ARKANA~ Dalam Kerumunan adalah Neraka, narasi tidak bergerak dalam satu dimensi realitas. Dunia novel ini dihuni oleh tiga ranah yang saling menyilang: Yang Magis, Yang Ilmiah, dan Yang Suci. Ketiganya tidak disajikan sebagai dikotomi yang harus dipilih satu di antara yang lain, melainkan sebagai spektrum pemahaman yang harus dipertemukan.
Novel ini menolak oposisi biner antara mitos dan rasionalitas, antara dedemit dan kebijakan publik, antara mantra dan musyawarah. Justru dalam pertemuan itulah makna dibentuk, dan harapan untuk pemulihan muncul.
Dunia Magis: Pengetahuan Simbolik dan Tak Terucap
Kemunculan tokoh Penyihir (atau Pesulap biar tidak horor) dan simbol angka delapan dalam udara menunjukkan bahwa dunia ini dihuni oleh kekuatan simbolik yang tidak bisa dijelaskan oleh akal semata. Dunia magis bukan hanya tempat tinggal para dedemit, tapi juga wilayah makna yang dikodifikasi melalui mimpi, kartu tarot, dan legenda. Penyihir menyebut hukum korespondensi: seperti di atas, begitu pula di bawah—prinsip bahwa mikrokosmos manusia mencerminkan makrokosmos semesta.
Magis, dalam novel ini, bukan sekadar mistik. Ia adalah bahasa alternatif dari realitas yang tak bisa dijelaskan secara positivistik. Elemen seperti udara, api, air, dan tanah mewakili aspek-aspek kejiwaan dan sosial, seperti intuisi, tekad, empati, dan ketahanan.
Dunia Ilmiah: Rasionalitas dan Politik Komunitas
Namun Kerumunan adalah Neraka tidak tenggelam dalam romantisme magis. Ia juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana membangun desa, menyusun kebijakan, menghadapi pandemi, dan membangun infrastruktur. Mudra, Vanua, dan Ki Rajendra berkutat dengan realitas sosial-ekonomi yang kompleks: kerusakan lingkungan, konflik kepentingan, dan kebijakan yang mengabaikan akar budaya warga.
Di sini, ilmu pengetahuan bukan disingkirkan, melainkan disandingkan secara kritis. Rasionalitas tidak menjadi alat dominasi, tetapi diperiksa ulang: sejauh mana ia bisa benar-benar memahami masyarakat yang hidup bersama mitos dan roh?
Dunia Suci: Spiritualitas dan Kebermaknaan
Yang Suci dalam novel ini bukan hanya agama formal. Ia adalah rasa hormat terhadap roh leluhur, pengakuan terhadap kesucian alam, dan pemahaman bahwa hidup bersama memerlukan keterhubungan spiritual. Ritual pembersihan desa, dialog dengan roh, dan pengakuan dosa kolektif menjadi bagian dari liturgi sosial—praktik transenden yang tidak bisa diwakili sepenuhnya oleh bahasa kebijakan.
Vanua, yang awalnya skeptis, mulai memahami bahwa keterhubungan dengan dunia spiritual bukan hal yang irasional, tetapi bagian dari pengalaman manusia yang paling dalam: kerinduan akan harmoni, pengakuan terhadap keterbatasan, dan pengharapan pada kekuatan di luar diri.
Sintesis: The Magician sebagai Simbol Integratif
Tokoh Mudra, dalam perjumpaannya dengan Penyihir, akhirnya disebut sebagai The Magician. Ia bukan hanya tokoh yang punya kekuatan simbolik, tetapi juga pemimpin komunitas. Ia mampu menyatukan elemen magis (intuisi dan simbol), ilmiah (komunikasi dan rasionalitas), dan suci (pengakuan spiritual dan tanggung jawab kolektif).
Dengan tongkat di tangan dan kartu tarot di dada, Mudra menjadi representasi dari manusia yang menyatukan ketiga dunia itu dalam satu tubuh naratif. Ia bukan penyihir literal, melainkan pemikul makna yang sadar akan kompleksitas zaman dan keberagaman nalar dalam satu komunitas.
Jalan Tengah dari Tiga Dunia
Novel Kerumunan adalah Neraka menunjukkan bahwa pemulihan tidak datang dari salah satu dunia saja. Tidak cukup hanya dengan sihir, tidak cukup hanya dengan kebijakan, tidak cukup hanya dengan doa. Dunia butuh jembatan: tokoh seperti Mudra, ruang seperti altar, dan narasi seperti novel ini—yang tidak memilih satu jalan tunggal, tetapi menenun tiga dunia dalam satu harmoni.*



Post a Comment