ARKANA~ Di dalam sebuah karya sastra, gaya bahasa dan suara narator adalah elemen krusial yang membentuk pengalaman membaca. Dalam "Universitas Pasca-Metafisika," penulis dengan sengaja menggunakan gaya bahasa dan narator sebagai pemandu dalam sebuah proyek hermeneutik pasca-metafisika. Narator tidak hanya menceritakan peristiwa, tetapi juga secara aktif membimbing pembaca melalui medan makna yang kompleks, mengajarkan mereka bagaimana cara menafsirkan sebuah dunia yang telah kehilangan fondasi mutlaknya.
Gaya bahasa “Universitas Pasca-Metafisika” adalah perpaduan yang unik antara bahasa akademis yang formal dengan bahasa puitis yang emotif. Penulis secara halus memadukan istilah-istilah filosofis yang kaku, seperti Terminus ad Quem, sekularisasi yang membatasi diri, dan genealogi, ke dalam narasi yang mengalir. Penggunaan istilah-istilah ini tidak terasa berat, melainkan menjadi bagian dari cara tokoh-tokoh berpikir dan berdialog. Perpaduan ini adalah sebuah strategi untuk menjembatani jurang antara rasio dan perasaan. “Universitas Pasca-Metafisika” menunjukkan, filsafat tidak hanya tentang argumen yang dingin, tetapi juga tentang luka dan harapan manusia yang konkret.
Suara narator dalam “Universitas Pasca-Metafisika” sangatlah khas. Narator tidak bersikap netral atau objektif, melainkan memiliki suara yang reflektif dan penuh empati. Ia seringkali memberikan komentar yang bersifat hermeneutik, yaitu komentar yang membantu pembaca menafsirkan makna di balik peristiwa dan dialog. Misalnya, ketika karakter membahas sekularisasi, narator akan menyelipkan deskripsi tentang awan di langit Jakarta, seolah-olah alam pun menyimak percakapan tersebut. Ini adalah cara narator untuk mengundang pembaca agar tidak hanya memahami kata-kata, tetapi juga merasakan atmosfer dan konteks di baliknya.
Narator juga berfungsi sebagai penerjemah di antara dua dunia: dunia ide Habermas yang abstrak dan dunia pengalaman Rajendra, Adhigama, dan Sari yang konkret. Naratorlah yang mengikat teori sekularisasi dengan realitas perang Gaza di TikTok, dan genealogi dengan keris pusaka Adhigama. Tanpa kehadiran narator yang aktif ini, “Universitas Pasca-Metafisika” akan terasa seperti sebuah jurnal filosofis yang kering. Sebaliknya, dengan narator dua dunia itu, “Universitas Pasca-Metafisika” menjadi sebuah alat edukasi yang kuat.
Dengan memadukan berbagai gaya bahasa, “Universitas Pasca-Metafisika” secara tidak langsung mengajarkan pembaca bagaimana cara berpikir tentang masalah-masalah kompleks. Ia mengajarkan, untuk memahami dunia pasca-metafisika, kita tidak bisa hanya mengandalkan logika, tetapi juga harus memiliki sensitivitas emosional dan kemampuan interpretasi yang kreatif. “Universitas Pasca-Metafisika” menolak pendekatan yang dogmatis dalam berfilsafat, dan sebaliknya, mendorong pembaca untuk menjadi penafsir yang aktif, yang siap melihat berbagai lapisan makna dalam setiap peristiwa.
Gaya bahasa yang digunakan penulis juga memiliki dimensi puitis yang mendalam. Frasa-frasa seperti "Di tengah keruntuhan makna, kami menyalakan api tafsir" atau "dermaga wacana" bukanlah sekadar kata-kata indah. Mereka adalah metafora yang kuat yang meringkas seluruh visi “Universitas Pasca-Metafisika”. Dermaga melambangkan sebuah tempat yang dinamis, tempat keberangkatan, bukan tempat akhir. Api tafsir melambangkan rasionalitas yang tidak mencari kebenaran mutlak, melainkan sebuah proses yang terus menyala. Penggunaan metafora ini membuat ide-ide filosofis menjadi lebih mudah diakses dan berkesan.
Narator juga menggarisbawahi pentingnya dialog sebagai metode utama filsafat. Ia secara halus menyoroti bagaimana setiap tokoh memiliki bahasa dan perspektif yang berbeda, dan bagaimana makna sejati hanya dapat muncul dari interaksi di antara mereka. Narator tidak memihak salah satu tokoh, tetapi menghargai setiap sudut pandang, mencerminkan ide dialogis Habermas.
Dengan demikian, gaya bahasa dan suara narator dalam “Universitas Pasca-Metafisika” adalah manifestasi dari hermeneutika pasca-metafisika itu sendiri. Cerita fiks ini mengajarkan, filsafat adalah sebuah proses menafsirkan yang tiada henti, dialog antara teori dan pengalaman, antara rasio dan perasaan, dan antara masa lalu dan masa depan.



Post a Comment