-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Manusia Pasca-Metafisika


ARKANA~  Setelah universitas bertransformasi menjadi Universitas Pasca-Metafisika, narasi “Universitas Pasca-Metafisika” bergeser dari pergulatan individu ke potret sebuah generasi baru. Penulis mengakhiri kisah ini dengan adegan mahasiswa yang sibuk merekam konten filsafat untuk media sosial dan melukis mural Semar berdampingan dengan Habermas. Adegan ini bukanlah sekadar deskripsi, melainkan sebuah pernyataan tentang jenis manusia baru yang lahir dari institusi tersebut. Manusia pasca-metafisika versi Indonesia, yang tidak lagi memandang filsafat sebagai sebuah disiplin yang terisolasi di menara gading, melainkan sebagai sebuah praksis yang hidup, yang berdialog dengan kearifan lokal dan budaya digital secara simultan.

Dalam dokumen Habermas, pemikiran pasca-metafisika dipandang sebagai sebuah suara dari rasionalitas universal yang harus berhadapan dengan partikularisme dari tradisi religius dan budaya lainnya dalam sebuah masyarakat dunia multikultural (multikulturellen Weltgesellschaft). “Universitas Pasca-Metafisika” menyajikan sebuah model konkret dari dialog antarbudaya tersebut. Mural Semar berdampingan dengan Habermas adalah visualisasi yang sempurna dari proyek filosofis ini. Semar melambangkan kearifan lokal yang mendalam, yang berakar pada tradisi Jawa dan memiliki dimensi sakral yang kuat. Habermas melambangkan rasionalitas modern yang universal, yang berakar pada tradisi Pencerahan Eropa. Mural bukan sekadar hiasan, melainkan sebuah deklarasi bahwa kedua tradisi ini tidak hanya bisa hidup berdampingan, tetapi juga dapat saling berdialog dan memperkaya satu sama lain.

Karakter mahasiswa yang membuat konten filsafat di media sosial adalah perwujudan dari intelektual digital yang baru. Mereka adalah generasi yang tidak lagi hanya membaca dan merenung, tetapi juga menciptakan, menafsirkan, dan menyebarkan ide-ide filosofis dalam format yang relevan dengan zaman. Ini adalah sebuah praksis yang melampaui diskusi di dalam aula simposium yang steril. Mereka membawa filsafat ke jalanan digital, ke ruang publik yang paling ramai dan paling retak. Penulis menunjukkan bahwa wacana tidak lagi hanya terjadi di dalam buku atau jurnal, tetapi juga di dalam konten-konten yang dikonsumsi dengan cepat di layar.

“Universitas Pasca-Metafisika” menyajikan manusia pasca-metafisika sebagai sosok yang ambivalen dan penuh tantangan. Dialog antara Semar dan Habermas tidaklah mudah. Rasionalitas Habermas, yang universal, seringkali kesulitan memahami simbolisme dan spiritualitas yang partikular dari Semar. Sebaliknya, kearifan Semar, yang partikular, juga berisiko kehilangan maknanya jika hanya diartikulasikan dalam bahasa Habermas yang steril. Inilah yang menjadi tantangan besar bagi manusia pasca-metafisika di dalam kisah ini: bagaimana mereka dapat menjadi penerjemah di antara dua dunia, tanpa mengkhianati salah satunya?

Universitas Pasca-Metafisika bukan hanya sebuah tempat, tetapi sebuah visi tentang bagaimana pemikiran dapat bertahan dan berkembang di era digital. Manusia pasca-metafisika, yang diwakili oleh generasi baru ini, adalah agen perubahan yang akan mewujudkan visi tersebut. Mereka adalah generasi yang membawa kearifan Semar ke dalam rasionalitas Habermas, yang membawa tradisi ke dalam dunia digital, dan yang menyalakan pelita tafsir di tengah dunia yang retak.




0

Post a Comment