ARKANA~ Dalam Kerumunan adalah Neraka, dedemit tidak hanya muncul sebagai figur menakutkan, melainkan juga sebagai entitas simbolik yang berakar dalam memori sejarah dan budaya lokal. Salah satu makhluk gaib dalam novel adalah Ni Grenjeng—sosok yang tak sekadar mewakili dunia mistis, tapi juga menjadi penanda ketegangan antara ingatan dan amnesia kolektif. Untuk memahami kehadiran Ni Grenjeng secara lebih dalam, saya secara tidak langsung terpengaruh dengan tembang berbahasa Jawa (Dhedhemit ing Tanah Jawi) yang mengabadikan nama-nama dedemit di tanah Jawa.
Tembang berbahasa Jawa itu tidak hanya merupakan catatan sejarah negara-kerajaan tertentu tetapi juga merupakan narasi kosmologis dan mitologis yang membentuk cara pandang masyarakat Jawa terhadap dunia, kekuasaan, dan spiritualitas. Dalam tembang Jawa itu, kekuatan supranatural tidak terpisah dari dinamika sosial-politik, melainkan melekat erat sebagai bagian dari legitimasi dan disrupsi tatanan.
Ni Grenjeng dalam novel ini merepresentasikan entitas hibrida—antara arwah leluhur dan kekuatan liar yang tak terkendalikan yang menyusup ke tubuh para Kepala Desa. Ia tidak dilukiskan sebagai roh jahat yang harus dibasmi, melainkan sebagai penjaga batas antara dunia lama dan dunia baru. Seperti sosok-sosok dalam tembang dedemit, ia muncul di saat krisis untuk menguji kelayakan moral, politik, dan spiritual tokoh-tokoh manusia.
Dalam struktur cerita, Ni Grenjeng muncul ketika desa mengalami keretakan sosial dan spiritual. Ia bukan sebab dari kekacauan, tapi manifestasi dari kekacauan itu sendiri. Ini saya imajinasikan bahwa tokoh-tokoh gaib kerap muncul sebagai tanda tatanan sedang goyah. Keberadaan Ni Grenjeng atau dedemit lainnya justru membuka ruang kontemplasi: apa yang telah hilang dari kebijaksanaan lokal? Mengapa roh penjaga harus turun tangan?
Saya tidak menulis tembang dedemit dalam bentuk formal, meskipun awalnya saya menulis panjang tentang fiksi-dedemit dalam novel ini, tetapi akhirnya menghapus bagian itu dan memilih untuk menyerap logikanya ke dalam struktur narasi. Akibatnya, transisi antar bab dalam novel sering kali tidak linier dan sarat dengan tafsir. Ini menjadikan pembaca harus membaca tidak hanya dengan logika modern, tetapi juga dengan intuisi kultural.
Dedemit dalam novel ini bukan hantu dalam pengertian Barat. Mereka bukan sekadar entitas yang gentayangan karena belum tenang, tetapi juga simbol dari ketersambungan (atau keterputusan) antara generasi, sejarah dan masa kini. Ni Grenjeng adalah suara dari masa lalu yang menolak dilupakan, menuntut didengar.
Novel ini tidak jatuh dalam glorifikasi tradisi. Sebaliknya, ia menempatkan tradisi dalam ruang kritis—membuka kemungkinan untuk ditafsir ulang. Kehadiran Ni Grenjeng bukan ajakan kembali ke masa lalu, tetapi penanda bahwa masa lalu belum selesai. Ia adalah gugatan terhadap modernitas yang sering lupa pada akar-akar spiritual dan ekologisnya.
Yang paling mencolok adalah bagaimana novel ini membangun suasana. Bukan melalui jumpscare atau adegan mengerikan, tetapi lewat atmosfer—suara-suara lirih, bau tanah basah, dan senyap yang mengandung tekanan. Semua itu seolah memanggil kembali roh-roh dalam tembang tentang dedemit, yang tidak menakut-nakuti, melainkan mengingatkan.
Kerumunan adalah Neraka setidaknya merawat memori tentang dedemit sebagai simbol dari narasi yang tertindih dan berusaha bersuara melalui cerita. Dalam tafsir ini, sastra menjadi medium spiritual, bukan karena bicara tentang roh, tapi karena ia menghubungkan yang terputus.*



Post a Comment