-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Hari Ke-18: Negara yang Menyimpan Namaku



ARKANA~ Pagi hari ke delapan belas di Arkana, Maya menggelar sehelai kain putih di atas lantai. Di atasnya, ia menumpahkan segenggam pasir halus. “Hari ini,” katanya perlahan, “kita akan berbicara dengan waktu. Bukan untuk mengubahnya, tapi untuk mengampuninya.” Zahwa menatap pasir itu, dan untuk pertama kalinya, ia menyadari betapa waktu tak pernah benar-benar bisa dipegang.

Ada pagi-pagi tertentu yang tidak membangunkan kita sebagai individu, melainkan sebagai bagian dari sesuatu yang lebih luas—seperti ketika suara burung bukan sekadar kicau, melainkan nyanyian dari Desa yang pernah kita tinggalkan. Dalam bab ini, Zahwa bangun bukan sebagai dirinya yang terpisah, tetapi sebagai anak dari tanah, bahasa, dan sejarah. Ia tidak hanya mendengar alam, ia diundang oleh tanah kelahirannya untuk kembali mengingat bahwa tubuhnya menyimpan lebih dari sekadar organ dan tulang—ia menyimpan jejak bangsa.

Dalam psikoanalisis klasik, Freud menyebut proses identifikasi sebagai mekanisme batin yang membentuk ego melalui keterikatan emosional terhadap figur simbolik. Zahwa, dalam suratnya kepada Indonesia, tidak sedang menulis sebagai warga negara yang menuntut. Ia menulis sebagai anak yang ingin bicara jujur kepada ibu yang kadang melukai, tapi tetap dicintai. “Aku bangga padamu… tapi aku juga terluka,” tulisnya. Ini bukan kontradiksi, melainkan bentuk kedewasaan emosional. Freud akan menyebutnya sebagai integrasi antara idealisasi dan realitas—kemampuan untuk mencintai tanpa menutup mata terhadap luka.

Namun, Zahwa tidak berhenti di ranah psikis. Ia melangkah ke wilayah yang lebih dalam: ketidaksadaran kolektif. Carl Gustav Jung percaya bahwa individu tidak hanya dibentuk oleh pengalaman pribadi, tetapi juga oleh arketipe dan simbol yang diwariskan secara budaya. Ketika Zahwa membayangkan berdiri di lapangan sekolah dasar, mengibarkan bendera, dan melihat sosok Indonesia sebagai Ibu yang menjahit seragam, ia sedang menyentuh arketipe “Ibu Bangsa”—bukan dalam wujud politik, tetapi dalam bentuk yang paling manusiawi: tangan yang terampil, mata yang menunggu, dan keheningan yang penuh makna. Dalam momen itu, Zahwa tidak sedang bernostalgia. Ia sedang mengalami individuasi budaya—proses menjadi utuh dengan menyatu pada akar kolektif.

Hipnosis yang dipandu oleh Talia bukan sekadar teknik relaksasi. Ia adalah jembatan antara memori personal dan memori budaya. Ketika Zahwa menghirup udara dari gunung, laut, dan sawah Indonesia, ia tidak sedang berimajinasi. Ia sedang mengaktifkan memori tubuh—ingatan yang tidak tertulis, tapi tertanam dalam napas dan kulit. Dalam kondisi trance, individu dapat mengakses lapisan kesadaran yang tidak terikat pada narasi ego. Zahwa tidak sedang mengingat Indonesia. Ia sedang menjadi Indonesia.

Surat yang ia tulis bukan hanya bentuk ekspresi, tetapi juga narasi identitas. Dalam diskursus sastra, identitas nasional bukan sekadar simbol dan sejarah, tetapi juga bagaimana individu menempatkan dirinya dalam cerita bangsa. Zahwa tidak menuntut negara untuk sempurna. Ia memilih untuk tetap mencintai, sambil berharap. “Aku masih ingin memperbaiki diriku. Dan aku berharap kau juga mau terus memperbaiki hatimu.” Kalimat ini adalah bentuk keberpihakan yang lembut—bukan pada kekuasaan, tetapi pada harapan.

Meditasi yang ia lakukan setelah sesi trance tidak membuatnya memaafkan semua. Tapi ia membuatnya melihat. Melihat bahwa cinta kepada tanah kelahiran tidak harus menunggu kesempurnaan. Ia bisa hadir dalam bentuk sederhana: membuka jendela dan berkata, “Hari ini aku menjadi bagian yang membangun Indonesia.” Atau saat membaca berita korupsi, menarik napas dan bertanya, “Apa kontribusiku hari ini?” Lalu menulis satu paragraf kecil tentang mimpi pendidikan jujur bagi anak-anak miskin.

Malam hari, Zahwa memutar kembali rekaman gamelan dan hujan. Ia membaca ulang suratnya dengan nada pelan. Tubuhnya tidak menangis. Tapi matanya basah. Karena ia tahu, ia sedang menjalin benang—dari jiwa ke tanah, dari Zahwa ke Indonesia. Dalam benang itu, tidak ada tuntutan. Hanya kehadiran yang jujur, dan cinta yang tidak dibungkus oleh syarat.

Bab ini bukan hanya tentang nasionalisme. Ia adalah tentang bagaimana tubuh menyimpan tanah, dan bagaimana jiwa bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan bangsa. Zahwa tidak sedang membangun negara. Ia sedang membangun hubungan. Dan dalam hubungan itu, ia menemukan bahwa menjadi bagian dari Indonesia bukan soal seragam, tapi soal keberanian untuk tetap menyapa, meski kadang tidak dijawab.


0

Post a Comment