-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Desa sebagai Tubuh Tuhan yang Terluka

ARKANA~  Dalam novel Kerumunan adalah Neraka, Desa Gayam bukan hanya latar tempat. Ia adalah tubuh hidup, entitas kolektif yang bernapas bersama warganya, dan menderita bersama luka-luka sejarah, kekuasaan, dan kepercayaan. Novel ini menggambarkan desa seperti organisme spiritual yang sakit—bukan karena roh jahat semata, melainkan karena kehilangan makna, ketidakseimbangan antara tradisi dan modernitas, serta retaknya jaringan sosial yang dulu mengikat kuat.

Desa sebagai Tubuh yang Luka

Menara yang roboh, jalanan yang sepi, hingga suara-suara gaib di tengah kegelapan—semuanya bukan hanya simbol horor, melainkan gejala penyakit sosial. Desa kehilangan roh kolektifnya ketika menara dibangun di atas keserakahan dan ambisi sepihak. Petir yang menyambar menara menjadi isyarat bahwa alam (dan mungkin Tuhan) menolak proyek-proyek yang lahir dari ketidakseimbangan.

Sebagaimana tubuh manusia bisa mengalami luka yang tidak terlihat, desa pun demikian. Ketika warga mulai saling curiga, ketika ketakutan menggantikan gotong royong, dan ketika kepala desa kehilangan kepekaan terhadap suara rakyat—saat itulah tubuh desa mengalami trauma spiritual.

Teologi Kerakyatan: Tuhan dalam Komunitas

Novel ini tidak menawarkan Tuhan yang transenden jauh di langit, melainkan Tuhan yang meresap dalam keseharian warga. Dalam upaya membersihkan desa bersama-sama, dalam diskusi terbuka di balai desa, dan dalam keputusan untuk menjaga keseimbangan dengan leluhur, kita melihat Tuhan hadir sebagai semangat kolektif yang membangun harapan dari reruntuhan.

Ki Rajendra bahkan menyatakan bahwa menara yang runtuh bukanlah azab, tapi peringatan. Keseimbangan desa bukan ditentukan oleh pembangunan fisik, melainkan oleh keterhubungan spiritual antara manusia, tanah, dan leluhur. Desa bukan hanya tempat tinggal, tapi ruang sakral yang mana Yang Gaib dan Yang Sosial saling bersentuhan.

Luka yang Membawa Kesadaran

Adegan runtuhnya menara, dan bangkitnya sosok-sosok separuh roh dari reruntuhannya, adalah bentuk konkret dari luka yang selama ini dipendam. Mereka yang “terjebak di antara dunia” adalah metafora bagi warga desa yang tidak pernah didengar suaranya, bagi generasi yang tercerabut dari akar, dan bagi jiwa-jiwa yang belum menemukan damai.

Novel ini seolah berkata: desa tidak bisa disembuhkan hanya dengan pembangunan atau moralitas tunggal. Ia harus didengarkan, dirawat, dan disembuhkan melalui tindakan bersama. Ritual, cerita rakyat, hingga kerja kolektif membersihkan desa menjadi semacam liturgi penyembuhan, bukan dogma tapi praksis.

Tubuh Tuhan, Tubuh Komunitas

Di akhir kisah, kita melihat Desa Gayam perlahan pulih—bukan menjadi surga, tapi menjadi desa yang kembali menemukan nadinya. Tuhan hadir bukan sebagai hakim atau penyelamat, tetapi sebagai resonansi dalam tubuh desa yang telah belajar dari luka-lukanya.

Kerumunan adalah Neraka mengajukan suatu visi spiritual yang membumi: tempat tinggal kita—desa, kampung, komunitas—bisa menjadi tubuh Tuhan yang hidup, tetapi juga bisa menjadi tubuh Tuhan yang terluka. Pilihannya bukan pada iman semata, tetapi pada tindakan kolektif yang merawat, mendengar, dan membebaskan.*

0

Post a Comment