-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Bu Lastri dan Metafisika Dendam dalam Tubuh Kuntilanak

ARKANA~  Bu Lastri adalah bayangan dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya: dendam yang tidak pernah diurai, kesedihan yang menua menjadi kebencian, dan luka sosial yang membentuk tubuh baru dalam mitos kuntilanak. Dalam Kerumunan adalah Neraka, sosok ini menyeberangi batas antara manusia dan arwah, antara realitas dan kegelapan bawah sadar kolektif. Ia adalah perempuan yang tak pernah diberi suara saat hidup—dan kini berteriak dalam bentuk paling menakutkan.

Tubuh yang Ditolak, Jiwa yang Terpinggirkan

Dikisahkan bahwa Bu Lastri merasa dipinggirkan oleh masyarakat. Ia dituduh sebagai penyendiri, dianggap ganjil, dan pada akhirnya terlupakan. Catatan harian yang ditemukan oleh Mudra dan Vanua mengungkap betapa dalam rasa sakit yang ia alami. “Mereka membiarkan aku mati dalam kesepian. Mereka lupa aku pernah ada.” Kalimat itu bukan sekadar pengakuan, melainkan kutukan.

Tubuhnya yang menjadi kuntilanak bukan hasil dari ritual gaib semata, tetapi simbol dari struktur sosial yang menolak untuk mendengar suara perempuan tua yang kesepian. Ia menjadi hantu karena masyarakat menolak melihatnya sebagai manusia yang memiliki rasa.

Dendam sebagai Energi Metafisik

Bu Lastri menjelma dalam bentuk kuntilanak bukan hanya karena ia mati secara tragis, tapi karena dendamnya menemukan medium eksistensial dalam kepercayaan kolektif masyarakat. Dendamnya adalah energi metafisik yang lahir dari ketidakadilan. Di dalam gua hutan keramat, sosoknya menyatu dengan kegelapan: “Aku adalah penguasa hutan ini!” Ia menolak lenyap karena dunia yang hidup menolak berdamai dengannya.

Kuntilanak dalam novel ini tidak hanya berfungsi sebagai hantu pengganggu, melainkan juga sebagai cermin dari luka sosial yang tak disembuhkan. Sosok ini adalah penjelmaan dari kemarahan kolektif perempuan yang disingkirkan, ditertawakan, dan disalahkan.

Pembebasan sebagai Pemurnian Diri

Dialog antara Mudra, Vanua, dan arwah Bu Lastri menunjukkan bahwa pengampunan—baik terhadap orang lain maupun diri sendiri—adalah satu-satunya jalan keluar. “Lepaskan kemarahan dan kebencianmu... Maafkan dirimu sendiri,” ujar Mudra. Transformasi pun terjadi: dari jeritan dendam menjadi tangisan kepedihan. Sosok Bu Lastri memudar dalam cahaya keemasan, bukan karena dikalahkan, tapi karena menemukan kedamaian.

Inilah semacam kekuatan puitis dari narasi itu: eksorsisme bukan sekadar pengusiran roh jahat, tapi penebusan atas luka yang pernah ditanam oleh komunitas. Pembebasan Bu Lastri bukanlah kemenangan manusia atas hantu, tetapi kemenangan manusia atas kemarahan yang diwariskan.

Perempuan, Trauma, dan Spiritualitas Lokal

Dalam kerangka budaya Jawa dan banyak masyarakat Nusantara lainnya, perempuan yang “melenceng” dari norma kerap menjadi sasaran mitologisasi: menjadi wewe, sundel bolong, atau kuntilanak. Novel ini menyadari dan membongkar logika itu. Bu Lastri bukan roh jahat dari luar—ia adalah bagian dari desa yang disangkal. Tubuh mistiknya adalah simbol dari tubuh sosial yang tertolak.

Melalui Bu Lastri, novel ini menggugat cara masyarakat memproduksi horor dari trauma perempuan. Ia menjadi kuntilanak bukan karena jahat, tetapi karena tak pernah dimanusiakan. Dan saat ia didengarkan, saat ia diajak bicara oleh Mudra dan Vanua, ia akhirnya bisa pulang.

Dari Horor ke Humanisme

Novel Kerumunan adalah Neraka tidak meromantisasi kuntilanak. Namun ia juga tidak memperlakukannya sebagai antagonis belaka. Dalam tubuh Bu Lastri yang mengerikan, ada jiwa yang terluka. Dalam jeritan arwah itu, ada pesan yang mendalam: tentang cara masyarakat menciptakan hantu dari orang-orang yang diasingkan, dan hantu itu akan terus menghantui sampai suara mereka didengar.

Bu Lastri adalah metafora dari sistem yang tidak adil, dari komunitas yang terlalu cepat menghakimi. Namun ia juga adalah peluang untuk menyembuhkan—bagi mereka yang berani mendengarkan suara-suara dari kegelapan, bukan untuk diusir, tetapi untuk dipahami.*


0

Post a Comment