-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Hari Ke-2: Gunung Es Uang



ARKANA~ Bogor pagi itu menangis pelan. Zahwa datang ke Arkana dengan jaket basah dan satu harapan yang belum ia tahu bentuknya. Di ruang praktik, Maya menyalakan aromaterapi cendana, sementara Talia memutar gelombang Gamma—frekuensi rendah 40 Hz yang katanya bisa membuka kecerdasan finansial. “Hari ini kita bicara tentang uang,” ujar Talia. “Tapi bukan tentang jumlahnya. Tentang rasa yang menyertainya.”

Zahwa duduk, tubuhnya mengeras seolah utang dan cicilan telah melekat ke punggung. Ia menarik napas panjang, membayangkan udara membawa cahaya emas. Dalam pikirannya, daun-daun berjatuhan: satu bertuliskan “Kartu Kredit BCA”, satu lagi “Tagihan Sekolah Adik”. Ia mulai merasa ringan, seperti daun itu memang sudah waktunya jatuh.

Visualisasi dimulai. Zahwa melihat gunung es besar bertuliskan “Utang dan Kewajiban”. Ia menyelam ke bawahnya, dan menemukan samudra terang—aliran tak terbatas yang tidak diukur dengan angka. Di sana, ia mulai percaya bahwa sumber keberlimpahannya tidak pernah benar-benar hilang. “Setiap kewajiban adalah kesempatan untuk mempercayai aliran hidup,” bisik Maya.

Zahwa menulis ulang keyakinannya:

Kewajiban: “Kartu Kredit – Pendidikan Adik” 

Makna Baru: “Investasi pada masa depan keluarga” 

Simbol: Lingkaran kecil, bagian dari aliran sungai keberlimpahanku.

Pengalaman Zahwa dalam sesi ini bukan sekadar relaksasi, melainkan pembongkaran lapisan bawah sadar yang telah lama membentuk relasinya dengan uang. Dalam pandangan Freud, trauma masa kecil—seperti ayah yang marah saat tagihan datang, atau ibu yang menabung diam-diam—menanamkan asosiasi afektif yang membuat uang terasa menakutkan. Uang menjadi simbol konflik, bukan alat keberdayaan. Ketika Zahwa merasa takut pada uang, itu bukan karena ia tidak mampu, tetapi karena tubuhnya mengingat bahwa uang pernah menjadi sumber ketegangan dan penghakiman.

Sesi hipnosis membuka ruang bagi tubuh untuk mengalami ulang relasi itu secara netral. Zahwa tidak diminta melupakan, tetapi mengalirkan ulang makna. Ia mulai melihat bahwa menerima tidak identik dengan bersalah, dan memberi tidak identik dengan kehilangan.

Dalam perspektif Jung, gunung es uang yang Zahwa lihat adalah bayangan—aspek diri yang ditolak atau disembunyikan karena dianggap tidak layak. Dalam kultur tertentu, perempuan yang ambisius sering kali dicap serakah atau tidak bersyukur. Bayangan ini bersemayam dalam Zahwa, membuatnya menghindari kesuksesan yang sebenarnya ia dambakan. Visualisasi sungai emas dan daun-daun tagihan yang berubah menjadi burung adalah simbol dari proses individuasi: menyelam ke dalam ketidaksadaran, menghadapi bayangan, dan menemukan sumber sejati.

Dengan menyentuh dada dan mengaktifkan anchor tubuh, Zahwa mulai mengintegrasikan bayangan itu. Ia tidak lagi menolak uang, tetapi memeluknya sebagai bagian dari dirinya yang sah dan penuh potensi.

Dalam konteks sastra, Bab 2 novel menghadirkan metafora yang kuat: gunung es, sungai emas, daun-daun tagihan, dan burung-burung dari tinta emas. Semua ini bukan sekadar ornamen, tetapi struktur simbolik yang membentuk narasi batin Zahwa. Gaya naratif yang puitis dan reflektif memungkinkan pembaca untuk ikut menyelam ke dalam pengalaman Zahwa. Ia tidak digambarkan sebagai korban, tetapi sebagai penjelajah batin. Setiap visualisasi menjadi jembatan antara trauma dan transformasi.

Kalimat seperti “Uang hanyalah energi. Utang hanyalah pengingat sementara. Sumber sejatimu tak pernah berkurang,” berfungsi sebagai mantra sastra—menggabungkan fungsi estetika dan terapeutik. Bab 2 Novel ini menunjukkan bahwa sastra bisa menjadi ruang penyembuhan. Bukan dengan menghapus luka, tetapi dengan memberi makna baru pada luka itu.

Hari kedua ini tidak menyelesaikan persoalan finansial Zahwa. Tapi ia membongkar lapisan pertama dari gunung es itu. Ia mulai melihat bahwa luka batin tentang uang bukanlah aib, melainkan bahan baku untuk penyembuhan. Dan pembaca pun diajak bertanya: Apakah aku takut pada uang? Apakah aku merasa layak menerimanya? Apakah aku bisa melihat uang sebagai sungai, bukan sebagai beban?

Di sinilah keberlimpahan menjadi perjalanan personal dan spiritual. Bukan tentang saldo rekening (minus atau berstatus dormant), tapi tentang rasa percaya bahwa sumber sejati tidak pernah benar-benar hilang.*

0

Post a Comment