ARKANA~ Hari keenam belas adalah tentang pengampunan yang paling sunyi dan paling dalam. Zahwa tidak lagi berhadapan dengan orang lain, melainkan dengan dirinya sendiri. Ia membuka buku agenda dan menemukan daftar hal-hal yang tertunda: tugas akademik, pesan yang belum dibalas, ide bisnis yang tak rampung, dan panggilan telepon yang tertunda sejak dua tahun lalu. Di antara halaman-halaman penuh niat, ia mendapati rasa bersalah yang tidak berteriak, tapi selalu hadir seperti udara berat di jam-jam paling sunyi.
Maya menyambutnya dengan senyum yang tidak menuntut dan berkata, “Hari ini kita tidak menyelesaikan. Kita akan memaafkan.” Talia menambahkan, “Karena pengampunan bukan soal masa lalu, tapi tentang membebaskan energi yang masih terikat padanya.”
Dalam teori Freud, rasa bersalah adalah inti dari konflik psikis. Freud menyebut bahwa superego—bagian dari diri yang menyerap norma dan tuntutan sosial—sering kali menjadi sumber dari rasa bersalah yang tidak proporsional. Dalam tulisannya Mourning and Melancholia, Freud menyatakan bahwa depresi adalah bentuk rasa bersalah yang diarahkan ke diri sendiri, akibat ketidakmampuan untuk mengekspresikan kemarahan atau kekecewaan secara eksternal. Zahwa tidak sedang depresi, tapi ia berada di ambang mekanisme itu: rasa bersalah yang tidak disuarakan, hanya disimpan. Ketika ia menarik napas dan berkata, “Aku mencintaimu meskipun kamu belum menyelesaikan segalanya,” ia sedang membebaskan dirinya dari tuntutan superego yang tidak lagi relevan.
Carl Gustav Jung melihat proses ini sebagai bagian dari individuation—penyatuan antara kesadaran dan ketidaksadaran. Jung menyebut bahwa Self bukanlah kesempurnaan, melainkan keutuhan. Dalam visualisasi trance, Zahwa berjalan di taman yang tidak rapi, tapi penuh bunga liar. Di setiap bunga tertulis satu kalimat kecil tentang hal yang belum selesai. Ia menyentuh satu bunga dan berkata, “Aku memaafkan diriku karena belum melakukannya. Aku tetap pantas menerima kebaikan.” Bunga itu tidak layu. Justru membuka kelopaknya lebih lebar. Ini adalah simbol Jungian yang sangat kuat: bahwa pengampunan bukan penghapusan, melainkan penerimaan. Taman itu bukan metafor dari kegagalan. Ia adalah lanskap batin yang tumbuh meski tidak sempurna.
Hipnosis dalam bab ini menggunakan teknik forgiveness trance, yang menurut pendekatan Luskin dan Harris, terdiri dari lima fase: pengakuan, penamaan, klarifikasi niat, pelepasan, dan integrasi. Zahwa menulis dua lembar kertas: satu untuk rasa sakit, satu untuk doa. Ia tidak membakar suratnya. Ia menyimpannya di halaman terakhir jurnal Arkana. Karena Maya berkata, “Kadang memori tidak hilang. Tapi maknanya bisa berubah.” Hipnosis di sini bukan hanya pelepasan. Ia adalah re-narration—penulisan ulang makna dari luka menjadi kelegaan.
Bab ini menghidupkan teori naratif tentang penyembuhan. Dalam Memory, Narrative and Forgiveness, Gobodo-Madikizela dan van der Merwe menyebut bahwa narasi yang tidak selesai bisa menjadi sumber trauma, tetapi juga bisa menjadi ruang pemulihan bilamana diberi tempat untuk berkembang. Zahwa menulis daftar panjang tentang hal-hal yang ia tunda dan ia maafkan. Ia tidak menyensor. Bahkan hal-hal kecil seperti belum mencuci pakaian atau merasa iri kepada teman. Karena, seperti kata Maya, “Yang kecil sering menjadi pintu ke yang besar.” Dalam diskursus sastra, taman adalah simbol eksistensial: ruang antara keteraturan dan kekacauan, antara niat dan kenyataan. Taman Zahwa bukan taman yang selesai. Tapi ia adalah taman yang hidup.
Struktur bab ini bergerak dari rasa bersalah menuju pengampunan. Dari tuntutan menuju penerimaan. Dari daftar menuju doa. Zahwa tidak lagi menuntut dirinya untuk menyelesaikan segalanya. Ia mulai menyadari bahwa tidak semua hal harus selesai untuk bisa memberi makna. Ia membaca ulang satu kalimat dari jurnal: “Aku memaafkan diriku karena tidak sempurna, dan dari ketidaksempurnaan itu, aku tetap layak dicintai.”
Sebelum tidur, ia meletakkan tangan di dada dan berkata: “Terima kasih, Zahwa.” Dan dalam keheningan itu, ia tidak lagi menjadi proyek yang harus diselesaikan. Ia menjadi taman yang boleh tumbuh dengan caranya sendiri.



Post a Comment