ARKANA~ Ada hari-hari yang tidak datang sebagai perubahan besar, melainkan sebagai jeda yang lembut. Hari ke-19 bagi Zahwa bukanlah titik balik, melainkan ruang diam antara keinginan untuk berubah dan keberanian untuk tidak memaksakan perubahan. Ia berjalan ke Arkana dengan langkah ringan, meski hatinya belum sepenuhnya tenang. Langit mendung, tapi tidak hujan. Seperti hidupnya: tidak sedang bahagia, tapi juga tidak sedang terluka. Di sinilah, dalam ketidakpastian yang tidak mengancam, Zahwa belajar bahwa tidak semua harus diselesaikan. Beberapa hal hanya perlu dilewati.
Freud, dalam teori struktur kepribadiannya, menyebut bahwa keseimbangan antara id, ego, dan superego adalah kunci kesehatan psikis. Ego, sebagai mediator antara dorongan naluriah dan tuntutan moral, bekerja paling baik ketika tidak terjebak dalam ekstrem. Zahwa, dalam sesi Arkana, tidak sedang melawan dorongan atau menegakkan prinsip. Ia hanya duduk, menarik napas, dan mengucap dalam hati: “Ini… juga akan berlalu.” Dalam momen itu, ego tidak berperan sebagai pengatur, melainkan sebagai saksi. Ia tidak mengatur lalu lintas emosi, ia hanya menyaksikan arusnya.
Carl Gustav Jung akan menyebut momen ini sebagai fase individuasi yang sunyi—saat seseorang tidak lagi berusaha menjadi sesuatu, tetapi mulai menerima bayangan sebagai bagian dari dirinya. Zahwa membayangkan lingkaran batu: kesedihan, kebahagiaan, ketakutan, kepercayaan. Ia tidak menilai. Ia hanya berjalan mengelilingi mereka, menyadari bahwa semua pernah hadir, lalu pergi. Di tengah lingkaran, cermin kecil bertuliskan: “Ini juga akan berlalu.” Ia melihat wajahnya, bukan sebagai Zahwa yang ingin lebih, tapi sebagai Zahwa yang sudah cukup berjalan. Jung menyebut bahwa individuasi bukan pencapaian, melainkan pengakuan terhadap keutuhan yang tidak perlu dibuktikan.
Hipnosis dalam sesi ini bukan pelepasan, melainkan pelunakan. Dalam kondisi trance, individu dapat mengalami pemisahan antara kontrol sadar dan pengalaman batin. Zahwa tidak mengalami visualisasi kompleks. Ia hanya duduk, mendengarkan suara piano ambient dan rintik hujan, lalu membiarkan tubuhnya mengendur. Dalam pelonggaran itu, ia tidak menemukan jawaban. Tapi ia menemukan ruang. Dan ruang itu cukup untuk bernapas.
Dalam diskursus sastra, narasi seperti ini disebut sebagai estetika kehadiran—bukan karena tokoh melakukan sesuatu, tetapi karena ia hadir dalam sesuatu. Teori naratif tentang “absence/presence” menyebut bahwa kekuatan cerita tidak selalu terletak pada aksi, tetapi pada ruang yang ditinggalkan untuk pembaca merasakan. Zahwa tidak sedang menyelesaikan konflik. Ia sedang membiarkan konflik itu lewat, seperti angin gurun dalam audio latar Maya. Ia tidak menuntut dikasihani. Ia hanya bersedih dengan tenang.
Kisah raja dan cincin kecil menjadi metafora utama dalam bab ini. “Ini juga akan berlalu,” kata cincin itu. Raja yang dulu bangga, lalu jatuh, menang, dan lupa. Tapi yang menyelamatkannya bukan kemenangan atau kekalahan. Melainkan satu kalimat yang bekerja diam-diam. Zahwa menulis refleksi: taman pujian dan jurang emosi, bukan rumah. Mereka hanya persinggahan. Dan pelayan tua dalam kisah itu—yang tidak mendikte, hanya memberi waktu—adalah simbol dari kebijaksanaan yang tidak memaksa.
Sepanjang hari, Zahwa berlatih menyapa dan melepas. Pagi hari, ia memeluk tubuh sendiri dan berkata: “Hari ini, aku akan melewati segalanya dengan tenang.” Siang hari, saat mendapat pujian besar, ia tersenyum dan berkata pelan: “Terima kasih. Aku tidak melekat padamu.” Malam hari, saat tubuh terasa berat, ia meletakkan tangan di dada dan mengucap: “Ini juga akan berlalu.” Ia tidak sedang menghindar dari rasa sakit. Ia sedang memberi ruang bagi rasa sakit untuk lewat.
Dan ketika ia menatap cermin kecil di kamar mandi, ia berkata pelan: “Aku mencintaimu, Zahwa, meski tidak semua terlaksana.” Kalimat itu bukan penghiburan. Ia adalah bentuk cinta yang tidak bersyarat—cinta yang tidak menuntut pencapaian, hanya kehadiran.
Bab ini mengajarkan bahwa pelonggaran bukan kelemahan. Ia adalah bentuk kekuatan yang tidak berisik. Dalam pelonggaran, kita tidak kehilangan arah. Kita hanya berhenti memaksa. Dan dalam berhenti itu, kita menemukan bahwa hidup tidak harus selalu berubah untuk tetap berjalan.



Post a Comment