-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Gustave Le Bon di Desa Gayam

ARKANA~  Dalam Kerumunan adalah Neraka, kehadiran warga Desa Gayam yang cemas, saling mencurigai, dan mudah terprovokasi oleh kabar tentang dedemit mencerminkan bukan hanya situasi horor, tetapi juga kondisi sosial yang dijelaskan oleh Gustave Le Bon dalam bukunya The Crowd: A Study of the Popular Mind. Le Bon berpendapat bahwa individu dalam kerumunan akan kehilangan rasionalitas pribadi dan menjadi bagian dari jiwa kolektif yang irasional dan mudah digerakkan oleh emosi.

Fenomena ini sangat terasa dalam novel. Ketika satu orang mengaku melihat pocong, cerita itu menyebar dan menciptakan kepanikan massal. Dedemit bukan sekadar makhluk, melainkan gema dari ketakutan sosial yang tidak diatasi secara dialogis. Warga lebih cepat percaya pada desas-desus daripada klarifikasi. Ini menunjukkan bagaimana kerumunan menjadi lahan subur bagi ketakutan kolektif, mitos, dan bahkan kekerasan simbolik.

Le Bon menjelaskan bahwa kerumunan cenderung berpikir dalam simbol dan citra, bukan dalam argumen logis. Maka tak heran jika wujud pocong atau kuntilanak dalam cerita menjadi semacam ikon yang memadatkan berbagai kecemasan warga: mulai dari kehilangan penghidupan, krisis kepemimpinan, hingga trauma kolektif akibat pagebluk.

Dalam kerangka pemikiran Le Bon, seorang individu dalam kerumunan tidak hanya kehilangan tanggung jawab moral, tetapi juga mengadopsi pola pikir dan tindakan yang bukan miliknya. Inilah yang menjelaskan mengapa warga yang sebelumnya tenang dan rasional, tiba-tiba menjadi panik dan bahkan main hakim sendiri. Ini bukanlah tindakan individu, melainkan manifestasi dari jiwa kerumunan.

Le Bon percaya bahwa sugesti adalah kekuatan utama yang bekerja dalam kerumunan. Sugesti ini dapat mempengaruhi siapa saja, tak peduli seberapa cerdas atau rasional seseorang. Dalam novel ini, kekuatan sugesti tampak saat tokoh masyarakat seperti kepala desa ikut terperangkap untuk menyebarkan cerita horor yang tidak jelas asal-usulnya. Ia bukan sekadar korban, tapi juga pelaku reproduksi mitos ketakutan.

Saya mengolah gagasan Le Bon bukan dengan cara mengutip langsung, tetapi dengan menarasikan melalui situasi-situasi konkret yang hidup dan menggigit. Psikologi kerumunan bukan menjadi teori kaku, melainkan darah dan daging dari konflik di Desa Gayam dan Desa Kampung Tujuh. Bahkan, struktur cerita yang melompat-lompat antara tokoh dan perspektif, membentuk semacam kerumunan naratif yang saling menulari ketakutan dan keraguan.

Yang menarik, novel ini tidak sepenuhnya mengutuk kerumunan. Ada ambivalensi yang terasa. Di satu sisi, kerumunan adalah sumber irasionalitas dan kekerasan namun di sisi lain ia juga wadah solidaritas, tempat warga berbagi rasa takut, cerita, dan upaya bertahan. Le Bon sendiri, dalam tulisannya, mengandung nada pesimistik, namun saya menyisipkan harapan.

Dengan menghadirkan tokoh-tokoh reflektif seperti Vanua dan Sari, Kerumunan adalah Neraka memberi ruang bagi individu yang mampu keluar dari logika kerumunan. Mereka adalah agen perubahan yang pelan-pelan membongkar mitos dan mengembalikan kemampuan berpikir kritis kepada warga. Proses ini tidak mudah, karena berhadapan dengan rasa aman semu yang diberikan oleh kebersamaan dalam kerumunan.

Yang paling kuat dari pendekatan ini adalah bahwa ketakutan kolektif dilihat bukan sebagai kelemahan budaya, tetapi sebagai gejala dari luka sosial yang lebih dalam. Ketakutan akan dedemit adalah cara warga menghadapi kenyataan yang terlalu pahit untuk disebutkan: kemiskinan, kegagalan negara mengatasi pandemi Covid-19 secara cepat, trauma sejarah, dan keterputusan antar generasi. Kerumunan menjadi pelarian, dan sekaligus penjara.

Saya berupaya menyajikan tafsir lokal terhadap teori global. Saya tidak menempatkan Le Bon sebagai menara gading, tetapi sebagai alat baca yang disematkan dalam ritme bahasa dan logika warga desa. Ini membuat novel tidak hanya kontekstual, tetapi juga universal. Saya mengajak pembacara untuk memahami bahwa di balik tiap ketakutan massal, ada sistem sosial yang retak.

Pada akhirnya, Kerumunan adalah Neraka bukan sekadar novel horor. Ia adalah analisis sosiologis, kritik budaya, dan tafsir atas psikologi massa dalam konteks lokal. Desa Gayam menjadi laboratorium bagi pembacaan ulang atas gagasan Le Bon, yang dibumikan dalam narasi, dialog, dan simbol-simbol kultural. Di sini, sastra menjadi medan tafsir, dan teori menjadi bahan bakar imajinasi.*



0

Post a Comment