-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Hari Ke-1: Tanah Syukur

ARKANA~ Hari pertama Zahwa di ruang Arkana bukan sekadar permulaan sesi, melainkan titik balik batin. Dalam Bab 1 novel, kita melihat bagaimana Zahwa datang bukan untuk sembuh, tetapi untuk berhenti lari. Keputusan itu sendiri adalah bentuk awal keberlimpahan—karena keberlimpahan tidak selalu hadir dalam bentuk materi, melainkan dalam keberanian untuk hadir.

Tanah syukur, yang menjadi metafora utama dalam Bab 1 novel, bukanlah tanah fisik, melainkan tanah batin. Ia muncul dalam visualisasi Zahwa sebagai pohon yang berakar dalam tubuhnya sendiri. Dalam konteks ini, tubuh bukan hanya wadah, tetapi tempat suci yang menyimpan sejarah, luka, dan cinta. Zahwa mulai menyadari bahwa tubuhnya telah lama menjadi rumah yang ia abaikan.

Visualisasi yang dipandu oleh Maya dan Talia membawa Zahwa ke dalam trance yang tidak sekadar relaksasi, tetapi pemulihan. Ia melihat wajah Ibu, Pak Tono, bahkan Marie Curie—tokoh-tokoh yang menjadi akar kekuatannya. Ini bukan sekadar imajinasi, melainkan bentuk konkret dari arketipe Jungian: Ibu Bumi dan guru/pandhita. Arketipe itu merupakan inspirasi dan sebagai bagian dari ketidaksadaran kolektif yang muncul dalam momen penyembuhan.

Dalam psikologi Jung, tubuh menyimpan memori arketipal yang melampaui pengalaman pribadi. Zahwa tidak hanya mengingat, ia mengalami kembali—dalam bentuk simbolik dan emosional. Freud mungkin menyebut ini sebagai regresi sehat, namun yang terjadi pada Zahwa adalah lebih dari itu: ia tidak mundur ke masa lalu, melainkan menyerap kekuatan dari akar masa lalu untuk hadir di masa kini.

Frasa kunci yang muncul pada akhir Bab 1 novel—“Hari ini aku melihat keberlimpahan yang mengelilingiku”—menjadi afirmasi yang bukan sekadar kata, tetapi jembatan antara sadar dan bawah sadar. Dalam dunia hipnosis, repetisi adalah teknik untuk menanamkan makna ke dalam tubuh. Maya mengajarkan somatic anchor: tepukan di dada, sentuhan ibu jari dan telunjuk, sebagai cara tubuh mengingat rasa syukur.

Pembaca diajak untuk melihat tubuh bukan sebagai beban, tetapi sebagai tanah tempat kita tumbuh. Dalam dunia yang sering menuntut kita untuk bergerak cepat, mencari solusi, dan mengejar hasil, Zahwa mengajak kita untuk berhenti sejenak. Duduk. Menyentuh tanah. Menjadi pohon.

Pertanyaan yang muncul bukanlah “apa yang harus aku capai?”, tetapi “sudahkah aku pulang ke tubuhku?” Tubuh yang selama ini kita seret, kritik, dan abaikan, ternyata menyimpan keberlimpahan paling dasar: napas, detak jantung, dan kesediaan untuk hadir.

Dengan pijakan ini, Zahwa memulai perjalanannya. Ia belum tahu ke mana akan pergi, tetapi tubuhnya sudah mulai percaya. Dan dalam dunia penyembuhan, kepercayaan tubuh adalah awal dari segala kemungkinan.*


0

Post a Comment