ARKANA~ Menulis Kerumunan adalah Neraka bukan sekadar perjalanan imajinatif, melainkan juga pengalaman etnografis. Bukan dalam pengertian akademik yang ketat, melainkan sebagai keterlibatan naratif yang mendalam dengan lanskap, budaya, dan psikologi sebuah komunitas desa. Novel ini lahir dari proses mendengarkan cerita, mencatat suasana, dan mengendapkan kegelisahan sosial yang hidup dalam ruang-ruang kecil dan nyaris tak terdengar.
Sebagaimana seorang etnografer, saya berupaya hadir di tengah masyarakat, tidak untuk menilai, tetapi untuk meresapi dan merekam. Tokoh-tokoh seperti Sari, Mudra, dan Vanua adalah hasil dari sintesis pengalaman hidup masyarakat desa yang pernah saya kunjungi, baik yang terlihat maupun yang hanya terbisik. Mereka bukan sekadar karakter, tetapi juga simpul dari banyak kisah lisan, trauma kolektif, dan harapan yang tersebar dalam kehidupan sehari-hari.
Fiksi sebagai Catatan Lapangan
Etnografi sastra yang digunakan dalam novel ini tidak berpretensi menawarkan data objektif. Sebaliknya, ia membuka ruang bagi truthfulness ketimbang truth: kebenaran pengalaman subjektif yang terasa lebih hidup daripada statistik. Sari yang mengubah cerita kuntilanak menjadi alegori tentang kesepian dan kehilangan, atau Mudra yang menjaga tradisi di tengah tekanan modernitas, adalah bentuk naratif dari catatan lapangan yang penuh lapisan emosi dan simbol.
Warung kopi, perapian rumah, hingga petilasan kuno, menjadi medan pengamatan etnografis. Di sanalah, saya merasakan ketakutan kolektif bisa diartikulasikan dalam bentuk dedemit, bagaimana kepemimpinan dinilai dari kearifan spiritual, dan bagaimana kekuasaan bisa berubah menjadi kekerasan simbolik bila tak diimbangi empati. Kebetulan pula saya tertarik dengan nama-nama dedemit yang diabadikan dalam barisan kata yang rapi pada tembang Jawa.
Melihat Desa sebagai Dunia Utuh
Dalam Kerumunan adalah Neraka, desa bukan latar belakang, melainkan dunia. Sebuah kosmos yang memiliki sistem epistemologi sendiri, relasi sosialnya sendiri, dan bahkan metafisikanya sendiri. Kehadiran tokoh-tokoh gaib seperti Ni Grenjeng, Nyi Lorong, dan Raja Batu bukan sekadar elemen horor, tetapi menjadi bagian dari struktur kepercayaan kolektif yang hidup dan dinamis.
Ketika Sari membentuk perpustakaan kecil di tengah krisis pangan, itu bukan sekadar tindakan heroik. Itu adalah simbol dari perjuangan mempertahankan logos di tengah mythos—upaya untuk menyeimbangkan pengetahuan dan keyakinan dalam satu tarikan napas. Mengingatkan saya pada seorang aktivis perempuan yang memilih pindah dari kota ke Desa untuk melancarkan kegiatan literasi sastra di suatu Desa yang didampinginya.
Etnografi sebagai Etika Menulis
Etnografi sastra menuntut saya untuk bersikap etis: tidak mengambil cerita, tetapi merawatnya. Tidak memanipulasi budaya, tetapi mengartikulasikan kompleksitasnya. Dalam setiap deskripsi rumah bambu, suara angin di antara pohon beringin, hingga bisikan arwah di petilasan, saya berusaha menjaga keutuhan pengalaman lokal tanpa menjadikannya eksotik.
Kisah Vanua yang kembali ke desa bukan sekadar narasi individu yang kembali ke akar. Itu adalah metafora dari saya agar Vanua selalu kangen untuk kembali ke ruang asalnya, tidak hanya untuk mencatat, tetapi juga untuk mendengarkan, merayakan, dan bertanya kembali pada dirinya sendiri: apa artinya menjadi bagian dari desa?
Sastra sebagai Ziarah
Menulis desa berarti menulis dunia. Setiap dialog adalah tapak sejarah, setiap hantu adalah ingatan kolektif, dan setiap kerumunan adalah medan refleksi sosial. Dengan etnografi sastra, saya menziarahi Desa sebagai kampung halaman—tidak untuk mengabadikan masa lalu, tetapi untuk menggali kemungkinan masa depan.*



Post a Comment