ARKANA~ Zahwa membuka jendela kamar kos dengan rasa waswas. Ada email tawaran kerja yang belum dijawab. Di atas kertas, pilihan itu menjanjikan. Tapi di dalam dada, ada keraguan yang tidak bisa dijelaskan. Ia belum yakin apakah cukup kompeten, cukup layak, cukup “siap.” Talia pernah berkata: “Menunda keputusan bukanlah bentuk kehati-hatian, melainkan cerminan dari sistem bawah sadar yang menolak bertanggung jawab atas kenyataan.” Dan pagi itu, Zahwa memutuskan untuk tidak menunda lagi.
Bab 10 novel Hipnosis Arkana adalah bab tentang pilihan. Tapi bukan pilihan antara baik dan buruk. Melainkan antara hadir dan tidak hadir. Zahwa tidak sedang memilih pekerjaan. Ia sedang memilih cara hidup.
Dalam pandangan Freud, keputusan adalah titik benturan antara id, ego, dan superego. Ketika Zahwa merasa tidak cukup siap, ia sedang mengalami decision anxiety—kecemasan yang muncul karena konflik antara dorongan batin, tuntutan sosial, dan kapasitas diri. Freud menyebut bahwa kematangan ego ditandai oleh kemampuan untuk membuat keputusan dengan kesadaran, bukan dengan impuls atau penyangkalan. Zahwa mulai menunjukkan kematangan itu.
Jung akan melihat bab ini sebagai puncak dari proses individuation. Jalan yang terbelah bukan simbol dilema. Ia adalah simbol dari paradoxical wholeness—dua jalur yang tampak bertentangan bisa dijalani bersamaan. Batu abu kehijauan (simbol cepat menghakimi) dan batu kuning buram (simbol kesulitan bersyukur) bukan untuk dibuang. Mereka untuk dikenali, diletakkan, dan dijalani. Ketika Zahwa melangkah ke kedua jalur secara paralel, ia sedang mengintegrasikan bayangan dan cahaya. Ia tidak memilih antara menjadi sempurna atau cacat. Ia memilih untuk hadir dalam keduanya.
Hipnosis dalam sesi ini menggunakan gelombang Beta–Theta untuk membuka pusat kontrol batin. Napas terfokus menjadi pintu masuk ke ruang keputusan yang jernih. Kalimat seperti “Zahwa, kamu boleh memilih dari ruang yang belum pernah kau kunjungi” bukan hanya afirmasi. Ia adalah aktivasi dari executive function psikis—kemampuan untuk merespon dengan kesadaran, bukan dengan reaksi.
Bab 10 novel Hipnosis Arkana menghadirkan simbol jalan yang terbelah sebagai metafor pilihan hidup, batu sebagai representasi kekurangan yang bisa diolah, dan jurnal sebagai ruang ritual. Kutipan seperti “Pilihan bukan tentang meninggalkan jalur, tapi tentang kehadiran di setiap kemungkinan” adalah deklarasi naratif yang mengubah cara pembaca memaknai keputusan. Keputusan bukan tentang benar atau salah. Ia tentang hadir atau tidak hadir.
Struktur bab 10 novel bergerak dari keraguan menuju ritual. Dari email yang belum dijawab menuju afirmasi yang diucapkan dengan napas. Dari batu yang digenggam menuju batu yang ditempel di dinding sebagai pengingat. Zahwa tidak sedang membuat keputusan besar. Ia sedang membuat keputusan kecil dengan kesadaran besar.
Program mikro yang Zahwa susun selama tujuh hari adalah bentuk ritualisasi pilihan. Ia tidak menulis tugas. Ia menulis penanda. Setiap malam, ia menulis tiga hal sederhana yang patut disyukuri. Setiap kali tergoda untuk menghakimi, ia menarik napas dan bertanya: “Apa yang bisa aku pelajari dari orang ini?” Refleksi seperti “Rekan kantor terlalu bertele-tele → mungkin ia takut tidak terdengar” menunjukkan bahwa Zahwa mulai melihat dunia bukan sebagai arena penilaian, tetapi sebagai ruang pembelajaran.
Tiga pertanyaan reflektif dari Maya menjadi inti dari bab 10 novel:
- Bagaimana aku biasanya membuat keputusan dalam hidup?
- Apa dampak dari keputusan-keputusan itu?
- Bagaimana aku bisa membuat lebih banyak pilihan sadar?
Jawaban Zahwa tidak ditulis sebagai solusi. Ia ditulis sebagai pengakuan. Dan pengakuan adalah awal dari transformasi.
Malam itu, Zahwa pulang dengan dua batu kecil dari Arkana: satu bertuliskan “Belajar dari semua orang,” satu lagi “Lihat keindahan yang sudah ada.” Ia menempelkan batu itu di atas cermin kecil. Cermin yang biasanya dipakai untuk berdandan, tapi kini menjadi ruang refleksi.
Sebelum tidur, Zahwa membaca ulang agenda kerja yang sempat ditunda. Ia menarik napas dan berkata: “Hari ini Aku membuat pilihan hebat, karena dibuat dengan kesadaran penuh.”
Dalam kalimat itu, Zahwa tidak hanya memilih pekerjaan. Ia memilih cara hidup. Ia memilih untuk hadir. Dan dari kehadiran itulah, keberlimpahan mulai bisa diarahkan.*



Post a Comment