ARKANA~ SSetelah memahami fondasi teoretis genealogi pasca-metafisika Habermas, kini kita akan mengarahkan lensa analisis ke perwujudannya dalam narasi “Universitas Pasca-Metafisika”. Bagian tulisan ini akan membedah perdebatan antara Rajendra dan Adhigama sebagai manifestasi modern dari Querelle des Anciens et des Modernes (perdebatan antara kaum kuno dan modern) yang disebutkan oleh Habermas. Perdebatan historis di Eropa ini, yang awalnya terjadi di abad ke-17, menemukan gaungnya yang unik dan mendalam di dalam “Universitas Pasca-Metafisika”, tetapi tidak lagi terjadi di ruang-ruang sastra, melainkan di dalam kampus modern dan, secara implisit, di gema media sosial yang tak henti-hentinya.
Dalam teks Habermas, Querelle des Anciens et des Modernes adalah sebuah perdebatan besar yang menandai transisi dari zaman klasik ke modernitas, yang mana para pemikir dan seniman berdebat tentang superioritas pencapaian kaum kuno (ancients) atau kaum modern (moderns). Habermas menempatkan perdebatan ini sebagai bagian dari proses peneguhan diri yang dialektis, yang mana modernitas mendefinisikan dirinya dengan menafsirkan ulang masa lalu. Penulis, melalui karakter Rajendra dan Adhigama, menghidupkan kembali perdebatan ini, tetapi dengan isu-isu yang jauh lebih kompleks dan mendesak.
Rajendra, dengan fokusnya pada teori sosial Habermas dan sekularisasi, adalah perwujudan dari semangat modern. Ia percaya bahwa rasionalitas dan teori adalah kunci untuk memahami dan mengatasi krisis makna. Ia melihat ke depan, ke arah struktur dan norma universal yang dapat diaplikasikan. Sebaliknya, Adhigama, dengan kecintaannya pada seni tradisional, adalah perwujudan dari semangat kuno. Ia melihat ke belakang, ke arah simbol, estetika, dan narasi yang memiliki kedalaman sejarah. Ia meyakini bahwa kebenaran tidak hanya ditemukan dalam argumen rasional, tetapi juga dalam keindahan dan kehangatan sebuah tradisi.
Perdebatan di antara kedua karakter ini tidak hanya terjadi secara eksplisit, tetapi juga secara implisit di dalam pikiran mereka. Ketika Rajendra bergulat dengan algoritma di platform X, Adhigama merenungkan sakralitas keris. Ini adalah Querelle yang terjadi di dalam batin, yang mana logika dan estetika saling tarik-menarik. Penulis menggunakan kontras ini untuk menunjukkan bahwa krisis makna di Indonesia modern bukanlah sebuah monolit, melainkan sebuah medan pertempuran yang kompleks, yang melibatkan kepala (rasionalitas) dan hati (tradisi) secara bersamaan.
Kita lanjutkan dengan menganalisis perbandingan menarik antara Schönheit der antiken Statuen (keindahan patung-patung kuno) yang menurut Marx nyaris tidak bisa dijelaskan secara sosiologis dengan nilai estetis dan sakralitas keris atau topeng yang juga sulit diukur oleh rasionalitas digital. Penulis menunjukkan, ada hal-hal dalam tradisi yang melampaui analisis rasional atau komodifikasi. Keindahan patung kuno, atau daya magis keris, tidak dapat sepenuhnya dijelaskan oleh fungsi atau ekonomi. Di sinilah letak batas dari sekularisasi dan rasionalitas instrumental, dan di sinilah dimensi lain dari perdebatan ini muncul ke permukaan.
Penulis menggunakan perdebatan ini untuk menunjukkan bahwa "Universitas Pasca-Metafisika" bukanlah proklamasi kemenangan bagi salah satu sisi. Ia justru adalah sebuah eksplorasi yang jujur tentang bagaimana kedua sisi—kuno dan modern—masih berjuang untuk menemukan tempat di dalam sebuah peradaban yang sedang membangun identitasnya. “Universitas Pasca-Metafisika” menunjukkan, perdebatan ini masih hidup dan relevan, tidak mati di buku-buku sejarah, tetapi terus-menerus diperbarui oleh gema media sosial, aktivisme mahasiswa, dan krisis digital yang tak berkesudahan.
Bagian berikutnya dalam buku ini menyajikan perdebatan tersebut sebagai sesuatu yang konstruktif. Meskipun ada ketegangan, tidak ada niat untuk menyingkirkan satu sama lain. Sebaliknya, perdebatan ini adalah sebuah mekanisme untuk dialog. Ia adalah sebuah cara bagi kaum modern (Rajendra) untuk belajar dari kaum kuno (Adhigama) dan sebaliknya. Ini adalah sebuah dialektika yang diperlukan untuk mencapai peneguhan diri yang sejati.
“Universitas Pasca-Metafisika” tidak hanya mengambil ide-ide Habermas, tetapi juga menafsirkannya kembali dalam konteks yang sama sekali baru. Ia merupakan semacam Querelle versi Indonesia, yang terjadi di tengah keretakan makna, dan yang mengarahkan kita pada pertanyaan filosofis yang lebih dalam: bagaimana kita dapat membangun sebuah masa depan yang tidak mengorbankan akarnya, dan bagaimana kita dapat merayakan modernitas tanpa melupakan jiwanya?



Post a Comment