yang ditetapkan, menjadi tanggung jawab untuk membentuk masa depan. Ki Rajendra menyebutnya “roda takdir yang tidak bisa diatur oleh tangan manusia”—tapi justru karena itu, manusia harus bijak memilih titik pijaknya.
Novel ini tidak memihak pada dogma. Ia membuka ruang spiritual yang tidak dipagari oleh institusi atau agama formal. Ia berbicara tentang keheningan hutan, air mata warga desa, dan keris pusaka yang diwariskan bukan sebagai alat kekuasaan, melainkan sebagai simbol keberlanjutan etis.
Teodise yang Membumi
Berbeda dari diskursus klasik yang menyandarkan penderitaan pada kehendak ilahi semata, novel ini mengajak pembaca untuk membaca ulang hubungan antara manusia, alam, dan nilai. Ketika pohon beringin mati dan warga panik, itu bukan karena Tuhan sedang murka, tetapi karena manusia lupa menjaga keseimbangan. Ketika dedemit muncul, itu bukan sekadar karena kutukan, tetapi karena luka-luka sejarah dan sosial belum disembuhkan.
Teodise dalam novel ini adalah bentuk kontemplasi tentang bagaimana penderitaan, bila tidak dibaca secara cermat, bisa berubah menjadi dalih untuk menindas. Tetapi bila dibaca dengan kepekaan dan keberanian, bisa menjadi jalan menuju pengakuan atas luka kolektif dan kemungkinan pemulihan bersama.*



Post a Comment