-->
BWlBduTUUim65BmNoRNRwZwviGLcUft1snoGQp4W

Search This Blog

Bookmark

Membaca Zahwa dari Dalam

ARKANA~ Membaca Zahwa sebagai tokoh utama dalam Hipnosis Arkana berarti menyelami lapisan-lapisan naratif yang bergerak antara kesadaran dan ketidaksadaran, antara kata dan keheningan. Zahwa bukan hanya karakter yang menjalani plot. Ia adalah teks itu sendiri yang menuliskan dirinya seiring ia membacakan ulang tubuh, trauma, dan harapannya melalui sesi-sesi hipnosis. Dalam tulisan ini, kita mencoba membaca Zahwa bukan dari luar, tapi dari dalam: sebagai bahasa yang sedang mencari bentuknya.

Narasi Zahwa disusun dalam format memoar reflektif, yang memungkinkan pembaca masuk ke dalam pikirannya secara langsung. Gaya ini memperkuat efek hipnosis karena tidak ada jarak antara narator dan pengalaman. Ia tidak hanya bercerita, tetapi membawa pembaca mengalami kembali kejadian yang telah dan sedang berlangsung secara simultan. Dalam pendekatan ini, narasi menjadi medan terapeutik itu sendiri.

Dari perspektif sastra, Zahwa berperan sebagai tokoh liminal—berada di ambang transformasi. Ia tidak lagi sama seperti sebelum memasuki Arkana, tetapi juga belum tahu pasti siapa dirinya yang akan lahir setelah 21 hari. Liminalitas ini memberi ruang bagi pembaca untuk memproyeksikan kegelisahan eksistensial mereka sendiri ke dalam tubuh naratif Zahwa. Ia menjadi cermin dan kanvas sekaligus.

Simbolisme sangat kuat dalam narasi Zahwa. Ia berbicara tentang tanah, pohon, emas, air, dan cahaya bukan hanya sebagai metafora, tetapi sebagai peristiwa konkret dalam kesadarannya. Setiap simbol membawa resonansi batin tertentu yang membuka pintu tafsir lebih dalam. Sebagai contoh, ketika ia menuliskan tentang "pohon, tanah, akar, tagihan, dan rasa syukur," kita dapat membaca itu sebagai pengalaman tubuh yang kembali merasakan pijakan, rasa memiliki, dan koneksi spiritual dengan bumi sebagai ibu yang memeluk.

Zahwa juga menggunakan bahasa yang sangat tubuh. Ia jarang bicara tentang konsep, tetapi lebih sering menggunakan rasa. "Ada yang berat di dada," "tanganku gemetar "—semua ini adalah cara sastra untuk menjadikan tubuh sebagai teks utama. Dalam psikologi, ini bersesuaian dengan pendekatan somatik, yang mana tubuh menyimpan memori trauma dan sekaligus potensi penyembuhan.

Menariknya, Zahwa tidak banyak menyebut masa lalu secara naratif, tetapi ia membiarkan trauma itu berbicara lewat simbol dan sensasi. Ini menjadikan narasi Zahwa sebagai bentuk penulisan ulang yang bukan linier, tetapi spiral: ia berputar dan berulang, namun setiap pengulangan membawa makna yang lebih dalam. Ini menciptakan efek pembacaan yang tidak pernah benar-benar selesai.

Bahasa Zahwa tidak mencoba menjelaskan, tetapi merasakan. Ia jarang menyalahkan, bahkan ketika ia sedang marah atau sedih. Ini menjadikan narasinya sebagai ruang yang sangat lembut untuk didekati. Pembaca tidak merasa dihakimi, tapi justru dipersilakan untuk duduk bersama rasa sakit. Di sinilah letak kekuatan narasi ini sebagai teks penyembuhan.

Secara struktural, Zahwa menulis dalam fragmen-fragmen pendek. Setiap hari adalah bab, dan setiap bab berisi pengalaman yang sangat spesifik. Ini menciptakan efek meditatif bagi pembaca. Seperti sedang membaca jurnal harian yang tidak dibuat-buat. Kesan ini memperkuat pengalaman hipnosis yang menjadi inti dari novel. Fragmen-fragmen itu tidak harus saling menjelaskan, tetapi bersama-sama menciptakan kesatuan atmosfer.

Kita juga bisa membaca Zahwa sebagai representasi dari perempuan yang mencoba menyembuhkan diri dari luka sistemik. Ia bukan hanya terluka oleh relasi pribadi, tetapi juga oleh struktur sosial yang membungkam tubuh dan perasaannya. Namun, alih-alih menjadi teks perlawanan yang frontal, Zahwa menawarkan jalan penyembuhan lewat kelembutan, lewat kehadiran, dan lewat praktik keseharian. Ia menyelundupkan revolusi batin dalam bentuk doa yang dibisikkan.

Membaca Zahwa dari dalam berarti juga membaca kemungkinan sastra sebagai ruang transformatif. Narasi menjadi lebih dari sekadar cerita; ia menjadi napas, tubuh, dan getaran. Zahwa tidak sedang memohon dipahami. Ia sedang berjalan pelan, dan kita diajak berjalan bersamanya—bukan untuk tahu, tetapi untuk menjadi.*


0

Post a Comment